
Tuhanku
berdekatankah kita
sedang rasa teramat jauh
tapi berjauhankah kita
sedang rasa begini dekat
seperti langit dan warna biru
seperti sepi menyeru
Kekasih
Kau kandung aku
kukandung Engkau
seperti mengandung mimpi
terendam di kepala
namun sayup tak terhingga
hanya sunyi
mengajari kita
untuk
tak mendua
[Emha Ainun Nadjib]
Dengan begitu indah, melalui sajak yang diberi judul “5”, Mbah Nun membabar dialektika keintiman antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seolah menggambarkan sinyal rasa di benak hamba ibarat pendulum, yang senantiasa mengayun-ayun dari sisi merasa dekat ke sisi merasa jauh, pun sebaliknya, sepanjang perjalanan dan perjuangan hidupnya.
Sedangkan Tuhan telah menyatakan bahwa terhadap hamba-Nya sesungguhnya Ia dekat.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (AlBaqarah: 186)
Dan dengan penuh cinta, Tuhan telah pula menyediakan perangkat, metode, clue, baik melalui firman-Nya ataupun sabda rasul kekasih-Nya, tentang koordinat persilangan ruang, waktu, dan laku hamba, yang dengan itu si hamba kian mendekat dengan-Nya.
Salah satu yang masih lekat nuansanya ialah qurban. Di tengah mainstream keterpelesetan makna dari qurban menjadi korban atau victim, Mbah Nun dengan jeli membangunkan dengan tawaran cara pandang :
“Qurban adalah metodologi sosial untuk memperoleh sesuatu yang sebelumnya belum dekat kemudian menjadi lebih dekat”
Dulur, masih juga dalam rangkaian munajat penghaturan doa untuk kesembuhan Mbah Nun, mari melingkar kembali untuk menghayati ruang muhasabah menuju laku taqarrubdi Majelis Ilmu Telulikuran Edisi ke-78, dengan pintu sekaligus payung tema “Berdekatankah Kita”, pada :
Senin, 10 Juli2023
Pukul 19.23 WIB
Ds. Pacuh, Kec. Balongpanggang, Gresik