Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #55 – Agustus -2021 “Satu Badai Seribu Salam”

Pandemi yang menerpa dunia hampir dua tahun terakhir, yang belum ada satu pihak pun tahu kapan ia berakhir, telah menyerimpung kehidupan segenap penghuni bumi, lebih-lebih masyarakat lapis menengah ke bawah. Bak badai, ia datang secara tiba-tiba. Sendi-sendi ekonomi di rumah kita pun jadi ngilu-ngilu dibuatnya.

Sampeyan ngrasakke pisan ora, Lurs?

Tak melulu harus berskala lokal, nasional, atau bahkan global. Sebab ia datang tanpa lebih dulu berkabar, yang hadirnya serupa angin ribut dengan membawa akibat stabilitas diri dan atau keluarga jadi terancam atau bahkan hingga porak poranda, ia kita namai badai.

Nah, Sampeyan juga pernah ngalami kan, Lurs?

Oleh karena pengalaman adalah guru terbaik, maka bagaimana kalau selain belajar dari pengalaman sendiri, kita juga belajar pada pengalaman dulur lain, sekaligus menyediakan pengalaman diri untuk dipelajari oleh dulur yang lain? Soal bagaimana Sampeyan mengendalikan arah dan laju bahtera hingga akhirnya selamat dari amukan badai, barangkali memang adalah sesuatu yang unik. Tapi boleh jadi dari yang unik-unik itu dapat kita rumus-sarikan benang merah nilainya.

Nek porak poranda akibate ya gak slamet iku jenenge, Cak!

Hei, betulkah demikian? Bukankah kita mewarisi tradisi tutur “blai slamet”, yang darinya kita dididik untuk mengenali bahwa masih saja ada yang bisa disyukuri meski sedang tertimpa celaka. Di Maiyah kita juga dilatih untuk terhindar dari 3C, yang dengan bekal itu bisa kita kuak bentangan – nuansa – dimensi – lapisan dari kata “selamat”.

Dengan elaborasi makna “selamat” yang merentang itulah, setidaknya kita menguat-nguatkan husnudzon dan harapan, bahwa Allah tetap setia menyediakan seribu salam untuk tiap satu badai yang mendatangi kita. Seraya menguji kelayakan diri dalam berhusnudzon, dan mencari-cari cara menggapai setidaknya satu dari seribu opsi selamat itu, kita terus senantiasa memasang radar untuk menangkap pantulan sholawat Alfu Salam.

Dulur, mari melingkar pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-55, pada :

Selasa, 31 Agustus 2021

Pukul 19.23 WIB

Di komplek Makam Condrodipo 

Jl. Mayjend Sungkono, Klangonan, KembanganKec. Kebomas, Gresik