Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #54 – Agustus -2021 “Rahmat”

Melahirkan rasa syukur di dalam benak, sesulit apapun situasinya, adalah sebuah keharusan, kecuali bagi yang tak mengimani janjiNya; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Syukur-syukur, upaya melahirkan, merawat dan mengembangbiakkan rasa syukur itu, didorong tak sekedar oleh nuansa kewajiban, namun berangkat dari kebahagiaan mencari, memunguti, sekecil apapun bibitnya.

Lantas, seberapa telaten kah kita menemu-kenali bibit syukur di tengah situasi kehidupan yang tampaknya sedang tidak mudah ini? Gelombang pandemi yang tak ada satupun dari kita tahu kapan akan usai, benar-benar semakin menjepit kehidupan kita dari segala sisi. Tahun lalu, kabar duka yang berseliweran di grup-grup WA, adalah tentang orang-orang yang mungkin nun jauh di sana. Belakangan, sejak muncul varian delta, kita dapati ucapan belasungkawa dihaturkan untuk orang-orang yang kita kenal. Bahkan melalui corong masjid dekat rumah, kini kerap terdengar suara yang didahului dengan kalimat “innaa lillahi….”.

Kamar rawat inap rumah sakit penuh. Tabung oksigen langka. Harga regulator melangit. Stok darah plasma konvalesen kurang. Banyak usaha gulung tikar. Demikian sederet judul berita yang acap kita jumpai, yang dibuat tak sekedar demi sensasi, namun benar sebagai kasunyatan yang sedang terjadi.

Baiklah dulur, mari kita intip kembali sebagian puzzle sebagai berikut :

Pertama, di suatu Tetes, Mbah Nun mencipratkan ilmu :

Terkadang Tuhan meletakkan rahmat-Nya di tempat-tempat yang sama sekali tidak menarik bagi manusia. Terkadang Tuhan menyembuyikan anugerah-Nya di balik momentum yang tak terduga oleh siapa pun. Terkadang Tuhan melakukan penyelamatan, memberikan rejeki, serta menjanjikan rahasia-rahasia, di belakang suatu kejadian yang seakan-akan bernama musibah atau kecelakaan.

Kedua, betapa menohok jiwa ketika Mbah Nun menyatakan bahwa seluruh penduduk bumi kini begitu sukar menerima cara pandang yang dipaparkan Rasulullah SAW ihwal tha’un ini :

“Zaman dulu tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,’” (HR Bukhari).

Ya, rahmat.

Sepertinya, oleh sebab keterbatasan cara pandang kita sajalah, hingga taburan rahmat yang dilimpahkan olehNya, tidak, atau belum kita sadari. Sedangkan dari 99 Asmaul Husna, ialah “Ar-Rahmaan” dan “Ar-Rahiim” yang Ia pilih meruangi basmalah. Mbah Nun menyebutkan, dua karakter itu adalah ikon primer adanya Allah. Kandungannya tidak hanya jaminan kasih sayang yang tak terbatas luasnya, tapi juga jaminan cinta yang tak terukur kedalamannya. Keutuhan jaminan itu bahkan ditegaskan dengan diulang di dalam Al-Faatihah.

Penelitian menyebutkan bahwa kata “Ar-Rahmaan” disebut di dalam Al-Qur’an lebih dari 100 kali, dan kata “Rahmat” disebut sebanyak 114 kali. Bahkan secara lebih luas dinyatakan bahwa nuansa lafadz Jamaliyah jumlahnya jauh lebih banyak daripada lafadz Jaliyah.

Dulur, berbekal kesungguhan niat untuk menyelami samudera ilmu memunguti hikmah demi menemukan setidaknya bahan-bahan agar kita kembali menyadari dan merasakan yang telah Allah limpahkan berupa “Rahmat”,  mari melingkar pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-54, pada :

 

Ahad, 01 Agustus 2021

Pukul 19.23 WIB

Di Rumah Kamituwa DK “Wak Syuaib”

Dsn. Geger, Ds. Iker-Iker Geger, Cerme, Gresik.