
Coba bayangkan, kita semua ini adalah koloni lebah madu. Atau kalau orang sunda menyebutnya sebagai Odeng.
Dalam satu sarang, kita ada macam-macam: ada yang bekerja, ada yang nganggur sambil garuk-garuk, ada yang sibuk berpolitik di pojokan sambil bikin ‘hoax’ sesama lebah. Satu-satunya yang pasti, kita semua sibuk memikirkan madu. Dan entah bagaimana, madu itu sering mengalir ke tempat yang sama, ke meja makan para pejabat sarang, bukan untuk lebah kasta sudra.
Di sarang lebah, sebenarnya jelas pembagian tugasnya. Ada ratu lebah, yang kerjaannya melahirkan generasi baru. Dia bukan boss yang kasih perintah, tapi semua tunduk, nurut, dan merasa “wah, ini rajaku!”, “ini ratuku!”.
Ratu lebah ini, tentunya hanya semacam simbolis saja.
Yang kalau di sini, mungkin seperti pemimpin kita yang kerjaannya keliling, nyebar senyum, tebar pesona, ‘pesa-pesi’, tanda tangan kebijakan. Dari sini saja sudah mulai terasa bedanya: di dunia lebah, ratu memang penting buat kelangsungan koloni, tapi di kita, sering kali pemimpin cuma jadi ikon untuk poster kampanye.
Kalau lebah pekerja ini yang tiap hari cari nektar, ngebangun sarang, ngasih makan, mereka kayak rakyat jelata Indonesia: buruh pabrik, petani yang tiap hari bangun subuh, ojek online yang berkeliling nyari rezeki. Mereka ini yang sebenarnya jadi tulang punggung ekonomi. Tapi, herannya, tiap kali ada madu, siapa yang dapat bagian paling besar? Para drone lebah—alias pejabat yang kadang kerjanya nggak jelas. Seperti yang kita lihat tiap kali ada proyek pembangunan, dana bantuan, atau tender besar-besaran, yang ramai itu yang punya jabatan, bukan yang kerja sampai lelah di lapangan.
Kita lihat cara lebah madu berkomunikasi. Mereka punya waggle dance – tarian goyang-goyang buat ngasih tahu di mana lokasi bunga. Nah, kalau di sini? Kita lihat berita di TV, media sosial, atau pidato pejabat, bicaranya muter-muter kayak waggle dance, tapi nggak jelas arah nektarnya di mana. Para politisi kita suka bicara soal “keberpihakan pada rakyat,” tapi rakyat mana yang mereka maksud? Mungkin rakyat versi mereka yang duduk di hotel bintang lima sambil makan madu asli impor. Yang rakyat di bawah dapat madu oplosan.
Di teori sistem sosial, setiap bagian dalam koloni lebah itu berjalan dengan logika sesuai dengan peran tugasnya masing-masing. Kalau di Indonesia, sudah lumrah sistem ekonomi bermuatan politik, sistem politik ngurusin tawar menawar, dan sistem sosial ditakut-takutin sama hukum. Saking semrawutnya sistem komunikasi kita, jadi seperti ayam ngomong sama bebek – tahu sama-sama berbunyi, tapi nggak ngerti yang dibahas apa. Politisi bicara soal “pertumbuhan ekonomi” di podium. Tapi di lapangan, ketika rakyat pergi ke pasar malah bingung, harga telur dan sembako yang naik.
Ketika ada kebijakan subsidi minyak goreng, para pejabat pidato panjang lebar soal bantuan untuk rakyat kecil. Media pun ramai-ramai liputan. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Yang terjadi malah antrean minyak yang panjang, harga tetap tidak terjangkau, dan yang dapat subsidi pertama siapa? Distributor dan tengkulak.
Di dunia lebah, ketika nektar langka, mereka langsung gencar mencari sumber nektar yang baru bersama-sama. Kalau di kita, nektar langka malah dijadikan proyek baru: subsidi di kiri, proyek “bantuan” di kanan, padahal semua sudah diincar dari jauh-jauh hari oleh para drone lebah versi manusia ini.
Ada satu paradoks yang cukup menarik. Masyarakat odeng, ketika sedang menghadapi ancaman, mereka langsung koordinasi, sigap membentuk barisan melindungi ratu dan sarang. Semuanya, dari kelas pekerja sampai drone, punya peran masing-masing yang jelas. Tapi di Indonesia, ketika ada krisis – misalnya pandemi kemarin. Apa yang terjadi? Sistem kesehatan minta lockdown, ekonomi takut ambruk, politik malah sibuk kampanye masker. Akhirnya rakyat bingung. Kita dibilang “tinggal di rumah” tapi juga disuruh “membantu perekonomian dengan belanja.” Padahal jelas, pemasukan berkurang, Bantuan terhambat birokrasi. Jadinya seperti lebah yang terbang linglung tanpa arah, nabrak-nabrak tanpa tujuan.
Lebah madu nggak cuma mengambil nektar, mereka juga membantu penyerbukan, membuat ekosistem seimbang. Dalam hal ini, masyarakat Indonesia bukan hanya punya ekosistem, tapi ekosofi yang mempunyai potensi gotong royong luar biasa. Kita sering membantu tetangga yang kesusahan, tanpa harus diperintah. Tapi hal seperti ini hanya terjadi di level mikro. Di level makro, gotong royong malah sering berdialektika menjadi kepentingan individualisme dan kelompok. Proyek besar pembangunan desa diisi oleh investor asing, petani lokal kehilangan sawah, dan kita cuma dapat slogan-slogan seperti “Majulah Ekonomi Kerakyatan.” Padahal yang maju itu bukan rakyat, tapi para kontraktor yang mendanai proyek.
Sama halnya dengan lebah madu yang bekerja tanpa perlu komando langsung. Seharusnya, kalau kita bicara sistem sosial yang efektif, pemerintah bisa mendorong rakyat berpartisipasi aktif tanpa harus menunggu instruksi kaku dari atas. Bukan sebaliknya, di mana rakyat terus-terusan menunggu kebijakan atau bantuan tanpa tahu arah pasti. Dalam sistem lebah, tidak ada yang terbuang. Setiap individu punya peran. Tapi di sini, banyak dari kita yang terpinggirkan oleh sistem. Buruh, petani, nelayan, sering kali dianggap sebagai “sumber suara” ketika pemilu, tapi setelah itu diabaikan lagi.
Jadi, apakah kita bisa belajar dari masyarakat odeng? Sangat bisa. Manusia sudah terbiasa memaknainya dalam konsep biomimikri. Bukan cuma soal bekerja keras, tapi soal transparansi, efisiensi, dan kesadaran kolektif. Bayangkan kalau setiap kita tahu perannya dalam masyarakat, saling menghargai, dan tidak sibuk mengeruk madu dari sarang sendiri saja. Mungkin saat itulah kita benar-benar bisa mengubah nasib bangsa ini dari negara yang terus mencari “nektar” pembangunan, menjadi negara yang penuh “madu” kemakmuran.
Pertanyaannya, apakah kita siap bekerja bersama sebagai koloni yang utuh, atau kita akan terus terbang sendiri-sendiri mencari madu untuk diri kita sendiri? Karena kalau hanya drone-drone pejabat yang sibuk menikmati madu, yang tersisa bagi rakyat cuma sarang kosong dan sayap lelah terbang tanpa arah.
Rifqi Febrian Apriliansyah
JM Damar Kedhaton tinggal di Manyar, Gresik