Karya Gus Mus

Sumber : google / gambar gusmus

Malam itu pukul 21.01 WIB, hari Jumat tanggal 13 Desember 2024 di kala penulis dan sang istri sedang bermesraan di depan kamar tidur sambil menyuapi makan malam dengan lauk tahu, tempe yang dirasakan nikmat oleh penulis karena sang istri yang melayani dengan penuh rasa cinta.

Di tengah kemesraan itu tiba-tiba sang istri bertanya kepada penulis “Ayah, harapan apa yang ingin terwujud di tahun 2025?”

Penulis agak bingung ketika ditanya perihal harapan di tahun 2025. Namun yang terlintas malah bait puisi dari Gus Mus (Mbah Mustofa Bisri) pada tahun 2003 yang lalu dengan judul “Selamat Tahun Baru Kawan”.

 

Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisabNya

 

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?

Muslimkah, mukminin, muttaqin,

kholifah Alloh, umat Muhammadkah kita?

Khoirul ummatinkah kita?

 

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi

Hanya budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan

Lebih pipih dari kain rok perempuan

Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan massa

Dan tiba-tiba buas dan binal di saat sendiri bersamaNya

Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan saja

Kosong tak berdaya.

 

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu

Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda

Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia di surga

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

 

Kita manggut-manggut, ooh… beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia

Kalaupun terkeluarkan, harapanpun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda.

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

 

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi “HAJI”

Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya

atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,

mensiasati dunia khalifahnya,

 

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran, mengacau dan menipu demi keselamatan

Memukul, mencaci demi pendidikan,

Berbuat semaunya demi kemerdekaan

Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman

Membiarkan kemungkaran demi kedamaian

Pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

 

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana

Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa

Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka di atas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

 

==

 

Dengan membaca dan menghayati beberapa cuplikan kalimat yang ditulis Gus Mus, kita belum menjadi apapun dan melakukan tindakan apapun.

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi. Hanya budak perut dan kelamin: memang benarlah kita masih menjadi budak dari nafsu-nafsu keduniawian.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu. Ya memang benar, sebagian dari kita melakukan sholat bukan karena taqwa namun hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai makhluk, bahkan kadangkala kita teledor melewatkan ritual sholat hanya demi mengejar lembaran uang kertas, semua hanya tentang duniawi saja tidak pernah ada sikap dan tindakan yang bersifat akhirat.

Mohon maaf dengan sangat, penulis kali ini hanya membagikan karya dari Gus Mus yang dirasa pemaknaannya sungguh dalam. Harapan sang penulis semoga kita akan selalu bersaudara serta menjaga silaturahmi sampai akhir zaman. Amin

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota