Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #64 – Mei -2022 “NYUWUN PARING-PARING “

Pada ayat penghujung Surat As-Syarh, jelas termaktub pesan agar hanya kepada Allah-lah hendaknya kita berharap ; wa ilaa rabbika farghab. Pesan tersebut menjadi ending dari perintah di ayat sebelumnya ; fa idza faraghta fanshab (Jika kamu telah selesai (melakukan suatu pekerjaan), maka lakukanlah (pekerjaan yang lain) dengan sungguh-sungguh).

Secara substantif, Marja’ Maiyah Cak Fuad menyatakan ayat tersebut adalah tuntunan bagi kaum beriman untuk tidak membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu yang berguna. Selesainya satu pekerjaan tidak lantas membuat kita leha-leha, namun harus segera berlanjut melaksanakan aktivitas berguna yang lainnya. Bahkan, Mbah Nun pernah menandaskan definisi yang segar bagi kita ; istirahat adalah bergantinya pekerjaan / aktivitas.

Setelah menyibukkan diri dan tanpa lelah menjalani aktivitas berguna secara berkelanjutan, tetap saja kemudian wa ilaa rabbika farghab. Hanya kepada Allah kita berharap. Dengan spirit menikmati proses, dan prinsip sing penting nandur, soal hasil sepenuhnya kita berserah dan bersandar pada perkenan Allah.

Maka idiom mengemis kepada Allah, yang ketika di-krama inggil-kan menjadi Nyuwun Paring-Paring kepada Allah, adalah peneguhan komitmen tauhid kita bahwa memang hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Berwenang atas apapun pada diri dan hidup kita. Nyuwun Paring-Paring tidak lantas menjebak kita pada sikap fatalis ; gak usah ngapa-ngapain wong kabeh wis diatur Gusti Allah. Sikap fatalistik yang tidak lain hanyalah sekedar “memperalat” Allah sebagai tameng kemalasan kita.

Kita mensyukuri betapa limpahan ilmu tiada henti terus mengalir dari sumur Maiyah. Kita mengenal “bersungguh-sungguh” atau temenan sebagai makna shiddiq, dari sumur Maiyah. Kita memahami bahwa lantip adalah makna yang kompatibel dengan fathonah, pun dari sumur Maiyah. Derasnya beragam ilmu itu, menjadi bekal utama kita dalam bekerja, berkegiatan, menjalani kehidupan.

Dan dari sumur Maiyah pula kita dialiri cipratan-cipratan hikmah untuk kita mengarifi kehidupan. Wirid Hasbunallah, Wa Kafaa Billahi Robba, dan yang paling baru ialah tradisi Tawassulan, menjadi landasan kita bahwa setelah bersungguh-sungguh dan berikhtiar lantip dalam bertindak dan bekerja, tetap menjadi kesadaran utama bahwa semua itu kita kerjakan dalam kerangka Nyuwun Paring-Paring kepada Allah.

Dulur, seraya menikmati penghayatan atas rangkaian wirid dan sholawat pada Tawassulan, serta dengan penuh tulus menghaturkan Ya Lathif  untuk Mbah Nun, mari bermuwajjahah pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-64,  pada :

Senin, 23 Mei 2022

Pukul 20.23 WIB

Di Gunung Pegat, Makam Mbah Roomo

Dsn. Slempit, Ds. Slempit, Kec. Kedamean, Gresik