
Di tengah kesunyian komplek perumahan yang sepi, Aji dan Kiswara terdampar di ruang tamu sebuah rumah, yang sudut-sudutnya dihiasi tumpukan kardus yang hendak digunakan sebagai pembungkus berbagai alat kebutuhan rumah tangga. Jarum jam dinding menunjukkan waktu pukul 01.50 WIB. Dini hari ini, ketenangan malam seolah-olah hanya milik mereka berdua saja. Di luar, hanya terdengar suara jangkrik, sesekali juga bunyi cericit tikus. Suasana malam di tengah komplek perumahan perkotaan – sepi, sunyi, yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh mata yang belum terpejam.
Aji duduk bersandar di tembok, menghadap ke arah luar pintu ruang tamu. “Kis, ingat nggak waktu kita di desa?” tanyanya. Matanya terus menerawang suasana di luar rumah itu. Aji seolah-olah mencari-cari jawaban sambil melihat tikus-tikus yang berlarian bebas di pelataran halaman rumah di antara tumpukan paket barang yang siap dikemas ulang.
Kiswara, yang duduk dan masih fokus pada laptop, menyedot rokoknya, menghirup dalam-dalam sebelum asapnya keluar membentuk lingkaran-lingkaran kecil di udara. “Ingat. Di warung kopi, kita sering curhat sampai pagi,” jawabnya, sambil melanjutkan, “Nggak seperti di sini. Semua warung kopi sudah tutup, sepi banget, kayak nggak ada kehidupan sama sekali,” tambah Kiswara.
Aji mengangguk, wajahnya mendadak menunjukkan perhatian serius, tampak dari sorot matanya yang tajam. “Kadang aku kangen sama suasana itu, Kis. Obrolan konyol di antara teman, hingga tawa cengengesan untuk menertawakan kisah patah hati dengan gebetan. Hahahahah,” ia pun terdiam sejenak, mengingat momen-momen sederhana itu. Topik konyol yang bahkan tidak bermanfaat pun, bisa menjadi bahan kegembiraan bersama. “Di sini, aku merasa asing dan terasing. Apa mungkin kita sudah jauh dari sana, ya? Jauh dari momen-momen itu.”
Kiswara meletakkan abu rokoknya di gelas yang ia jadikan asbak, sambil menatap Aji dengan tatapan yang serius pula. “Tapi, kenangan itu kan yang bikin kita kuat, nggak sih? Ji, setiap kali aku teringat momen kebersamaan itu, rasanya aku itu kayak bisa pulang lagi, ya meskipun hanya lewat pikiran dan ingatan. Rasanya itu kayak sedih campur bahagia,” jawab Kiswara menimpali Aji.
Bunyi kokok ayam di tengah sepinya komplek perumahan tiba-tiba terdengar begitu dekat. Benar saja, ternyata tepat di depan rumah, tetangga punya kandang ayam jago. Di tengah komplek perumahaan tengah kota, ternyata masih ada sebagian penghuninya yang memelihara ayam. Suara kokok ayam dini hari makin menguatkan ingatan Aji dan Kiswara tentang hiruk-pikuk di desa.
Aji pun tersenyum tipis. Ia mengganguk-anggukan kepala, seolah-olah membenarkan jawaban Kiswara. Bagaimana Aji betul-betul merasa banyak kehilangan atau melewatkan momen-momen kebersamaan itu, semenjak ia mulai dewasa dengan disibukkan pekerjaan yang membuatnya pusing tujuh keliling. Terasa bahagia ketika memutar ingatan masa lalu, meski ada kesedihan yang diam-diam rasanya seperti meledakkan isi pikiran. “Iya betul. Kadang aku berpikir, kita terlalu cepat dewasa. Tiba-tiba saja sudah harus memikirkan banyak hal yang rumit, sementara dulu, satu-satunya yang kita khawatirkan adalah bagaimana menghabiskan malam dengan secangkir kopi,” curhat Aji kepada Kiswara.
Di tengah obrolan deep talk itu, Aji teringat tentang sebuah majalah yang pernah dibacanya sepuluh tahun lalu, saat masih nyantri di Jombang. “Eh Kis,” Aji mulai lagi, suara beratnya, dengan topik obrolan makin mendalam, mencoba menembus keheningan malam. “Aku ingat satu hal dari sepuluh tahun yang lalu. Tentang sebuah majalah yang aku baca, majalah yang kumaksud ini Buletin Maiyah Jawa Timur.”
Sambil menyalakan satu batang rokok lagi – tak terasa sudah habis empat batang, Kiswara menoleh ke arah Aji, membuang fokus tatapan matanya dari laptop seketika. Kiswara makin tertarik dengan cerita Aji. “Majalah itu? Kenapa tiba-tiba ingat dengan majalah itu?” tanya Kiswara kepada Aji penuh penasaran.
“Karena majalah itu datang ke tanganku lewat Ivan,” jawab Aji sambil mengedarkan pandangan ke tumpukan kardus di depannya. “Dia teman SMA-ku, waktu kita masih sama-sama nyantri dulu. Nah, Ivan beli majalah itu dari Majelis Ilmu Padhangmbulan di Menturo, Sumobito. Tapi aku nggak bisa ke sana, karena ketatnya peraturan di asramaku,” ungkap Aji dengan nada meluapkan kesedihan.
Ditambahkan Aji, dari lubuk hati yang paling dalam, ia mengakui pekerjaan yang kini sedang digelutinya tidak terlepas dari momen itu. Momen Ketika Aji bisa dengan mudah membaca majalah Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ). Kepada Kiswara, Aji menyampaikan, latar belakang pekerjaan yang tidak jauh dari pencatatan atau penulisan saat ini, perlu dimaknai dan direnungi jauh ke belakang. Banyak pengalaman yang Aji dapatkan, terasa begitu mulus untuk dijalani. Selalu ada saja pintu-pintu yang terbuka secara tiba-tiba di kala Aji menemui jalan buntu.
Dari situ, Aji merasa dipertemukan dan diperjalankan dengan kecenderungan yang ia miliki, yaitu mencatat dan menulis. Termasuk juga menjadi awal perjumpaannya dengan Maiyah, terutama Mbah Nun. “Sebelumnya aku memang sudah tahu Cak Nun. Tapi ya sekadarnya saja, tahu kalau Cak Nun itu budayawan, nggak lebih. Bahkan, budayawan kayak gimana pun, aku juga nggak tahu.” Asap rokok yang keluar dari mulut Aji sedikit menghangatkan tubuh di dinginnya malam yang makin terasa.
“Tentang Cak Nun, aku sendiri baru tahu dan melihatnya secara langsung ketika kuliah di Surabaya. Baru aku kemudian betul-betul ngerti Maiyah dan Cak Nun. Ketika di Surabaya, aku sering hadir di acara Maiyahan. Seperti Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng, terus Bangbang Wetan di Surabaya, dan baru bisa datang langsung ke lokasi Padhangmbulan,” Aji makin antusias bercerita tentang ingatan masa lalunya.
Di tengah asyiknya ngobrol, tak terasa handphone yang Aji pegang sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Namun, Aji malah makin ngomong ngalor-ngidul. “Lalu aku ketemu dengan Damar Kedhaton di Gresik. Di situ aku merasa diterima, dihargai, dan diapresiasi dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Seperti minder, tidak percaya diri, tidak bisa ngapa-ngapain,” Aji melanjutkan. “Semasa kuliah aku juga tidak ikut apapun sama sekali. Nggak ikut organisasi, nggak ikut komunitas, nggak ikut PMII, HMI, serta himpunan mahasiswa jurusan, atau unit kegiatan pengembangan mahasiswa, misalnya di bidang penulisan. Kan ada namanya LPM (Lembaga Pers Mahasiswa-red). Belajarku ya di Maiyah, lewat Mbah Nun, Padhangmbulan, Bangbang Wetan, dan Damar Kedhaton.”
Dari Damar Kedhaton, Aji menceritakan pengalamannya kepada Kiswara. Di tengah keterbatasan yang ia miliki – minder, tidak percaya diri, isinan, tidak berani bicara di depan publik – ia merasa ditampung dan diterima apa adanya. Baru beberapa pertemuan mengikuti acara rutin Damar Kedhaton, Aji memberanikan diri ketika diberi kesempatan untuk urun energi di pawon Damar Kedhaton. Kesempatan itu Aji ambil tanpa pertimbangan apapun. “Pada momen apa, ya, aku lupa. Yang kuingat betul, saat ada rutinan di Makam Mbah Condrodipo itu bahas siapa yang mau bersedekah di Damar Kedhaton. Intinya, ada diskusi tentang ajakan terbuka untuk menggerakkan Damar Kedhaton.”
Kiswara menganggukan kepalanya sambil memandang wajah Aji, menikmati rokok dan terus mendengar dengan penuh perhatian setiap penuturan kata yang diceritakan oleh Aji. “Jadi, majalah itu bikin kamu bisa tahu Mbah Nun dan banyak hal lain, termasuk pekerjaanmu saat ini, ya?” pertanyaan singkat dari Kiswara kepada Aji.
“Betul,” Aji melanjutkan, suara beratnya seiring irama lagu yang menemani obrolan mereka berdua. “Majalah, Cak Nun, Maiyah, Padhangmbulan, Bangbangwetan, dan Damar Kedhaton itu banyak mengubah cara pandangku saat ini.” Merasa tidak ingin melupakan, Aji juga bercerita tentang Ivan, teman SMA yang pertama kali memperkenalkan dirinya dengan majalah. “Ivan juga sering cerita dan berbagi ilmu tentang desain, website, dan semua hal kreatif yang dia pelajari. Dari dia, aku juga tahu tentang sosok Cak Nun, yang ternyata punya banyak pemikiran menarik. Rasanya, meskipun aku merasa terkurung di dalam asrama, dengan membaca majalah itu, dan juga dari Ivan, aku bisa merasakan dunia di luar sana.”
Qiro’ah menjelang adzan Subuh mulai terdengar melalui speaker dari beberapa masjid yang berada di komplek perumahan. Jarum jam telah menunjukkan pukul 03.26 WIB, dan Aji makin tenggelam dengan cerita yang disampaikan kepada Kiswara. “Ivan bukan hanya teman biasa. Dia menginspirasiku banyak hal, termasuk terutama tentang desain. Tahu nggak, aku dulu itu sebenarnya pengen banget bisa desain grafis. Cuma, ya, kadang merasa stuck di sana. Tidak ada progress sama sekali, apalagi semenjak laptopku mulai lemot. Kadang juga terlintas di pikiranku, apa jadinya aku kalau tidak kenal Ivan? Apa jadinya aku kalau tidak membaca majalah? Apa jadinya aku kalau tidak tahu Maiyah? Apa jadinya aku kalau tidak tahu Padhangmbulan, Damar Kedhaton? Dan, belajar dari orang-orang hebat di sana.”
Mendengar curhatan Aji, Kiswara memahami bagaimana kedalaman perasaan Aji yang telah diceritakan secara panjang lebar itu. “Kadang kita memang terjebak dalam aturan yang membuat kita merasa terikat, ya. Tapi, ingatan itu kan tetap bisa membebaskan kita, membuat kita semakin kuat mental, dan tampil percaya diri.”
“Bener banget,” Aji setuju dengan pernyataan Kiswara, sambil mengangguk-anggukan kepala. “Meskipun aku mulai jauh dari semua itu, ingatan tentang Ivan, tentang Padhangmbulan, Mbah Nun, dan lainnya, ternyata bisa memberikan arti tersendiri. Di tengah bising keramaian dan kesibukan hidup di kota, hal-hal kecil seperti ini yang seringkali bikin kita merasa hidup, ya, Kis,” lanjut Aji.
Saat musik masih terdengar, lagu berjudul “Semua Tentang Kita” dari Peterpan mulai mengisi ruang tamu. Kiswara mulai mengecilkan volumenya karena sebentar lagi akan terdengar kumandang adzan Subuh. Lagu tersebut mengajak mereka berdua terbenam dalam nostalgia. Suara vokal yang lembut dan liriknya yang menyentuh hati seolah menggambarkan persahabatan dan kenangan yang saling mereka bagi.
Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita…
Aji melanjutkan lirik yang menemani obrolannya dengan Kiswara, meresapi setiap kata yang seolah-olah mewakili curhatan Aji hingga menjelang subuh itu. “Dengar, Kis, lagu ini pas banget deh dengan obrolan kita saat ini.”
Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala…
Obrolan mereka ke masa lalu, tawa dan duka yang silih berganti, seolah semua peristiwa itu kembali terulang. Di tengah kerinduan yang mendalam, mereka berdua menemukan ketenangan dalam kehadiran satu sama lain, diiringi alunan lagu yang semakin menambah keheningan malam.
“Dulu, saat aku berduka, saat aku tertawa, semua masih terasa mudah untuk aku jalani dan aku hadapi,” komentar Aji melanjutkan. “Sekarang, meski banyak yang berubah, aku perlu merasa bersyukur bisa berbagi cerita sama kamu,” kata Aji kepada Kiswara sambil matanya berkaca-kaca.
Kiswara menatap Aji sambil tersenyum tulus, “Iya, kita berdua sekarang harus menggarap isu-isu terbaru di media. Mulai dari teknis lapangan satu bulan ke depan. Perlu berjuang lagi di lapangan menghadapi beragam narasumber. Tapi, ketika kita bisa berbagi cerita seperti ini, rasanya semua yang kita hadapi jadi lebih ringan,” tutup Kiswara, tepat ketika adzan subuh terdengar.
Ingatkah engkau kepada, embun pagi bersahaja
Yang menemanimu… sebelum cahaya….
Aji dan Kiswara saling mengingatkan dan menguatkan dengan bernostalgia tentang cerita-cerita lama. Ruang tamu yang berantakan dengan tumpukan kardus, nuansa malam hingga berganti pagi membuat mereka terhubung dalam sebuah cerita yang tidak hanya tentang masa lalu saja, tetapi juga harapan untuk masa depan.
Di luar, masih tampak beberapa bintang yang berkelap-kelip di langit, terangnya yang tak seberapa, seolah mendengarkan obrolan dua pemuda – Aji dan Kiswara – yang sedang mencari makna dalam kenangan yang kekal abadi lewat ingatan.
Sabtu, 2 November 2024
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, seorang bocah ingusan yang gemar riwa-riwi dan mencari inspirasi dari secangkir kopi