Syukur yang Telat

Sumber : https://images.app.goo.gl/1ZTb8QViKdA1A9M47

Telulikuran Damar Kedhaton sudah terlaksana 96 edisi. Ditempuh dengan 8 tahun perjalanan yang dipenuhi dengan rasa cinta. Sudah 8 tahun peleburan hati dengan Cak Ateng, Cak Yayak, Cak Nanang, Cak Ipul, Cak Faris dan cacak-cacak lainnya. Kumerasa bersyukur bisa bertemu dulur-dulur keren seperti Cak Fauzi, Cak Teguh, Cak Bombom, Pak Dol, Cak Ghozi, Cak Nazrul, dan cacak-cacak lainnya. Rasa syukur itu juga terukir berkat perjumpaan dengan orang-orang baik seperti Lik Syuaib, Pak Kris Aji, Abah Hamim, Cak Arif, Habib Anis, dan lainnya. Syukur juga bisa bersua pemuda kreatif seperti Mas Febrian Kisworo, Mas Ubed, Mas Alfian, Mas Afi, Mas Dimas serta lainnya. Serta dulur-dulur yang namanya tidak tertuang di tulisan ini. Terimakasih banyak untuk semua hal. Aku bisa belajar jurus konoha, kuda-kuda kehidupan, pengetahuan keilmuan, serta penataan hati dan pikiran dari Njenengan semua.

Sebenarnya ungkapan syukur ini ingin kubuat ketika Milad 8th DK, tapi karena keterbatasan waktu, pikiran serta diselimuti kemalasan, maka tulisan ini tidak terjadi, hanya sebatas di angan saja. Namun hari ini dapat terjadi adalah berkat cintaku pada DK. Semoga tulisan ini masih layak untuk menyambut Milad Damar Kedhaton. Bisa dibilang rasa syukur yang telat. Hmmm, ya sudahlah….

Lur, saat Telulikuran edisi 96 di rumahnya Cak Yayak kemarin, justru rasa syukur itu menjadi kekhawatiran. Aku khawatir apakah aku bisa terus konsisten mengikuti majelis Telulikuran? Sedangkan kita sadar bahwa tidak ada keabadian. Semuanya pasti akan ada titik pemberhentian. Sementara yang kulihat, beberapa dulur juga sudah banyak yang menghilang tanpa kabar. Semakin sulit menghadiri Telulikuran, semakin sulit melakukan aktivitas perkopian bareng. Semoga saja mereka yang sulit menghadiri Telulikuran, hatinya masih bersama Damar Kedhaton. Semoga saja anak turun kita mau menjalankan estafet perjalanan kita hingga tumbuh bibit yang lebih bisa menata hati & menjernihkan pikiran.

Sebagian dari khawatir itu akhirnya terjawab ketika kemarin malam Cak Yayak mengajakku sambang Rasya, putranya, yang sedang nyantri di daerah kampung Giri. Pertemuan antara ayah dan anak itu sangatlah romantis, ceria, sekaligus diliputi rasa haru. Di sela-sela pembicaraan mereka, terselip kata yang menurutku adalah jawaban dari kerisauan hati.

“Damar Kedhaton harus ada penerusnya Om. Damar Kedhaton harus terus dirawat. Kita punya banyak penerus. Misalnya Wildan (Putra Cak Huda), Haikal (Putra Cak Bombom), Vigo (Putra Cak jemi) Giri & Kikan (Putra-putri Cak Fauzi), Tafa (Putra Lik Syuaib), yang beberapa kali ikut majelis Telulikuran. Mereka itu penerus Damar Kedhaton Om,” ungkap Mas Rasya. Hatiku merasa lega dengan yang ia utarakan. Semoga saja kita terus bersahabat sampai anak turun kita.

Itulah doa dan harapan di 8 tahun Damar Kedhaton, yang dibersamai dengan akhir tahun 2024.

 

Warung Kopi Sobat, Gresik 31 Desember 2024

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota