Mencari Bahagia? Cukup Indomie Saja yang Instan

Sumber : https://images.app.goo.gl/8LNRyzrTwdcVTRMC6

Seperti biasanya, obrolan dengan Mbak Wiwit, salah satu guru yang mengajariku cara menulis dengan benar, dengan tepat – bertahun-tahun lamanya. Memang, aku jarang bertemu secara langsung dengannya. Namun, hal itu tak sedikit pun membatasi komunikasi. Bahkan, malah diskusi lewat chat WhatsApp isinya ndaging banget.

Mbak Wiwit yang kini tinggal di Kediri, selalu berhasil membuat pikiranku melayang jauh. Ungkapan terima kasih yang memang sewajibnya aku berikan tanpa diminta, tak akan pernah cukup.

Ia bahkan selalu berhasil menampung segala ego rasa penasaranku; pertanyaan sekaligus pernyataan yang selalu meramaikan isi kepalaku. Kali ini, percakapan kami lewat WhatsApp dimulai dari transkrip video sosok tokoh yang kuanggap sebagai guru bangsa.

“Bagiku seru dan menantang,” tulisku padanya. “Ada rasa tertentu yang kudapat ketika menulis transkrip ini. Gak sekadar melihat video atau mendengar dhawuh beliau sambil mengangguk-angguk kepala saja.”

Mbak Wiwit membalas, “Tulisan selalu menyediakan ruang untuk imajinasi dan rasa yang lebih… tanpa dibatasi indera.”

Kalimatnya membawaku merenung. Ia menambahkan, “Setelah baca ini, aku kepikiran bahwa kalau sedekah itu fitrah manusia nomor satu, maka bersungguh-sungguh dalam memberi adalah cara kita mengikuti fitrah itu.”

Aku mengangguk kecil sambil membaca pesan itu. “Nah, ini yang perlahan rasanya hilang dari diriku. Dunia sekarang terlalu cepat. Perlu melambatkan diri, di semua bidang. Sampeyan sepakat, Mbak?” tanyaku.

“Bagaimana tidak sepakat… bukannya ini dhawuh-nya Mbah Nun?” tulisnya.

Kami pun mulai membahas bagaimana manusia sering menomorsatukan kenyamanan sendiri. Bahkan demi mengejar sesuatu yang positif, orang tua sering mengabaikan kebutuhan emosional anak. Atau seseorang memilih untuk tidak menikah karena terlalu nyaman dengan kehidupannya yang sudah mapan.

“Tapi akhirnya,” tulis Mbak Wiwit lagi, “ketika mendekati ajal, manusia mencari kehangatan keluarga atau bahkan memikirkan orang yang pernah ia benci. Di sepanjang hidupnya, Allah sebenarnya sudah memberikan banyak panggilan untuk kembali pada jalan yang benar.”

Pesannya membuatku berpikir keras. Ada banyak pertanyaan yang selama ini menghantui pikiranku, belum menemukan jawaban yang tuntas.

Kadang, Mbak Wiwit mengingatkanku bahwa mungkin semua itu hanya soal meluruskan niat. Pesannya sederhana, tapi berat untuk dijalani: “Amal itu perbuatan, usaha. Bukan hasil.”

Percakapan kami akhirnya beralih ke bahasan “frekuensi”. Aku menyadari, semakin aku ingin bahagia, semakin sulit rasanya menemukan kebahagiaan. Sebaliknya, saat aku mencari makna, bahagia sering datang dengan sendirinya.

“Apa benar ya, Mbak?” tanyaku padanya, “Pemaknaan hanya bisa dinikmati secara intim, gak bisa diceritakan ke orang lain kecuali pada yang satu frekuensi?”

Ia sepakat. “Kalau memaksa membagi ke yang gak sefrekuensi, malah jadi frustasi sendiri. Malah makin gak bahagia.”

Kami pun bercanda tentang fisika, psikologi, biologi, dan kaitannya dengan frekuensi. “Ketemu orang yang satu frekuensi itu bikin gembira, bahagia. Pikiran positif berdampak ke tubuh secara fisik. Fisika, psikologi, biologi – semua saling terhubung,” kataku.

Mbak Wiwit membalas. “Ndang belajar, ya. Mengko aku dibocori ilmune, ya.”

Dalam penutup obrolan itu, aku menyadari satu hal penting: perjalanan mencari bahagia, makna, dan frekuensi adalah proses yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Tidak perlu terburu-buru, karena justru pengalaman sepanjang perjalanan itulah yang membuat segalanya bermakna.

“Jangan cepat-cepat. Cukup Indomie saja yang instan,” kata Mbak Wiwit, menutup percakapan lewat chat WhatsApp.

Dan aku, seperti biasa, menyimpan percakapan itu. Kali ini, sebagai bahan tulisan. Semoga, dari sini, aku bisa berbagi makna dengan mereka yang sefrekuensi.

Beruntungnya, ada satu pesan dari sosok penulis terkemuka dan legendaris di Indonesia. Siapa yang tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer.

“Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” pesan Pram.

 

Gresik, Jum’at, 22 November 2024.

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton Gresik

Seorang bocah kecil ingusan yang gemar ngopi dan riwa-riwi untuk mencari inspirasi