Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #60 – Januari -2022 ”Munzalan Mubarokan”

Lisan kita rasanya telah karib dengan selarik doa ;“Robbi anzilnii munzalan mubaarokan wa anta khoirul munziliin”. Kalimat permohonan Nabi Nuh yang direkam Al Qur’an di Surat Al Mu’minun ayat 29 itu menjadi salah satu bacaan yang lazim kita lantunkan bersama-sama. Biasanya ia kita wiridkan di tengah-tengah antara wirid “Allahumma dholamuna”  dan wirid “khoirul waritsin”.

Kita sama-sama telah meyakini bahwa terdapat – sebutlah – getaran, atau gelombang, atau energi tertentu seiring dengan wirid yang sehari-hari kita akrabi. Aliran getaran yang –  disadari atau tidak –, tampaknya berbanding lurus dengan kadar konsistensi berikut kualitas penghayatan atas apa yang meluncur di lisan.

Kita pun telah sama-sama percaya bahwa, tanpa mengerti benar arti harfiahnya pun, asalkan berpijak pada titik berangkat huznudhon dan madhep manteb mengiba hanya pada-Nya, niscaya ­kalimat-kalimat yang kita wiridkan itu akan membawa makna, alias bukan jenis perkataan yang sia-sia belaka.

Maka, tentu juga ada baiknya jika kemudian kita mendorong diri untuk melakukan tadabbur atasnya. Apalagi, jelas-jelas ia termaktub pada teks kitab suci.

Konteks ruang dan waktu ketika Tuhan mengajarkan doa itu pada Nabi Nuh, tampaknya bisa menjadi salah satu pintu tadabbur yang perlu kita masuki. Dalam perjalanan bahtera di tengah terjangan ombak badai banjir bandang maha dahsyat, Nabi Nuh melangitkan doa memohon agar ia bersama pengikutnya beserta hewan-hewan yang telah ia ajak serta, diperkenankan Allah mendaratkan perahunya di tempat yang diberkati.

Sementara itu, Syaikh Nursamad Kamba pernah menuliskan esai bertajuk “Maiyah dan Perahu Nuh”. Secara lembut nan implisit Syaikh Kamba seolah mencandra perjalanan jamaah Maiyah ibarat bahtera Nabi Nuh. Dengan tawaran perspektif yang lebih aktual, Syaikh Kamba melihat terjangan “ombak badai banjir bandang” yang hadir era kini berwajah dan memiliki daya rusak yang tak sekadar fisik.

Syaikh Kamba menuliskan:

“Gedung-gedung yang runtuh, pohon-pohon yang tumbang, sawah ladang yang rusak, kebun-kebun dan taman-taman yang berantakan, rumah-rumah runtuh-rantah dan lain sebagainya itu semua adalah mudah untuk menemukan gantinya. Yang tak tergantikan adalah jika manusianya yang rusak dan hancur”

Maka menjadi relevan bagi kita untuk mengajukan pertanyaan pada diri, baik diri individu maupun diri komunitas. Apaka kabar perahumu? Apa kabar perahu keluargamu? Apa kabar perahu simpul maiyahmu? Manzilah-manzilah yang kau singgahi, apakah masih kau tenagai dengan ikhtiar menerjemahkan rahmatNya menjadi berkah?

Dulur, mari melingkar kembali pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-60, pada :

Selasa, 25 Januari 2022

Pukul 19.23 WIB

Di Pondok Pesantren Al Hikmah

Ds. Gadingwatu, Kec. Menganti, Kab. Gresik