
“Laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa“
Sungguh memang demikian; apa yang saya ketahui, apa yang saya sangkakan, bukan yang akan terjadi. Apa yang saya rasakan begitu berat teryata ada hal yang membuat saya senang dan bahagia. Di saat keimanan semakin tipis, di balik itu juga memberikan pelajaran “apa kowe kanti ngenteni” atas apa yang terjadi kemudian hari. Dan ternyata benar. Ada secercah harapan dan ketenangan sesudahnya. Namun hati manusia selalu disimulasikan, diputarbalikkan dalam berbagai kondisi. Hal ini mungkin untuk melatih kepekaan dalam berbagai suasana.
Mencari titik koordinat yang tepat dalam memosisikan sebagai seorang hamba. Kebahagiaan (rasa senang) bisa juga suatu ujian kepada mahlukNya. Apakah masih merasa membutuhkan dan sangat butuh kepada Allah. Apakah terlena dengan kesenangan itu. Masihkah di setiap sujudnya selalu mengiba dan memohon belas kasihan Allah. Atau sudah merasa nyaman merasa bisa mengatur hidupnya sendiri.
Tidak saya pungkiri bahwasannya ketika kesedihan dalam kesulitan, pikiran dan hati ini lebih mudah mengingat Allah. Seakan Allah lah opsi yang bisa mengatasi dan solusi dari apa yang dihadapi. Namun jika keadaan itu sudah berlalu, ada perasaan yang membuat merasa mampu menapaki dan menjawab problem besok pagi. Hanya sekedar ritual dan rutinitas belaka dalam menghadap Allah. Sudah mulai luntur kebersandaran kepadaNya.
“Inna ma’al ‘usri yusro“
Bukankah bersama kesulitan ada kemudahan. Tapi juga hati-hati, bersama kemudahan juga ada kesulitan. Perlu diingat, bersama bukan sesudah. Tinggal bagaimana mencari di mana itu kemudahan dan jangan kaget bila bertemu kesulitan karena sudah berpasangan.
Dalam menikmati kesenangan memang sangat mudah terjebak lalai terlena. Apakah ini rahasia bagi mereka manusia-manusia yang dekat dengan Allah selalu berpikir dan mengondisikan dirinya faqir dalam segala keadaan. Karena di kala merasa sempit dan tak berdaya hati merasa butuh dan bersandar kepada Allah saja.
Namun yang membuat saya bimbang ketika ada satu nasihat.
“Bermimpilah, dengan mimpi itu kamu bersedia sakit, bersedia jatuh, bersedia patah hati, bersedia mengurangi tidur, bersedia menukarkan waktumu, besedia mengeluarkan darah dan air mata demi menggapai, mewujudkan mimpimu”
Kamis 07 November 2024
Nanang Timur
JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik