Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #56 – September -2021 “Ketidaktahuan”

Bahwa pada mulanya manusia memang tidak tahu apa-apa, sampai kemudian Yang Maha Mengetahui berkenan mencipratkan pengetahuan tentang nama-nama benda, dan karena itu lalu malaikat menyadari kelebihan manusia hingga ia pantas menjadi khalifah di muka bumi. Demikian sepenggal adegan yang terekam di kitab suci, demi menggambarkan keunggulan komparatif manusia vis a vis malaikat.

Di bagian lain dari kitab suci, Tuhan juga menjanjikan akan meninggikan derajat orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Acap kali dijumpai pula, ayat yang menyuratkan kata “ketahuilah…” sebagai pembukanya. Atau ayat lain yang berupa amaran Tuhan dengan kalimat penutup “…yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. Jelas sudah bahwa tidaklah sama posisi antara hamba yang mengetahui dengan hamba yang tidak mengetahui. Kekasih-Nya yang utama, teladan segenap umat manusia, bahkan pernah menyabdakan bahwa menuntut ilmu itu wajib adanya.

Jamak diakui bahwa hasrat untuk tahu memang sudah inheren ada pada tiap diri manusia. Karena itu ikhtiar untuk mencari asupan pengetahuan yang ditempuh oleh setiap insan adalah hal yang niscaya. Sedari bayi hingga dewasa gelagat manusia menunjukkan gejala semacam ini. Tanpa perlu didorong-dorong, sejatinya upaya mencari tahu ihwal apapun yang terkait dengan kehidupannya sebagai manusia, adalah soal naluriah belaka.

Sebagai makhluk yang tidak hanya terdiri dari jasad wadag – yang menandai manusia tidak cukup hanya mengonsumsi makanan jasmani tapi juga asupan mental dan rohaninya – manusia pun terus bertumbuh seiring dengan akumulasi pengetahuan yang ia rengkuh. Capaian komunitas manusia dalam membangun kebudayaan dan peradaban, dapat dilihat pada catatan sejarah.

Namun, karena umur yang terbatas, manusia tak punya cukup waktu untuk menguak seluruh pengetahuan yang mungkin perlu disibak. Jangankan yang jauh-jauh, untuk memahami apa yang ada pada dan di dalam dirinya saja, manusia tak sepenuhnya tuntas. Status ketidaktahuan, tampaknya mustahil sirna dari diri manusia. Para bijak menandaskan pesan, semakin manusia menempuh upaya mencari tahu, ia akan kian menyadari betapa masih banyak hal-hal yang ia belum ketahui.

Mbah Nun pun kerap membekali kita untuk menghikmahi ketidaktahuan secara bijak. Pada koordinat tertentu, bahkan ketidaktahuan perlu disyukuri dan dirawat. Betapa repotnya hidup kita jika kita tahu secara persis isi hati orang-orang terdekat tentang kita.

Dulur, lantas bagaimanakah seharusnya kita memposisikan status ketidaktahuan yang sedang kita sandang? Sikap dan tindakan seperti apa sajakah yang selayaknya ditempuh setelah kita menyadari ketidaktahuan? Bagaimanakah sebaiknya kita menempatkan diri ketika kita tahu tentang satu hal, di hadapan sesama manusia, atau di hadapan Tuhan? Atau, Sampeyan punya perspektif dan nuansa pandang yang indah ihwal ketidaktahuan, yang pasti akan terasa nikmat untuk dikendurikan bersama? Baiklah, mari melingkar kembali pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-56, pada :

Kamis, 30 September 2021
Pukul 19.23 WIB
Di Cindelaras Cafe & Resto
Ds. Siwalan, Panceng, Gresik.