Tempat Barokah

sumber : https://images.app.goo.gl/GRmKWw4spcBdNETM8

5 Januari 2020, Lingkar Maiyah Damar Kedhaton mengadakan acara rutin tiap bulan, yakni merefresh hati dan pikiran dengan membaca wirid beserta sholawat. Tak hanya itu, acara juga diselingi senda gurau, saling berbagi pandangan guna memperluas pemahaman.

Malam itu saya memperoleh beberapa poin baru dari sebuah tema “Munzalan Mubarokan”. Kata tersebut acapkali dilantunkan oleh Jamaah Maiyah Damar Kedhaton saat berlangsungnya ritual rutin wirid sholawat. Melantunkan wirid sholawat telah menjadi hal lazim bagi JMDK sebelum elaborasi tema dimulai. Sebagian jamaah mungkin belum cukup akrab dengan arti dan implementasi dari kata tersebut, apalagi saya yang tidak memiliki latar belakang sebagai santri pondok. Kata tersebut telah tertulis pada mushaf Al-Qur’an. Mengisahkan tentang Nabi Nuh yang baru saja turun dari kapal setelah sekian lama terombang-ambing oleh banjir bandang yang besar. Kisah Nabi Nuh tersebut memberikan sebuah pembelajaran, bahwa kapanpun, dan di manapun saat kita berada – atas kehendak Tuhan – beliau akan berusaha menemukan keberkahan dari Tuhan. Bahkan ketika dalam posisi yang mengkhawatirkan sekali pun, Nabi Nuh selalu memohon bimbingan-Nya agar dapat memperoleh keberkahan itu.

Lantas apa korelasi antara kisah Nabi Nuh dengan realita banjir media informasi yang sudah merajalela di era millenium ini?

Agaknya bisa kita sepakati bersama, bahwasanya implementasi nilai-nilai dari kisah Nabi Nuh terhadap kehidupan sekarang amatlah susah. Terkadang manusia ditempatkan di suatu tempat, kedudukan, jabatan, pekerjaan, dan banyak hal lainnya dalam kompleksitas kehidupan; kita seringkali menaruh rasa curiga dan cenderung suudzon kepada Allah. Kita merasa bahwa Allah tidak adil kepada diri kita. Tidak dapat saya pungkiri juga, bahwa banjir media informasi saat ini menerjang, dan meluluhlantakkan mindset cara berpikir saya. Saya membutuhkan kapal. Saya memerlukan perahu. Saya butuh sesuatu – tumpangan – yang dapat menyelamatkan, kendati hanya sekadar perahu getek pun, asalkan tidak membuat saya tenggelam dalam banjir itu.

Puja dan puji syukur hamdalah tetap tercurah dari diri saya pribadi. Saat ini, saya merasa ditempatkan, dan diperjalankan oleh Allah dalam Lingkar Maiyah Damar Kedhaton Gresik. Bagi saya, tempat ini merupakan sebuah perahu. Banyak keberkahan di dalamnya; dulur yang nyedulur; lingkungan baru yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Di sini saya diajak untuk selalu berlatih berhusnudzon kepada Sang Maha Pencipta.

Perlahan malam mulai berlalu dengan khidmat dan dibalut kemesraan. Canda dan tawa mewarnai pembahasan malam itu. Tanpa mengurangi rasa cinta kepada Kanjeng Nabi, di tengah pembahasan yang terjeda, kidung sholawat didendangkan bersama. Saking asyiknya hingga tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Semua segera bergegas mengakhiri kemesraan yang tercipta, agar tidak berlebihan hingga melahirkan rasa bosan.

Perjumpaan pada malam itu pun harus disudahi. Wawasan beserta cakrawala pengetahuan yang telah dielaborasi tidak harus terhenti, semoga segera dapat diimplementasikan agar Allah berkenan mencurahkan berkah-Nya. Aamiin.

Gresik 5 Februari 2022

Fajar Sampurno (Cak Pitro)

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik