Drama Pagi

Sumber : https://images.app.goo.gl/TZdWC5cSFvjTPbBw6

Selamat pagi dunia. Begitulah ungkapan yang sering saya lihat di berbagai media, status ataupun ungkapan zaman sekarang. Pagi hari di mana semua manusia sudah mulai bangun dan memulai hari. Berbagai macam kesibukan dan rutinitas dijalankan. Disetiap keluarga bebagai macam jenis kesibukan mulai dari mempersiapkan anak berangkat sekolah sampai persiapan berangkat kerja. Kegupuhan, omelan agar cepat bangun lalu mandi menjadi bumbu penyedap di pagi hari yang ceria.

Berbagai macam dinamika, drama di rumah lebur dalam perjalanan menuju tempat kerja. Belum selesai sampai di situ, jalanan yang padat ditambah saling tikung, salip menyalip, klakson berteriak menambah kesempurnaan drama. Bertolak belakang ketika saya pulang ngopi jam 01:00 dini hari, begitu lengang tanpa suara klakson. Semua dilakukan tentu mempunyai tujuan atau goal yang ingin dicapai. Kadang terbawa suasana atau bisa menambah semangat menjalani hari menuntaskan pekerjaan. Bertepatan hari ini saya bisa menikmati pertunjukan itu tanpa teseret arus di dalamnya. Hanyalah perbedaan waktu saja karena saya masuk sore bukan masuk pagi.

Ditemani secangkir kopi manis yang sudah hilang manisnya karena sudah diambil semua oleh pembuatnya, imajinasi saya melayang beriring dengan kepulan asap kretek yang selalu menemani. Apa yang membuat kegupuhan, dinamika drama itu terjadi?

Ambisi, keinginan, target capaian, goal project, optimisme, kerakusan, flexing, ambisius serta semangat yang menggelora. Hal-hal yang melandasi tindakan, baik itu sesuai aturan atau tidak. Memang jika berpikir ulang untuk apa melakukan hal itu. Mengoptimalkan kemampuan melakukan tidakan-tindakan menuju pencapaian. Toh akhir dari kehidupan jugalah kematian. Ngapain susah-susah mencari hal yang tidak kekal. Ini bukan masalah kekal tidak kekal, ini hanya berbagi peran. Andai kata 80% manusia punya asumsi yang sama, perputaran kehidupan mustahil terjadi. Pasar akan sepi, jalanan akan sepi, penjahat, penipu akan kebingungan karena mangsanya sadar ditipu jadi merelakan dan menyerahkan tanpa susah-susah memperdayainya. Para pelajar juga kesulitan mengaplikasikan ilmu yang didapat karena manusia sudah berlaku baik. Saling menjaga kebermanfaatan antar sesama. Lalu di manakah yang perlu diluruskan?

“Ah…..itu kan hanya imajinasi serta cara mu melihat kehidupan dari satu sudut saja,” karibku menyapa membuat buyar imajinasiku.

16 Januari 2025

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik