Kerangka Kebahagiaan

Sumber : hidup-bahagia

Seperti biasa. Hari minggu adalah hari bersantai. Tidur saja seharian karena badan terasa pegal. Cucian di keranjang bak Gunung Lawu, juga peralatan di dapur saling diam acuh tak acuh. Serasa tidak ada yang mau memesrai sebab rasa malas sudah merasuki pikiran dan hati.

Hari itu sangat disayangkan, yang bisa dilakukan hanya main HP serta streamingan. Dompet dibuka sudah mirip peci Bung Karno ; isinya audah terbang sama burung yang melintas di awan.

Patmo sedih merasakan hari itu karena malas. Ingin bergembira tapi lupa caranya. Kemudian dia pilih untuk streamingan. Streaming Padhang mBulan edisi Oktober ini belum ia selesaikan, akhirnya dimulai lagi sama Patmo di hari minggu. Sambil berharap ada pelangi yang mengisi hati dan pikiran.

Mbah Nun mengawali diskusi malam itu dengan bertanya kepada jamaah. Tentang kebahagiaan, jamaah maiyah harus bisa menemukan kesadaran kebahagiaan dari dalam dirinya.

Pemaknaan itu diperluas oleh Mbah Nun untuk menjelaskan asal-muasal dan arti kebahagiaan. Muncullah istilah tasa’ud (huruf ‘ain bertasydid) ; kebahagiaan yang tumbuh akibat upaya conditioning dari dalam kesadaran manusia. Bahagia atau tidak bahagia, tidak ditentukan apalagi dipengaruhi oleh sesuatu dari luar diri manusia. Tidak ada alasan untuk tidak bahagia selama kita mampu menemukannya dari lubuk terdalam kesadaran kita.

Patmo yang dari tadi mengulang-ulang pemaparan Mbah Nun, mencoba mengaktifkan sinyal kebahagiaan dari dalam dirinya. Toh memang kebahagian itu tak harus dari luar diri kita. Misal tentang memiliki uang banyak, mobil, rumah megah, pun kekuasaan meluas. Tapi Simbah menekankan jamaah maiyah agar mengaktifkan kesadaran dari dalam dirinya untuk menemukan kebahagiaan tersebut. Dari dalam diri!!

Sempat jengkel Patmo dengan hal itu, namun mencoba dirasa biasa saja. Nah mengolah kejengkelan menjadi hal biasa saja itu sudah merupakan kerangka kebahagiaan, tinggal menemukan golnya saja agar hati Patmo bisa senang walau tak punya uang.

Sore itu Patmo ada kewajiban ke pondok. Dia kangen dengan Abahnya. Ingin melanjutkan ngaji lagi. Merasa Patmo adalah teman baik di hadapan teman-teman emperan-nya ia menghubungi karibnya untuk minta transfer dana. Tak banyak minimal yang dibutuhkan, cukup untuk transpor dan mampir di warung kopi.

Mampirlah dia ke ATM, mengambil uang yang telah ditransfer karibnya itu. Diambilah uang itu dari mesin ATM sembari mengambil struknya.

Sebelum beranjak, terkejutlah Patmo melihat saldo pada struknya. Dia melihat nominal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dia mengira apakah karibnya itu kerabat malaikat Mikail. Saldo pada struk tersebut sebesar Rp 7.000.000,-, sedang Patmo minta transfer cukup 100.000 saja.

Ingin dilakukan pengambilan lagi. Belum selesai memencet nomor pin. Lubang struk dari ATM tersebut mengeluarkan struk lagi. Diambilnya struk itu kemudian dilihatnya dengan seksama. mata Patmo terbelalak, untung tidak sampai semaput didepan mesin ATM. Saldo yang tertera pada struk itu hanya Rp 27.000,-. Patmo menahan tawa juga tangis. Dia tersadar bahwa “Gusti Allah nek nggawé guyon kok nyenengke“.

Allahumma sholli ala Muhammad.

Lontar Surabaya, 27 Oktober 2021

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.