Mensyukuri Pasugatan

Sumber : https://images.app.goo.gl/v3TmAoGiUCR8V83i8

Di tengah-tengah kesibukan sehari-sehari, kita sering lupa bahwa kita ini seorang tamu di dunia ini dengan berbagai macam hidangan-hidangan yang telah disediakan oleh Allah SWT.

Ketika suatu hari saya bertamu ke rumah seseorang dengan adat yang biasa dilakukan oleh seorang tuan rumah kepada tamu, maka disediakan berbagai macam suguhan termasuk adanya kopi. Saya sendiri termasuk penikmat kopi pahit. Sebagai adab seorang tamu, saya menunggu untuk dipersilakan meminum kopi yang telah berada di hadapan saya.

Mangga Kang diunjuk kopine karo dicemil jajane,” ucap tuan rumah.

Setelah keasyikan berbincang-bincang, saya pun mencicipi hidangan dan menyeruput kopi. Saya pun meminta izin kepada tuan rumah untuk menikmati hidangan yang sudah tersuguhkan rapi di hadapan saya. Padahal, meskipun tidak meminta izin lagi juga tidak apa-apa, karena tuan rumah sudah mempersilakan untuk mencicipi. Sewaktu saya mencicipi ternyata kopi tersebut rasanya manis padahal saya penikmat kopi pahit. Tetapi demi menjaga perasaan tuan rumah yang sudah bersusah payah untuk memberi hidangan yang terbaik untuk tamunya, dengan perasaan ridho saya meminumnya.

Seketika itu saya teringat kepada kisah Rasulullah. Waktu itu Rasulullah sedang berada di suatu majlis, ada seorang tamu yang memberi hadiah sebuah anggur. Tidak seperti biasanya, Rasulullah menghabiskan anggur tersebut. Para sahabat yang kebingungan melihatnya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “wahai Rasululullah kenapa engkau menghabiskan anggur tersebut padahal biasanya engkau cicipi sedikit kemudian engkau bagikan kepada para-para sahabat?” Rasulullah pun menjawab, “anggur yang diberikan orang tersebut rasanya masam, saya khawatir kalau saya bagikan kepadamu nanti wajahmu tidak kuat menahan rasa anggur tersebut sehingga membuat orang yang memberikan kecewa.”

Dari secuplik cerita pengalaman saya di atas, saya pun tidak berani protes kepada tuan rumah dikarenakan demi menjaga perasaan tuan rumah. Tapi mengapa ketika saya dihidangkan oleh Allah yang tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan, lha kok berani-beraninya saya protes. Terkadang saya pun berfikir apakah saya ini belum mendalami peran sebagai seorang tamu yang dengan berbagai macam hidangan-hidangan yang sudah tersuguhkan?

 

Ubaidillah “Ubed” Wachid

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik