Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #67 – Agustus -2022 “MERDEKA TA?”

Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #67 – Agustus -2022 “MERDEKA TA?”

Kata Merdeka berasal dari bahasa Sanskerta: महर्द्धिक /maharddhika yang berarti kaya, sejahtera, dan kuat. Merdeka dalam bahasa Melayu dan Indonesia memiliki makna bebas, tidak bergantung, atau independen.
Diketahui, dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 terdapat beberapa tujuan untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya, diantaranya adalah Menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Tepat tujuh puluh tujuh tahun teks Proklamasi dibacakan dengan lantang oleh Sang Proklamator, yang diperdengarkan melalui radio serta disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok Nusantara. Pada hari itu, bangsa ini menyatakan kemerdekaan atas penjajahan yang telah dilakukan oleh bangsa asing selama bertahun-tahun.
Jika melihat dari kontur alam yang sangat subur dan termasuk negara yang mempunyai garis pantai terpanjang ketiga di dunia, seharusnya negara ini bisa menjadi negara yang makmur dan berdaulat terutama dalam bidang perikanan. Telah dibuktikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan yang berhasil membawa kinerja positif pada triwulan I tahun 2022. Neraca perdagangan produk perikanan mengalami surplus sebesar USD 1,39 miliar, sekaligus naik 21,78% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih mengimpor sebanyak 407.741,4 ton beras dan 2,1 juta ton garam di tahun 2021. Ditambah lagi, dalam mata uang pun negara ini masih tergantung dengan Dollar. Meski begitu, data tersebut masih sepersekian kecil dalam sektor perekonomian, belum lagi dalam sektor budaya dan politik. Seperti halnya dalam konsep TRISAKTI yang pernah dikumandangkan oleh Bung Karno. Jika melihat dari konsep di atas apakah negara ini benar-benar sudah merdeka seutuhnya?
Pada saat sinau bareng CNKK di kawasan Simpang Lima Gumul Kediri pada tanggal 15 Agustus 2022 yang lalu, Mbah Nun membuat perumpamaan negara ini sebagai beluluk, cengkir, degan, dan kelopo. Apakah Indonesia sudah sampai pada tahap kelopo? Atau masih tahap degan, cengkir, atau bahkan masih menjadi beluluk?
Jika memang sudah menjadi kelopo, apa yang harus kita lakukan sebagai rakyat dan sebagai manusia seutuhnya untuk menjaga kelopo ini. Sesuai dengan Hadist Nabi Mencintai Negara adalah bagian dari Iman, namun, jika negara ini masih menjadi degan, cengkir, atau bahkan masih menjadi beluluk, apakah yang harus kita lakukan sebagai warga negara untuk mengawalnya menjadi kelopo?
Untuk itu, mari kita bersama melingkar sinau bareng dalam rangka memperluas cakrawala pemikiran pada majlis ilmu Telulikuran yang akan kita laksanakan :

Sabtu, 20 Agustus 2022

Pukul 20.23 WIB

Di Taman Keluarga Siwalan

Ds. Siwalan, Kec. Panceng, Gresik