Tadabbur Kebon 241

sumber : https://images.app.goo.gl/dpoW9BYVtNwuiNpT9

Jadi sudahlah. Konsentrasikan perjuanganmu dan fokuskan pembelajaran hidupmu untuk menemukan presisi posisi menyerahmu kepada Allah. Semua yang sekarang menimpamu, alami saja. Imani saja. Nikmati saja. Supaya Allah mengajarimu bagaimana menikmati, cara menjadi nikmat, apa itu nikmat, di mana jalan nikmat. ‘Allamal insana ma lam ya’lam.

(Kebon 241 ; Online, in Between Lines, Beyond the Line)

Menukil dawuh Simbah dalam Kebon 241 di atas, aku mualai bertanya pada diriku sendiri. Apa selama ini aku belum menyerah atas apa yang terjadi pada diriku. Namun di sisi lain di mana kemampuan survival-ku. Daya juang, ketahanan mental, dan kemauan untuk mengalami, menjalani kejadian (keadaan) dalam keberlangsungan kehidupan. Ada semacam ketidakpuasan, apa aku harus menyerah padahal sudah dikarunia akal dan kecerdasan. Yang dapat diberdayakan dalam menghadapi semua problem. Kata “menyerah” yang bagaimana ini yang dimaksudkan. Usaha yang dilakukan bukankah implementasi dari akal. Yang merumuskan dan mencari jalan keluar dari problem yang ada. Mengaku kalah pada keadaan dunia, lari meninggalkan arena permainan itu sangat mengganggu. Apa itu arti menyerah?

Hmmmm, masih berkecamuk dalam hatiku. Atau jangan-jangan pemahamanku yang keliru. Kurang presisi dan akurat dalam mencari makna kata tersebut. Dalam kenyataan memang berat dan tak semudah dalam implementasi di lapangan. Rasa ego, pengakuan, biar terlihat, sebuat hijab yang berlapis dari pembelajaran Tuhan.

Satu batang kretek tersulut pada bibir yang kering. Keputusasaan, apatis merupakan proses menuju menyerah. Mungkin dengan hal itu menunjukkan sekaligus memberi pembelajaran bahwa kekuatan dan kepastian kejadaian tergantung kepada Tuhan. Lalu cara berkomunikasi dalam pembelajaran itu bagaimana?

Hal ini yang selalu mengganguku. Praduga, sangkaan, mulai liar di kepalaku. Apakah aku yang kurang teliti membaca surat yang tersirat. Yang tersebar dan terbentang di jagat raya ini. Atau isi kepala ku yang belum tepat menarasikan dunia. Yang melihat dunia sesuai apa yang aku pikirkan.

Meneguhkan hati atas apa yang dijamin oleh Tuhan. Sepintas hal ini begitu fundamental, namun dalam perjalanan hanya sebatas slogan dan setipis tisu. Mudah koyak, ambruk, bahkan sirna. Kondisi yang semakin kompleks dan silang sengkarut membuat keyakinan itu lambat laun menurun dan akhirnya memudar.

Secangkir kopi hitam menemaniku. Minumlah saja, jangan menghiraukan sekitar mu. Rasakan pekatnya serta aroma wanginya. Apa begitu ya jawabannya? Lakukan saja apa yang engkau pahami dan mengerti, jangan ikut-ikutan menentukan hasil. Hal itu bukan wilayahmu sebagai mahluk. Apa yang tersampaikan kepadamu lakukan saja. Namun juga jangan terlepas dari aturan, serta arah tujuannya. Mungkin disini peran akal yang mengatur dan menjaga jangan sampai keluar dari rel. Koridor-koridor yang telah disepakati tetap harus dijaga.

 

Kamis 24 Oktober 2024

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik