Dopamine Is Energy

Sumber : https://images.app.goo.gl/f5cfXr7qGLcjMcmR7

Pagi itu menjelang siang, di area warung kopi, kuseduh kopi hitam dengan berteman rokok kretek. Sambil melamun hal-hal yang indah, mungkin itu yang disebut sebagian orang menamainya harapan atau impian. Aku menjelajah sebuah dunia yang indah dengan pikiranku, sampai pada akhirnya diriku kembali lagi dalam arena nyata. Iya, dunia yang sebenarnya, dunia yang penuh misteri.

“Dunia itu bulat, sedangkan bumi itu kenyataannya datar,” kata Cak Irul, sahabatku, yang saat lahir diberi nama Khairul Suyanto oleh orang tuanya.

Cak Irul adalah pecinta pemahaman bahwa bumi ini hamparan yang sangat luas, yang dibatasi tepian terluarnya oleh dinding es Antartika. Pemahaman perihal bumi datar telah membawa Cak Irul berada di arena realita yang menggembirakan. Entah kenapa saat pembahasan mulai nyerempet topik bumi datar, ia serasa nampak lebih bergairah, sampai lupa tentang perutnya yang lapar, lupa dengan tagihan PLN, lupa dengan angsuran bank.

Mungkin itu hanya asumsiku, tapi itu yang kuamati selama 8 tahun kami bersahabat. Mungkin hal itulah yang dinamakan hormon dopamin, alias hormon kebahagiaan. Meskipun tidak sepenuhnya melupakan kesedihan, namun kegembiraan setidaknya dapat memberi energi positif dalam diri serta beberapa teman yang sefrekuensi dengannya.

Oh iya, menceritakan tentang latar belakang dan biografi Cak Irul, mungkin tulisan ini tidaklah cukup mewakili. Banyak cerita yang penuh kemesraan yang pernah kami lalui. Beberapa kemesraan yang menggores di ingatan ialah saat kami diajak Kyai M untuk sowan ke pesantren yang berada di kota Situbondo. Sesampai di lokasi, kami disuruh masuk lebih dulu ke sebuah ruangan karena Kyai M ada perlu, dan ternyata saat tiba di lokasi pesantren ada pertemuan akbar, yang di-rawuhi oleh beberapa tokoh ulama dari berbagai kota.

Kami masuk ruangan mengisi daftar hadir, ditanyailah oleh yang menjaga daftar hadir, “Maaf, dari pesantren mana ya?” Kami serombongan saling tatap, kebingungan. Dengan spontan Cak Irul menjawab, “Dari Gresik, Pesantren Embongan”. Seraya menahan tawa kami menyaksikan penjaga daftar hadir mengiyakan dan mempersilakan kami masuk.

Seperti yang tertulis di atas Cak Irul itu berhati lembut, gak tegoan, pria berkharisma, suka dengan pemahaman bumi hamparan, humoris, jenius, pandai memicu suasana, dan menurutku keberkahan yang diberikan Tuhan kepadanya adalah “Tangan Dewa”. Setiap alat tulis yang dipegangnya akan menjadi karya seni yang bernilai. Sudah banyak goresannya yang diikutkan pameran lukisan. Bahkan ia juga sering mendapatkan reward dari perlombaan seni lukis. Teruslah berkarya sang Tangan Dewa, teruslah bahagia, rawatlah hormon dopaminmu, karena pengamatanku di situlah puncak energi sang Tangan Dewa.

Sama halnya dengan tulisan ini tercipta, semua berawal dari lamunan yang berselimut kebahagiaan saat menikmati kopi hitam di sebuah warung, hormon dopaminlah yang mendorong tulisan ini. Energi positif itu kutuangkan dalam sebuah tulisan agar waktu luang dan hormon dopamin yang hadir tidak terbuang sia-sia, sehingga melatihku menuliskan sesuatu. Jika hormon dopamin atau hotmon kebahagiaan menghampirimu, maka saranku jangan sampai terbuang sia-sia. Lakukanlah tindakan atau hal yang positif untuk mencapai hal yang bermanfaat.

Penasaran dengan sosok Cak irul?

Jika ingin lebih banyak memahami Cak Irul dan bumi datar beserta hamparannya, maka sering-seringlah mengikuti majelis Telulikuran, karena ia sering membersamai kita di rutinan Damar Kedhaton.

 

Gresik, 02-03 Januari 2025

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota