
Ekosistem, ya itulah keseimbangan yang harus dialami dunia ini.
Ada baik-buruk, ada kotor-bersih, ada hidup-mati, ada siang-malam, beserta lainnya. Seperti kata orang bijak “Matahari akan merelakan sinarnya meredup demi tercipta dan lahirnya malam hari”. Mungkin topik keseimbangan tidaklah menarik bagi Anda, karena penulis juga pernah menuliskan topik serupa, dengan judul “Kuda-kuda Keseimbangan” namun tertuang lagi di tulisan ini dengan versi lain.
Siklus atau rantai makanan harus tetap berlangsung meskipun kadang terasa kejam atau tidak sependapat dengan apa yang ada di pikiran. Seperti halnya proses rantai makanan pada umumnya:
Rumput dimakan oleh kelinci
Kelinci dimakan oleh ular
Ular dimakan oleh Elang
Elang meninggal menjadi bahan penyubur tanah.
Memang seolah-olah saling merugikan satu sama lainnya, namun hal tersebut haruslah terjadi supaya alam tetap berjalan pada garis keseimbangan, mungkin hal itulah yang membuat alam menjadi natural atau bisa sebut dengan takdir Tuhan.
Hemmm, ngomong kok ngawur saja!!! Takdir Tuhan?
Terus bagaimana dengan proses terjadinya kambing yang disembelih setiap tahun, dengan jumlah yang cukup banyak?
Kok kambing masih saja jumlahnya semakin banyak?!
Terus bagaimana dengan hewan-hewan yang tidak kita konsumsi atau sembelih secara massal, toh hewan-hewan itu juga punah dengan sendirinya?
Pasti pikiran Anda mumet kan?!
Semuanya itu takdir dan rahasia Tuhan, bolehlah kita pikirkan sesuai dengan kapasitas dan kualitas otak kita, jangan terlalu dipikirkan. Versi sahabat karibku, Cak Nanang ” Boleh berpikir asal jangan sampai kepikiran, karena semuanya yang berlebihan itu tidak bagus.”
Memang di dalam kitab suci juga disebutkan beberapa kalimat “afala ta’qilun, afala tatafakkarun“. Kita dianugerahi Tuhan akal serta pikiran untuk mendayagunakannya, namun secara proporsional saja. Jangan berlebihan.
Surat Al-An’am Ayat 141 mengajukan kita untuk tidak berlebihan, “Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. Dengan mencuplik surat tersebut, baru kusadari bahwa Cak Nanang (Sahabatku), ternyata mengakrabi kitab suci.
Aku, kita, kami, kau, anda, kalian, mari bersama berjalan menuju keseimbangan dengan titik koordinat masing-masing, dengan kata kunci, sesuatu yang berlebih-lebihan atau sudah mencapai batasnya segera diseimbangkan. Supaya kita selalu bersama-Nya. Amin
Gresik, 23-24 Oktober 2024
Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota