Berpasangan

Sumber : https://images.app.goo.gl/PJDHZ6igL85zKhDB6

“Apa yang salah padaku, apa yang tidak tepat padaku, apa yang aku lakukan sehingga berakibat seperti ini,” batin Cak To.

Semua yang terjadi bukanlah kebetulan, pasti ada sebab dan musababnya. Ada asbabun nuzul-nya, tak ada yang tidak berkaitan, selalu terhubung satu sama lain karena apa yang diciptakan selalu berpasangan.

Bukan melulu soal pasangan laki-laki dan perempuan, pertemanan, alam, peristiwa, dengan siapa dipertemukan itu juga termasuk perjodohan. Cak To tertegun berusaha flash back ke belakang mengingat-ingat apa yang dilakukan sehingga begitu bertubi-tubi kejadian tiap kejadian dialaminya.

Sudah tiga hari ini pikirannya kusut tak tahu arah tujuaannya. Apa yang diprediksi selama ini di luar ekspetasinya. Dari gaji yang ditunggu di akhir bulan karena suatu hal diblokir dari pihak bank. Sehingga mundur belum menerima gaji tersebut. Sektor lainnya, sudah lima hari tutup karena modalnya habis untuk menopang kebutuhan sehari-harinya. Keadaan internal yang carut marut membuat Cak To tidak bisa berkutik dan tak berdaya dalam menghadapinya.

“Hmmm….,” nafas panjang terdengar lirih dari Cak To. Ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok, ia duduk di pos kamling dekat rumahnya. Di sana Cak No sudah duluan duduk menikmati suasana sejuk sehabis hujan.

“Bagaimana, Lik?” sapa Cak No.

“Sedang tidak baik-baik saja ini, Lik,” jawab Cak To.

“Aku lihat anakmu tidak sekolah dua hari ini,” Cak No memulai pembicaraan.

“Benar Cak No. Karena sudah ditagih pihak sekolah untuk membayar uang seragam olah raga. Karena belum ada aku putuskan untuk tidak masuk sekolah. Sementara anakku yang SMA karena kehabisan bensin dan tak ada uang, ya jadi tak bisa berangkat sekolah,” jelas Cak To.

“Tenang saja. Tenangkan hatimu. Ini mungkin Tuhan sedang mengunjungimu. Sedang rindu akan rengekan-rengekanmu. Serta rindu dirimu tersimpuh memelas dan mengiba di hadapan-Nya,” Cak No mulai menenangkan.

“Bukankah akan dinaikkan derajat hamba-Nya melalui ujian?! Namun apakah kamu menganggap ini adalah ujian? Bisa jadi ini adalah nikmat yang dilimpahkan kepadamu. Apa yang engkau sangka baik bagimu belum tentu baik, dan yang engkau sangka buruk belum tentu buruk bagimu. Karena Allah menyapa hamba-Nya dengan berbagai cara,” Cak No mulai memperdalam kata-katanya.

“Jika satu kejadian sudah berjodoh kepadamu, maka tak akan lari ke mana dan tak akan keliru menemukan  jodohnya. Pikiran dan sangkaan saja yang membuat bimbang serta meragukan keperkasaan dan keadilan Allah. Teringat satu nasehat “seberapa kuat engkau menahan yang pergi akan tetap pergi dan seberapa kuat menolak yang datang akan tetap datang. Jadi persiapkan hatimu untuk menerima keduanya,” tambah Cak No.

“Benar itu Cak No. Namun dengan realita yang ada dan penunjang kehidupan yang aku artikan adalah uang, apa ini tidak membuat aku limbung? Ingin menggadaikan semua demi uang,” Cak To membalas dengan argumen.

“Anting kedua anak, juga istriku, sudah kujual. Dan menurutku, itu adalah hak seorang perempuan memakai anting. Aku merasa menjadi laki-laki yang belum bisa memberikan haknya. Bagaimana aku ini malu dan hina di hadapan mereka,” keluh Cak To.

“Tenanglah, Lik,” Cak No mencoba meredakan suasana.

“Semoga saja hal ini akan berkibat kamu bisa menggantinya yang lebih bagus. Sesungguhnya apa yang hilang darimu, Allah sudah menyiapkan yang lebih baik sebagai gantinya, jika kamu bertakwa dan sabar,” sambung Cak No.

“Semoga, dan aminn,” Sahut Cak To

(Bersambung)

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik