Tuhan yang Bernama Uang

Sumber :https://images.app.goo.gl/DWrTnNrHPeNK1Vrq7

Pikiran melayang tak karuan, mungkin semuanya dimulai karena tanggal yang sudah menua, bahkan setiap orang-orang sudah mulai mahal dengan senyuman. Tanggal tua memang beban bagi sebagian orang. Sebenarnya tanggal tua adalah penantian akan gajian ataupun honor.

Rupiah telah menyihir kita semua. Uang memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi kehidupan dan keputusan kita. Uang bisa memberikan kebebasan, akses, dan kesempatan.

Sejak dalam kandungan, kita sudah membutuhkan uang. Untuk biaya persalinan dan biayapun tidak murah, diteruskan ketika lahir, menyiapkan popok, baju bayi, susu formula dan lainnya. Bahkan orang meninggal pun masih membutuhkan uang untuk perlengkapan mayit, kain kafan, kembang, pewangi, dan gali kubur. Belum juga nanti ada acara tahlilan selama 7 hari di rumah duka. Begitu sangat kita butuhkan rupiah di era sekarang. Bahkan ada kawan saya yang menyebut uang adalah tuhan kedua.

Dari sisi kiri, karena sangat mencintai serta memiliki uang sampai rela untuk melakukan hasut, curang, menghalalkan segala cara sampai melakukan korupsi, tak terkecuali uang bansos pun masih dikorupsi. Padahal harusnya tersalurkan untuk masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Sihir dari uang mengubah pandangan hidupnya, sihir uang mengubah orang yang baik menjadi kurang baik. Bahkan beberapa kawan juga pernah nyeletuk “Semua orang itu sejatinya baik hati. Namun karena dompet lagi terkuras habis, maka kita berencana buruk.”

Dari sisi kanan, mereka bekerja dengan sangat keras, tanpa mengenal waktu dan lelah. Demi memiliki uang yang banyak, melakukan beberapa tirakat, wirid zikir menarik rizki, melakukan rutinitas sholat dhuha, demi memenuhi hasrat memiliki uang banyak.

Entahlah apa yang dilakukan mereka yang dari sisi kanan ataupun kiri ketika memiliki uang yang banyak?

Semoga saja mereka yang mati-matian mencari tuhan yang bernama uang, ketika sudah memiliki tuhan yang bernama uang, rela membagikan atau melakukan tindakan yang positif.

Semoga saja tidak berpikir untuk menjaga dan merawat, bahkan menaruh di brankas ataupun bank. Celetuk mereka, “aku menyayangi tuhanku yang bernama uang, mosok tuhan kok tak bagi-bagi ke orang lain?!”

Sihir uang memang sangatlah dahsyat, tapi penulis masih percaya meskipun semuanya mencari tuhan yang bernama uang, akan tetapi masih ada beberapa insan yang masih berpegang teguh pada Tuhan yang sejati. Insan yang tidak tergoyahkan oleh derasnya arus zaman. Zaman semakin tidak karuan, mungkin ini yang dituliskan oleh Ronggowarsito “Zaman edan. Yen ora edan, ora keduman“. Sehingga berbondong-bondong mencari tuhan yang maha uang.

Gresik, Condrodipo 28 Oktober 2024

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota