Tawashshsulan 70 Mbah Nun

Ranjau-ranjau sepanjang jalan

Beribu panah berhamburan

Letusan ledakan berurutan

Kami berlindung padaMu, Tuhan

 

(Lirik “Kuncine Swargo” – Kiai Kanjeng)

 

Tak kentara rupanya, tapi ancamannya nyata ada. Jika serampangan langkah kaki diayunkan, maka bersiaplah menerima celaka. Demikianlah, sepanjang perjalanan kehidupan, tersebar ranjau-ranjau yang bersiap menghancurkan penginjaknya.

Fakta-fakta keseharian yang mengemuka kian menunjukkan gejala tak segelombang, tak searah, dan tak setujuan dengan apa yang sejatinya harus dicita-citakan.  Pun dari arah atas, ribuan panah kepalsuan berhamburan menukik mengincar kepala dan dada. Tiada pilihan lain selain memohon perlindungan pada Tuhan.

Maka ikhtiar untuk selalu mengambil posisi mengemis, nyuwun paring-paring kepada Allah, adalah sebuah keniscayaan. Kesadaran untuk terus bersabar dan melipatgandakan kesabaran menjadi utamanya landasan.

Daya dorong sekaligus “pasangan” dari sabar ialah syukur. Telah beribu-ribu tetes hikmah Mbah Nun ajar-latihkan supaya terampil melahirkan syukur. Dan kebersyukuran itu kini sedang menemukan salah satu titik momentumnya ; 27 Mei, hari ketika beliau dilahirkan.

Beliaulah Ngai Ma Dodera, tempat burung-burung kecil berteduh dan membangun sarang di naungan kerindangannya. Mata kompas bagi zaman anak cucunya.

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton melingkar meneguhkan kesabaran, menggelar tawashshulan, menghaturkan kebersyukuran sebagai wujud ta’dzim, cinta, pun bakti teruntuk beliau Mbah Nun, pada :

 

Sabtu, 27 Mei 2023

Pukul 19.23 WIB

di kediaman Kamituwa Wak Syuaib

Ds. Iker-iker Geger, Kec. Cerme, Kab. Gresik