Sing Penting Macul

https://images.app.goo.gl/tspitPi6wJVuvD2t7

Tahun 2016, ada sebuah program wisata keluarga dari tempat kerja istri saya. Sabtu pagi, kami pun berangkat menuju meeting poin yang telah ditentukan. Segala sesuatunya telah dipersiapkan oleh pihak kantor, mulai dari sebuah tempat peristirahatan dengan ukuran yang sengaja disesuaikan dengan banyaknya anggota keluarga, hingga bagaimana perjamuan makan dan juga tiket masuk ke sebuah tempat wisata di daerah pegunungan yang asri.

Hari yang kami lalui sungguh indah, karena semua kejadian dan peristiwa memang telah dilukis oleh Sang Maha Karya, Ia benar-benar melukiskanNya dengan sangat indah, bak serasa saya tak perlu lagi bingung mencari surgaNya.

Semalam telah berlalu, saya beserta seluruh keluarga yang terlibat dalam dialektika acara itu pun membuka mata, suasana pagi hari terasa segar, sambil menghirup kesejukan alami yang dikirimkan Allah kepada hambaNya melalui makhluk-makhlukNya yang tak pernah putus bertasbih kepadaNya.

Jam sepuluh pagi kami semua beranjak menuju sebuah tempat kapitalis yang telah disediakan di kota tersebut, dengan antusiasnya kaum hawa semburat memasang mata dan lirikan tajam pada tiap-tiap benda kapital, yah memang begitulah kaum hawa dan cukup bisa dimaklumi.

Saya yang saat itu berada dalam kejenuhan tingkat dewa, mencoba berpamitan keluar agar dapat menikmati seduhan secangkir kopi dan juga hisapan rokok. Dari arah parkir, saya memerhatikan lelaki tua di seberang jalan yang sedang duduk sendiri menunggui lapaknya yang kecil.

Kuhampiri pak tua itu sembari meminjam korek api untuk menyalakan rokok yang telah saya siapkan. Saya mencoba menyapanya dengan basa basi menggunakan bahasa Jawa yang masih jauh dari kata standart, menanyakan  nama dan tempat tinggal beliau. Sebut saja namanya Pak Giman, tinggal di sekitar daerah itu. Beliau tiap hari mangkal dan menjajakan bakso di sebuah tempat yang ramai dikerumuni konsep kapitalis modern. Dengan bermodalkan sebuah rombong kecil yang dibawa tiap hari dengan sepeda ontel butut, beliau selalu beristiqomah tiap hari.

Setelah lumayan lama saya bercakap-cakap, saya pun memesan bakso Pak Giman, namun Pak Giman malah menyuruh saya ambil sendiri, ambil mangkuk sendiri, ambil kuah sendiri, dan ambil bakso sendiri.

Selesai makan, saya bermaksud membayar semua yang telah saya ambil, namun yang membuat saya terheran ialah, saya juga diminta menghitung sendiri. Beliau memberi patokan harga-harga, kemudian saya diminta menghitungnya sendiri.

Sontak langsung saya terkejut, kok ada manusia yang seperti ini. Setelah saya bayar semuanya, saya bertanya pada beliau, dan Pak Giman bilang bahwa beliau memang tidak bisa berhitung. Selama berjualan, beliau hanya pasrah, bahkan saat saya bertanya tentang penipuan serta kebohongan, beliau bilang, “Yo gak popo, Mas, pancen takdire” Setelah itu hanya selang beberapa detik, Allah memperlihatkan kebesarannya dengan mengirim orang-orang membeli dagangannya dengan cara yang sama persis dengan yang saya alami.

Dari kejadian itu saya bersyukur dan memuji Alloh atas apa yang telah terjadi dedepan mata saya.dengan keterbatasan pak Giman,pak Giman tetap istiqamah, berikhtiar, dan berdo’a kepada Allah

“Sing penting usaha, masalah hasil Ben Gusti Allah sing ngatur”, dan dengan Rahman serta RahimNya, Allah pun mengirimkan malaikat-malaikatNya untuk menjaga Pak Giman agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh keluarga Pak Giman.

 

Tlogo Oblek, 23 Mei 2021

Fajar Sampoerno(Cak Pitro)

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gres