Mengulas Fenomena Kebetulan-Kebenaran dalam Keberlangsungan Damar Kedhaton Gresik

Beragam peristiwa lalu-lalang melintas di dalam kehidupan. Seolah-olah menjadi pertanda bahwa tidak ada hal di dunia ini yang bisa diatur atau direncanakan dengan sedemikian rupa. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri juga bahwa perencanaan memang diperlukan. Jika boleh disebut sebagai kewajiban, maka itu menjadi prioritas utama sebelum melangkah untuk berjalan ke depan lebih jauh, terlebih untuk mencapai tujuan agar terukur dan terarah.
Ambil contoh kasus penjual pentol keliling. Pada suatu hari tertentu kita sangat kepengen pentol. Akan tetapi, dalam seharian itu tidak ada tukang jual pentol satu pun yang melintas di dalam kampung. Pada hari berbeda, kita tidak sedang ada keinginan untuk membeli pentol. Namun faktanya, lebih dari lima tukang jual pentol keliling riwa-riwi menawarkan pentolnya di dalam kampung.
Merujuk tulisan Mbah Nun di laman website caknun.com dari buku berjudul “Tuhan Pun Berpuasa” yang diterbitkan oleh penerbit Zaituna, 1997 sebagai berikut:
“dalam situasi dan kejadian-kejadian lain dalam hidupmu, tentu sering engkau mengalami pertemuan atau kemelesetan pertemuan antara ‘kebutuhan’ dan ‘pemenuhan’. Biasanya engkau mengatakan bahwa peristiwa semacam itu bernama kebetulan.
Akan tetapi dalam Bahasa dan budaya komunikasi kita kebetulan’ itu dipahami sebagai sesuatu yang tidak disengaja Istilah inggrisnya accidently terjadi karena suatu kecelakaan.
Aku ingin mengatakan kepadamu bahwa kejadian semacam itu benar tidak sengaja. Artinya, engkau tidak bisa menyegaiaimya, tetapi Allahlah yang sengaja menciptakannya”
(Emha Ainun Nadjib, 1997).
Seperti halnya yang berlangsung dalam Simpul Maiyah Damar Kedhaton Gresik. Tidak sekali dua kali peristiwa kebetulan-kebetulan terjadi. Misalnya, tiap kali merayakan syukur dan kegembiraan pada momen ulang tahun selalu disertai dengan turunnya hujan.
“Enam kali Milad Damar Kedhaton masih selalu diparingi (diberi-red) hujan,” celetuk Cak Fauzi dalam grup whatsapp sesaat sebelum Majelis Ilmu Telulikuran edisi Milad ke-6 digelar.
Menariknya, para sedulur Maiyah Damar Kedhaton Gresik sudah niteni kejadian ini sejak lama dan menganggap ini sebagai hal yang biasa terjadi. Mungkin saking seringnya hingga muncul anggapan seperti itu. Namun, derasnya hujan tidak menyurutkan semangat mereka untuk hadir dan melingkar bersama dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-71 dengan mengangkat tema “Sakral” pada momen milad ke-6 tahun. Pelaksanaannya bertempat di Situs Giri Kedhaton, Jumat 9 Desember 2022.

Seperti yang tertuang dalam prolog, Sakral diartikan sebagai sesuatu yang suci, dianggap suci, atau dianggap memiliki keramat. Oleh karena sesuatu itu dianggap suci, maka bagi yang meyakininya, muncul perasaan dan kesadaran untuk memuliakan dan menghormati keberadaanya.
“Bener-bener sakral, bukan kebetulan. Milad ke-6 terjadi di edisi ke-71(7-1=6), di tanggal 9 bulan 12 (9-1-2=6), dan tahun 2022 (2+0+2+2=6). Hasilnya semuanya sama dengan 6. Adakah anda menemukan 6 yang lain??? Yang membuat diri anda lebih bersyukur dan manfaat? Selamat Milad ke-6 manteman DeKa,.. lop yu…,” jelas Cak Anis JM Damar Kedhaton asli Surabaya dalam tulisannya di grup WhatsApp menjelang bergulirnya telulikuran.
Usut punya usut, dalam proses perumusan tema pun tidak ada diskusi hingga membahas sedetail itu. Bahkan, pada saat sesi rembug tema yang berbarengan dengan Tawashshulan beberapa hari sebelumnya, munculnya ungkapan kata “Sakral” dari Pak Purwo yang kemudian disepakati bersama-sama di waktu injury time alias menjelang adzan subuh tiba. Pasalnya, berjam-jam sebelumnya hanya terfokus pada lainnya.
Menyoal tema “Sakral” jika dihubungkan dengan lokasi berlangsungnya Majelis Ilmu Telulikuran pada malam itu, tersimpan sebuah sejarah. Di mana tempat itu menjadi salah satu tempat cikal bakal lahirnya Damar Kedhaton.
Berikutnya, Pak Kris Adji AW sosok Budayawan, Sejarawan, dan Seniman asli Gresik mewedar ingatannya awal mula kelahiran Damar Kedhaton. Di mana, kata Kedhaton yang disematkan sebagai nama belakang, inspirasinya tidak terlepas dari pertemuan bebebera dulur di Situs Giri Kedhaton.
“Saya masih ingat, ketika DK didirikan. Ada pertemuan di Giri Kedhaton. Salah satu hasilnya adalah nama Kedhaton dipakai. Sementara, kalau kita melihat sejarah Sunan Giri, sebelum lahir pun banyak hal-hal sakral yang melekat pada diri beliau sampai akhir hayatnya,” terangnya.

Kemudian, Pak Kris menjelaskan panjang lebar peristiwa yang dialami oleh Kanjeng Sunan Giri semasa hidupnya. Sejak sebelum dilahirkan, lalu saat tiba kelahirannya yang kemudian dihanyutkan di samudera lepas. Selanjutnya ditemukan dan dirawat oleh Nyai Ageng Pinatih. Berlanjut pada kisah semasa masih nyantri di Kanjeng Sunan Ampel, hingga mendirikan kerajaan Giri Kedhaton. Semua diulas secara jangkep dengan gaya penuturan cerita khasnya yang mudah ditangkap dan dipahami.
Pada kesempatan tersebut, Kamituwa DK Wak Syuaib dengan pembawaannya yang santai mengajak jamaah seraya mengingat-ingat kembali awal kelahiran Damar Kedhaton di Gresik. Apa tujuan Damar Kedhaton? Kenapa ada Damar Kedhaton? Bagaimana sikap, langkah, pikiran yang harus ditempuh dari pemaknaan atas refleksi selama 6 tahun berjalan ini?
“Kebetulan momen ini adalah ulang tahun DK. Tempat yang kita gunakan melingkar saat ini, dulu sebagai awal lahirnya membuat paseduluran Maiyah. Kemudian diapakan dalam momentum kesakralan ini? Satu-satunya jalan ayo dirawat tali paseduluran. Ayo dirawat, minimal merawat paseduluran. Kejaba dulur e awak dewe sing tidak ada atau tidak hadir saat ini, aku yakin atine tetep ngantil Maiyah, ngantil Damar Kedhaton,” tandas dia.
Uniknya lagi, dalam pelaksanaan Milad kali ini sudah disepakati bahwa jamaah yang hadir membawa bekal kopi atau camilan secara mandiri. Bahkan tidak ada kesiapan khusus untuk memesan tumpeng yang selama ini tidak luput menjadi tradisi dalam mensyukuri bertambahnya usia Damar Kedhaton. Kebetulan pula, tanpa koordinasi sekalipun; satu tumpeng dipersembahkan oleh Pak Kris Adji dan satu tumpeng lainnya dipersembahkan dari salah satu dulur DK secara sukarela.
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, tinggal di Cerme