Kok Cepet, Kiai!

https://images.app.goo.gl/bhBuxNpJtxsmpzgN7

Rabu sore saya berinisiatif mengajak istri dan anak perempuan saya yang masih berusia balita menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Bukan sekadar tamasya biasa melainkan untuk mencari dan me-restart ulang sinyal koneksi yang lebih cepat dari 4G agar bisa nyambung dengan Sang Pencipta.

Motor pun saya starter. Berbareng istri dan anak perempuan saya, motor mulai melaju. Jemari tangan saya memainkan pedal gas dan juga rem agar tetap stabil dalam perjalanan menuju tower pusat keberadaan dari pancaran sinyal. Sesampainya di sana, saya beserta istri langsung membeli pernak-pernik uba rampe untuk keperluan men-download file-file beserta koneksi yang berupa kopi, gorengan, dan lain sebagainya.

Malam itu adalah acara pengajian rutin Padhang Mbulan yang diselenggarakan di Menturo, Sumobito, Jombang, tempat Mbah Nun dibesarkan. Bertepatan dengan hari kelahiran Mbah Nun 68 tahun silam. Setelah menunggu kurang lebih 30 menitan, acara pun dimulai. Diawali dengan pelantunan istighfar, sholawat, serta hadiah Surat Al-Fatihah secara bersama-sama. Tak lama berselang, Mbah Nun datang dan langsung duduk di atas panggung yang tingginya tidak lebih dari satu meter. Beliau meminta kami semua-jamaah Padhang Mbulan-mengirimkan Fatihah lagi kepada salah satu Marja’ Maiyah yang sedang terbaring di rumah sakit, KH. Ahmad Muzammil. Sebagai Kiai NU tulen berdarah Madura, beliau kerap kali melontarkan kelakar guyonan khas pesantren di sela-sela maiyahan, yang jamaah maiyah pasti merasakan betul taste-nya. Sekian tahun terakhir, Kiai Muzammil sedang rajin membangun gerakan moral yang beliau namai Semut Khittah NU.

Kami semua pun ikhlas mendoakan agar penyakit Kiai Muzammil segera diangkat oleh Allah. Setelah itu, Mbah Nun menghibur hati kami semua bahwa kelak akan diberikan Kiai-Kiai Muzammil lainnya yang baru. Mungkin tiada yang tahu, bahwa perkataan Mbah Nun adalah sebuah isyarat yang tidak mudah ditangkap maksudnya.

Selesai acara, saya mengajak dulur-dulur Damar Kedhaton yang hadir ke pengajian Padhang Mbulan untuk nyangkruk bareng sambil melepas rasa kangen. Sekitar jam dua dini hari, kami semua bersepakat dan memutuskan untuk beranjak pulang ke rumah masing-masing. Saya beserta dulur-dulur Damar Kedhaton berjalan beriringan dalam perjalanan pulang ke Gresik.

Selama perjalanan pulang menuju ke Gresik, saya merasa ada ketidakberesan pada sepeda motor yang saya kendarai. Kemudi sepeda terasa oleng, terasa tidak nyaman bila dilanjutkan perjalanan. Saya merasakan ketidakberesan itu kurang lebih selama 30 menit. Sekitar jam setengah tiga dini hari, saya pun mencoba memeriksa penyebab dari rasa oleng tersebut. Ternyata ban belakang motor saya bocor. Sontak semua dulur yang ikut dalam iring-iringan perjalanan pulang, berhenti sejenak. Mereka memberikan rasa empati kepada saya. Saking besarnya empati yang mereka berikan, tak segan-segan mereka mau menemani saya untuk mencari tambal ban pada waktu dini hari. Setelah mencari ke sana ke sini, akhirnya saya temukan tempat tambal ban, tapi sayang, sudah tutup. Meskipun demikian, saya beserta dulur-dulur Damar Kedhaton mencoba untuk mengetuk pintu, berulangkali meski dengan suara yang agak lirih. Setelah cukup lama mengetuk pintu, akhirnya si tukang tambal ban tersebut bangun dan membukakan pintu. Saya pun meminta tolong kepada si tukang tambal ban tersebut agar berkenan menambal ban motor belakang saya yang bocor.

Di tengah pengerjaan penambalan ban yang sedang dilakukan oleh si tukang tambal ban, istri berkata kepada saya, bahwa ada rezeki di balik kejadian bocornya ban kali ini. Entah rezeki yang berupa apa, baik atau buruk, yang pasti hal tersebut adalah pemberian rezeki dari Allah. Bahkan kejadian bocornya ban ini pun dua kali berturut-turut sejak hari sebelumnya. Dini hari kemarin pun saya mengalami kejadian serupa, pada waktu yang sama pula; kejadian ban bocor pada waktu dini hari. Kejadian yang dini hari kemarin pun bisa dibilang cukup parah, karena saking parahnya hingga mengharuskan saya mengganti ban yang bagian dalam. Setelah istri saya bilang hal itu, sontak saya langsung berpikir, “Pertanda apakah ini?”

Beberapa menit kemudian, penambalan ban sepeda motor saya yang bocor telah diselesaikan. Sembari terngiang-ngiang di dalam benak kepala, saya terus mencoba memaknai tanda-tanda tersebut. Jam menunjukkan pukul tiga waktu dini hari, sepeda motor pun masih saya pacu dengan harapan semoga sesampai di rumah belum terdengar kumandang tarhim. Di tengah perjalanan saya memberhentikan laju sepeda motor. Saya yang biasanya jarang membuka HP di saat mengendarai sepeda motor, tidak tahu kenapa saat itu kok tiba-tiba ada rasa keingintahuan untuk melihat HP. Setelah memberhentikan sepeda motor, terlihat notifikasi pesan WhatsApp dari sebuah grup, kemudian saya membuka dan membacanya. Setelah membaca, antara percaya dan tidak percaya, terdapat sebuah kabar bahwa Kiai Muzammil, salah satu Marja’ Maiyah, panutan saya, telah berpulang ke rumah abadi.

Karena masih belum terima dan percaya atas kabar tersebut, beberapa teman pun saya hubungi pada saat itu juga, dengan harapan kabar itu tidaklah benar. Akan tetapi, apalah daya, kabar itu memang benar adanya. Sambil kembali melajukan sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah, saya mengirimkan Surat Al-Fatihah di dalam hati, yang tertuju khusus kepada beliau, Kiai Muzammil. Dalam hati saya bergumam,  “Kok cepet, Kiai! Kami semua, Jamaah Maiyah, khususnya saya sendiri benar-benar masih membutuhkan bimbingan dari panjenengan. Namun apalah daya, Allah lebih menyayangi panjenengan, dan saya pun yakin dengan seyakin-yakinnya panjenengan akan bertempat tinggal di peristirahatan abadi, Surga Illahi”

 

Tlogo Oblek, 27 Mei 2021

Oleh: Fajar Sampurno (Cak Pitro)

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik