Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #80 – September 2023 ”Penawar Rindu”

Rindu kami ya Rasul tak sabar ingin bertemu

Dalam hidup sekejap ini

Ku junjung tinggi namamu

Dalam renungan ku teringat padamu

Selalu bergema sholawat untukmu

Tak terlupakan semua pengorbanan (pengabdian)

Di jalanmu yang menuju kebenaran

Bila waktuku datang hasratku di jalanmmu

Jalan yang selalu terang

Jalan lurus yang kutuju

Jalan lurus yang kutuju

Demikian penggalan lirik lagu berjudul Cinta Rasul yang disenandungkan oleh Sulis, penyanyi cilik genre “lagu religi” yang sangat populer di era tahun 2000an. Lagu tersebut menggambarkan semacam ekspresi kerinduan kepada Baginda Nabi Muhammad.

Belakangan ini, pembacaan sholawat kian digandrungi oleh sebagian besar masyarakat di Kabupaten Gresik. Bahkan, mayoritas kalangan pemuda menjadi inisiator atau penggagas kegiatan sholawatan, mulai tingkat RT, RW, Dusun, Desa, hingga Kecamatan.

Hal ini seolah-olah menggambarkan perasaan yang kuat, sebagai wujud cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Terlepas dari bagaimana cara mengekspresikannya; misalnya terpotret jelas banyak anak-anak kecil seusia SD hingga SMP, dengan semangat yang membara untuk hadir di acara sholawatan sambil membawa bendera-bendera besar. Layaknya suporter bola; antusias bernyanyi-teriak lantang demi mendukung tim kebanggaannya berlaga.

Fanatis sholawat? Atau cinta sholawat? Demikian dua pertanyaan retoris sebagai kunci pembuka untuk memaknai fenomena masyarakat yang menggandrungi sholawat.

Apakah ini semacam gejala kerinduan pada Kanjeng Nabi? Lantas, siapa yang berhak merindukan Kanjeng Nabi (kalangan santri? Berandalan? Abangan? Orang pinggiran? Orang pemegang kekuasaan?)

Kenapa kita perlu merindukan Kanjeng Nabi? Kapan kita harus membaca sholawat? Dan, bagaimana kita mengekspresikan sholawat tersebut?

Seiring dengan firman Allah surat Al-Anfal Ayat 33 yang artinya “Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan,”

Berangkat dari ayat di atas; jangan-jangan fenomena masyarakat yang menggandrungi sholawat adalah bagian dari rindu yang sedang mengisi lubang di dalam hati kita selama ini. Maka tak bisa dielak, gemuruh rindu pada yang sejati akan menjadi niscaya mengemuka dan mencari jalannya “Penawar Rindu”.

Dulur, dengan spirit terus berjalan dan terus belajar, dan tidak lupa akan kesadaran “Ihdinash Shirothol Mustaqiim” mari kita melingkar kembali pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi yang ke-80. Untuk mengupas tuntas tema “Penawar Rindu”, yang digelar pada :

Jum’at, 08 September 2023

Pukul 19.23 WIB

Di Taman Keluarga Siwalan

Ds. Siwalan, Kec. Panceng, Gresik