
Makin hari makin banyak saja pertanyaan sekaligus pernyataan yang berada di dalam benak pikiran saya. Setiap hari makin menggila dan menjadi-jadi! Saya bingung-pusing tujuh keliling. Apakah ini anugerah? Apakah ini tantangan? Atau malah bisa jadi ini cobaan? Lantas, jika ini sebuah anugerah, apa yang mesti saya lakukan? Jika ini adalah tantangan, saya harus bagaimana? Jika ini adalah cobaan, kira-kira kenapa dengan diri saya ini? Waallahu a’lam.
Lewat Tulisan Aku BerTuhan
tiba-tiba aku terbangun
di tengah hening yang begitu bising dan diselimuti oleh udara dingin yang tidak asing
mendadak kepalaku terhentak oleh suara-suara liar yang enggan beranjak
ialah embusan angin yang membawa terbangan angan yang masih kuingin.
lalu kupandangi cakrawala malam yang begitu luas
tampak bintang gemintang yang begitu gagah perkasa
langit tersenyum dengan cerah
menciptakan simfoni nada yang indah;
mewujud puisi dan kata-kata.
bukan penyair yang pandai beretorika,
aku hanya pengagum semesta kata
bukan pula Sastrawan yang pandai berkata-kata,
aku hanya pecundang yang diperbudak kata
yang sedang menikmati kebingungan di dalam gua pertapaan,
maka lewat tulisan, aku berTuhan
Febrian Kisworo, Puncak Gunung Lawu, 21 Agustus 2020.
Tulisan ini saya ketik pada Rabu dini hari, 23 Oktober 2024. Saya mengetik dengan laptop yang dipinjamkan oleh direktur sebuah perusahaan industri media tempat saya bekerja saat ini. Kantornya di Perumahan Pongangan Indah (PPI), Manyar, Gresik.
Setelah mengerjakan tugas dari kantor, di luar tugas kerja harian untuk mengirim berita, saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba memutar sebuah video berjudul “Demi Kepentingan Rakyat, Pragmatisme Diperlukan Dalam Bernegara” melalui kanal YouTube resmi Kenduri Cinta. Tidak ada tujuan lain selain belajar sebisa-bisanya, semampu-mampunya, seluang-luangnya kepada Mas Sabrang. Dalam video yang berdurasi sepanjang 18:06, saya hanya menyimak sebagian awal saja. Tepatnya mulai menit ke 0:00-4:17.
Sambil mendengar, saya juga mencoba untuk melakukan upaya transkrip poin-poin yang disampaikan oleh Mas Sabrang di sepanjang bagian menit awal dalam video tersebut. Yang saya garis bawahi adalah, pentingnya pendidikan dan menentukan tujuan dalam hidup. “Kenapa kita harus melakukan sesuatu? Kita nggak harus melakukan apapun, tapi faktanya kita melakukan sesuatu. Artinya, harus melakukan sesuatu baik dan benar itu muncul ketika ada tujuan. Ketika tidak ada tujuan, kamu nggak bisa ngomong jalan itu benar/jalan itu salah. Karena nggak ada tujuan,” kata Mas Sabrang mencoba memantik audiens Kenduri Cinta dalam video tersebut.
Pertanyaan itu bagi saya sangat mengena sekali, dan menampar begitu keras kepada diri saya pribadi. Kenapa kita harus melakukan sesuatu? Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka boleh juga sedikit diganti secara spesifik, Kenapa saya harus menulis/mencatat? Kira-kira seperti itu.
Lantas, bagaimana jawaban saya? Dulu, motivasi saya menulis/mencatat tidak lain karena tugas sekolah. Kemudian berkembang sebagai pelipur lara, peredam gelisah, pendengar segala keluh kesah. Sebut saja sebagai bagian lain dari melampiaskan perasaan. Tepat ketika menulis paragraf pembuka pertama tulisan ini, tiba-tiba saya teringat dengan salah satu puisi yang memang saya buat ketika berada di Puncak Gunung Lawu. Tiba-tiba saja saya ingin menulis sebuah puisi, juga tidak ada tujuan apapun. Atau mungkin, ada tujuan yang tidak saya sadari kenapa saya kok kober dan gelem menulis puisi di atas gunung. Mungkin, ini adalah bagian dari bentuk tujuan yang saya kehendaki, namun tidak saya sadari betul, yaitu melampiaskan perasaan yang tengah bergejolak dari dalam diri saya.
“Mengko lak eruh-eruh dhewe,” demikian idiom khas ala Cak Madrim yang belum sanggup untuk saya bedah, bagaimana penerapan konsepnya itu. Sepertinya, saya perlu sesering mungkin untuk merefleksikan diri. Saya perlu mewajibkan diri untuk belajar membaca diri sendiri. Minimal, apa yang saya lakukan berdasarkan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Atau jangan-jangan, apa yang saya lakukan ini, misalnya menulis tulisan ini, bukan berdasarkan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Apalagi sudah jam segini, bukankah lebih baik beristirahat saja, keesokan hari biar bugar dan bisa bekerja dengan segar. Atau jangan-jangan, tujuan saya menyusun tulisan ini tidak lain adalah semacam bentuk upaya untuk meluruskan sedikit demi sedikit benang ruwet yang berada di dalam benak pikiran kepala saya? Salah satunya mungkin melalui tulisan.
Saya sering mendengar kalimat ini – Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu – Kalimat ini sering saya dengar di berbagai kesempatan, baik itu di Maiyahan, atau pengajian kitab kuning ketika saya masih mondok di Njoso, dan di kesempatan lainnya. Secara terjemahan kurang lebih seperti begini, barangsiapa yang mengenali dirinya maka ia akan mengenali Tuhannya.
Bahkan, tidak jarang pula Mbah Nun sering menyampaikan beberapa clue-nya. Namun, hal ini makin menambah keruwetan di dalam benak pikiran saya. Beruntungnya, Mbah Nun sendiri juga telah berpesan, Wis gak usah dipikir nemen-nemen. Mantebno nang njero atimu, mengko Gusti Allah bakal ngatur kowe isok paham dhewe. Begitu lah kira-kira pesan Mbah Nun yang masih saya ingat. Berbicara soal paham, saya memang meyakini bahwa paham atau kepahaman adalah rezeki. Kalau belum diberi rezeki paham, mau bagaimana lagi? Setidaknya sudah ada langkah ikhtiar untuk menuju kepahaman itu.
Bsimillah, mengko lak eruh-eruh dhewe.
Rabu, 23 Oktober 2024
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, seorang bocah ingusan yang gemar riwa-riwi dan mencari inspirasi dari secangkir kopi