Memayu Hayuning Bawana

Sumber : https://images.app.goo.gl/tFLC3nHrfPRUthcr6

Rabu, iya hari ini hari Rabu, waktunya berkirim tulisan di kolom Jamaah. Harusnya tulisan sudah berkirim maksimal tadi malam (Selasa malam), tapi Karena kurang tepatnya manajemen waktu, males, nyepelekan, kurang ikhtiar, sehingga istiqomah berkirim tulisan, dalam rangka belajar menulis di Kolom Jamaah tidak terrealisasikan.

Oke, siang ini di sebuah warung kopi, kucoba melatih istiqomah, walaupun sudah telanjur, namun telat tidaklah buruk, daripada tidak melakukan/usaha. Siang ini kucoba melanjutkan tulisan yang berjudul “Pertanyaan Pagi Hari -2”. Di situ tertuang frasa Khalifah fil Ardhi.

Menurut Meta AI : Khalifah fil ardhi adalah istilah dalam Islam yang berarti manusia sebagai wakil atau pemimpin di bumi. Istilah ini juga dapat diartikan sebagai pengganti Allah di bumi.

Manusia sebagai khalifah fil ardhi memiliki tugas untuk:

Memimpin dan mengelola alam semesta

Menciptakan keseimbangan dan keamanan di bumi

Menjaga dan melestarikan kehidupan makhluk hidup lain

Membimbing umat manusia untuk kembali kepada Allah

Manusia dipilih oleh Allah untuk menjadi khalifah fil ardhi karena manusia merupakan makhluk yang paling sempurna.

Wow, sungguh berat tugas kita!! Tugas kita dijelenterehkan, dipaparkan seperti itu, apakah sanggup? Belum bertindak saja sudah berat di beban pikiran.

Jawa punya konsep yang lebih sederhana daripada pemahaman yang dipaparkan oleh Meta AI, yaitu; Memayu Hayuning Bawana. Falsafah Jawa ini memuat arti “membuat dunia menjadi lebih indah”. Falsafah ini mengandung pesan untuk menjaga harmoni dan kesejahteraan dalam kehidupan. Lantas dunia ini apakah tidak indah? Dunia ini sudahlah indah, namun kita diperintahkan untuk melengkapi dan melestarikannya.

Berbicara tentang khalifah, dalam sejarah Islam selain Kanjeng Nabi, juga ada beberapa tokoh yang bisa kita teladani; Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidina Ali. Menurut dhawuh Guru, belajar dari 4 sahabat Nabi, pilih yang mendekati dengan karaktermu dan belajar dari 4 sahabat tersebut.

Mengenai metode kepemimpinan, ada beberapa hal yang umum dipakai yaitu Otoriter dan Demokrasi.

Otoriter : Gaya kepemimpinan yang memaksakan kehendak pemimpin kepada bawahannya. Otoriter juga bisa berarti sistem kepemimpinan di mana kekuasaan terpusat pada satu pihak.

Demokrasi : Gaya kepemimpinan yang lebih dewasa, karena keputusan tidak terpusat, namun setiap anggota boleh memilih dan menentukan pendapat. Salah satunya bisa dengan cara voting, memilih dan menyetujui keputusan dari hasil pemikiran dan suara terbanyak.

Metode apa yang baik untuk digunakan, Otoriter atau Demokrasi?

Semua metode baik, semua metode ada kelebihan dan kekurangannya, Otoriter atau Demokrasi, yang lebih utama pahami dulu lingkupnya, nikmati dulu prosesnya, karena yang lebih penting adalah tujuannya, terpenting adalah niatnya.

Jangan lupa ngopi, teruslah rawat hormon dopamin.

 

Warung kopi, Gresik, 22 Januari 2025F

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota