Rahasia Tuhan

Sumber : https://images.app.goo.gl/UggaMCevJa7afcNZA

Lestari alamku, lestari desaku

Di mana Tuhanku menitipkan aku

Nyanyi bocah-bocah di kala purnama

Nyanyikan pujaan untuk nusa

Damai saudaraku, suburlah bumiku

Kuingat ibuku dongengkan cerita

Kisah tentang jaya nusantara lama

Tenteram kartaraharja di sana …..

Secara otomatis dari dalam mulut keluar nyanyian dari Almarhum Gombloh, ketika melihat pemandangan alam yang asri dalam setiap perjalanan menuju kampung halaman istri di Tuban dalam rangka acara ngundhuh mantu, nikahan adik dari sang istri. Sebenarnya ini bukanlah perjalanan pertama kalinya, namun mungkin inilah saat yang tepat untuk menulisnya. Di lingkungan pedesaan yang hijau asri nan indah, tak lupa juga sesekali terdengar suara kicau burung-burung liar yang sedang hinggap di dedaunan. Sungguh inilah maha karya Yang Maha Kuasa. Alam yang begitu mempesona berkolaborasi suasana yang sejuk dan masyarakat yang ramah membuat penulis betah di desa ini. Dalam beberapa cerita keluarga bahwa Acik dulu beberapa kali dilamar pemuda desa namun ditolaknya. Acik lebih memilih dan memohon menjadi istri penulis amatir yang tidak jelas arah hidupnya.

Terus kenapa Acik – ibu dari anak-anakku – meninggalkan desa yang asri ini?

Lebih memilih hijrah ke kota Gresik yang menjauhkan dirinya dari keluarga dan suasana pedesaan yang asri. Iya sih, kalau seandainya Acik tidak menetap di kota Gresik mungkin tidak akan berjodoh dengan penulis, dan dianugerahi 3 Putri; Aurel, Asa, dan Ainun. Mungkin itu bagian dari skenario Tuhan yang kita tidak wajib mengetahui namun wajib mensyukurinya.

Bahkan penulis juga sangat bersyukur telah memiliki pasangan hidup seperti ia. Penulis sangat dihormati, disayangi, mungkin juga ngefans. Sungguh penulis sangat diistimewakan ketika ada di rumah layaknya seperti seorang raja. Makanpun masih disuapi hingga kini, kadang membuat anak-anaknya merasa cemburu. Dan yang paling patut penulis syukuri adalah dia tidak pernah mengeluh perihal nafkah yang diberikan, menurutku sih masih kurang layak atau di bawah batas standar dibandingkan keluarga-keluarga pada umumnya. Memang semua itu rahasia Tuhan.

Berlajut penulis bergeser pikirannya ke kisah Nabi Adam dan Ibu Hawa, asal muasal manusia di bumi. Kenapa Nabi Adam meninggalkan surga dan berpindah ke bumi?

Nabi Adam dikisahkan terbuat dari tanah dan ditempatkan di surga. Dalam penciptaannya membuat Azazil “malaikat senior” cemburu. Bahkan Azazil mulai berani melawan perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam, karena menurut Azazil, derajatnya lebih tinggi daripada Nabi Adam yang terbuat dari tanah. Azazil juga merasa lebih senior dari ciptaan Tuhan lainnya. Dengan begitu Azazil atau dengan nama lain Iblis diusir dari surga karena menolak perintah Tuhan.

Nabi Adam merasa kurang bahagia ketika di surga maka Tuhan menciptakan Ibu Hawa sebagai pendamping hidupnya. Ibu Hawa diciptakan dari bagian Nabi Adam sendiri. Dengan hadirnya Ibu Hawa, Nabi Adam merasa sangat bahagia. Tuhan melarang Adam melihat atau mendekati Pohon Quldi. Namun suatu ketika Ibu Hawa menginginkan memakan buah quldi, padahal jangankan memakan buah quldi, melihat saja sudah tidak diperbolehkan oleh Tuhan. Nabi Adam bimbang antara melaksanakan perintah Tuhan atau menuruti permintaan kekasihnya. Dengan berat hati akhirnya Nabi Adam melanggar perintah Tuhan, bukan hanya melihat atau mendekatinya, namun Nabi Adam berani memetik buah quldi itu dan memberikan kepada belahan jiwanya. Dengan kejadian itu Nabi Adam dihukum Tuhan, diusir dari surga dan turun ke bumi.

Dengan kejadian itu maka kita ada di dunia ini, kita adalah cucu cicitnya Nabi Adam – Ibu Hawa yang sebenarnya berasal dari surga dan nantinya semoga kembali ke surga. Kalau Nabi Adam tidak melakukan kesalahan-kesalahan itu mungkin kita tidak ada di dunia ini. Kejadian Azazil diusir dari surga, kejadian Nabi Adam diusir dari surga, atau kejadian terberat dari hidupmu sekarang adalah rahasia Tuhan, yang kita tidak wajib mengetahui namun yang wajib kita lakukan adalah mensyukuri segala nikmat Tuhan yang terjadi.

Nyanyi lagi lah…

Lestari alamku, lestari desaku

Di mana Tuhanku menitipkan aku

Nyanyi bocah-bocah di kala purnama

Nyanyikan pujaan untuk nusa

Damai saudaraku, suburlah bumiku

Kuingat ibuku dongengkan cerita

Kisah tentang jaya nusantara lama

Tenteram kartaraharja di sana …..

 

Tuban, Omah, Jumat 8 November 2024

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota