Keracunan Informasi

 

Sumber : https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fasset.kompas.com

Malam selepas isya’, penulis diajak ngopi sang pendamping hidup. Sambil menikmati kopi hitam agak pahit, sembari mendengar lantunan musik pop, kuteringat seorang sahabat, Irham Fauzi namanya. Ia adalah sahabat yang pengertian, meskipun kadang bersikap agak dingin bagai ice cream. Seharian ini ia membuat unggahan status WA secara berseri, saling berututan dan menjadi semacam cerita pendek. Bagiku, tulisanya menginspirasi. Aku merasa tergugah semangatku untuk terus menulis. Oke, kuambil handphone, kuakumulasikan dampak yang terjadi kekinian, kuikuti jari jempol ini melangkah menuliskan sesuatu, diringi hati serta buah akal, sambil mengembarai daya imajinasi dengan liarnya.

Banjir informasi, ya itulah yang terjadi di zaman ini. Semua informasi dapat kita akses dengan mudah dan cepat. Setiap kebutuhan informasi yang diinginkan, dapat segera tersajikan dengan instan. Dengan hanya bermodalkan handphone yang tersambung dengan akses internet, sembari bersantai rebahan sekalipun, dengan mudah kita menemukan aneka informasi dari berbagai belahan dunia. Tinggal scroll-scroll, mengusap-usap layar pakai jempol.

Informasi adalah gudang dari pengetahuan. Informasi adalah kunci dari ilmu. Semakin kita mengetahui banyak informasi, maka semakin banyak pula pintu-pintu ilmu yang kita dapatkan. Demikian kata para motivator yang berseliweran di jagad maya.

Memang semuanya yang diucapkan para motivator benar adanya. Namun beberapa filsuf juga mengatakan bahwa pengetahuan adalah racun. Semakin banyak engkau mengetahui hal, maka semakin besar pula peluang dirimu terkontaminasi oleh racun. Dengan kata lain, keracunan informasi.

Menurutku, keracunan informasi lebih menakutkan serta lebih berbahaya daripada keracunan zat adiktif. Perihal definisi zat adiktif, dari penelusuran yang kulakukan di internet, diperoleh informasi begini ; adiktif atau zat adiktif adalah zat kimia yang dapat mengubah fungsi otak dan sistem saraf. Zat adiktif juga dikenal dengan nama obat psikoaktif, psikoaktiva, atau narkoba. Menakutkan bukan?!

Kita bisa kecanduan, ketergantungan dengan obat yang pada akhirnya kita dikendalikan oleh secuil obat tertentu. Secara khusus, kaum muda-mudi harus lebih berhati-hati. Karena kurangnya pengertian akan bahaya narkoba, dan terjebak pada citra bahwa memakai narkoba itu keren, maka keinginan untuk mencoba begitu kuat menggoda. Padahal sudah jelas, rusaknya masa depan adalah konsekuensi yang niscaya. Maka tanpa ragu, penulis menyarankan ; hindari Narkoba sejauh mungkin.

Lantas bagaimana halnya dengan keracunan informasi?

Penulis mengidentifikasi, dampak nyata yang muncul dari keracunan informasi ialah tidak stabilnya kuda-kuda kewarasan, mengamuk tanpa sebab, dan sering berfikir negatif. Naasnya, bahaya keracunan informasi bisa menyerang siapapun tanpa terbatas usia; kaum muda, kaum tua, bahkan generasi bau kencur pun bisa terinfeksi racun informasi. Mengerikan bukan?!

Bukannya tidak perlu tahu informasi. Buktinya, tulisan ini tercipta dari hasil informasi yang kudapati di status WA seorang sahabat, sehingga memacu semangat untuk produktif menulis. Penulispun belum bisa menemukan formula untuk lepas dari genggaman keracunan informasi, namun hanya saran, baiknya kita memilih dan memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan saja, jangan berlebihan. Jaga dosis sesuai kebutuhan dan kemampuan.

 

Gresik, Warung THR, 9 Januari 2025

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota