Dulu Saya Diwanti-wanti Jangan Ikut Organisasi, Tapi Malah Bertemu Keluarga Di Sini

Sumber : chatgpt

Sebenarnya, semua bermula biasa-biasa saja. Terasa mengalir. Tidak ada gemuruh yang meledak-ledak, apalagi tanda-tanda “bisikan” dari langit. Hanya semacam kekosongan yang perlahan saya sadari, dan saya rasakan di dalam hati. Ada lubang yang tak bisa saya isi dengan hanya menjalankan rutinitas sehari-hari, apalagi sekadar basa-basi pergaulan sosial di seluruh level. Maka saya pun tergerak untuk mencari. Saya terus berjalan, kadang tanpa arah yang pasti, menelisik ruang-ruang yang tak semua orang ketahui.

Sebelum masuk kuliah, saya pernah mendapat pesan dari seorang guru yang tak biasa. Bagi saya, guru yang saya maksud ini merupakan tauladan yang memberikan kesan mendalam. Pesan yang saya dapat itu, ketika saya masih nyantri di Njoso, di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang. Namanya ustadz Munif. Pertemuan saya dengan beliau tepatnya di SMA Darul Ulum 2 BPPT Jombang. Pesannya begini: “Gak perlu melu organisasi opo-opo, kabeh organisasi podo ae.” Waktu itu saya diam saja. Belum paham betul maksud dan tujuannya. Tapi kalimat itu nyantol terus, seperti ditaruh di rak paling dalam di dalam kepala saya. Pesan itu disampaikan ketika saya hendak lulus dari bangku SMA.

Waktu terus berjalan, lalu tiba masa kuliah, dan saya—entah oleh keberanian atau mungkin ketidakwarasan yang positif—memutuskan untuk datang ke sebuah circle yang saya dengar samar-samar: Damar Kedhaton. Tidak ada yang mengajak. Saya bahkan tidak kenal satu pun orangnya. Tapi rasanya saya sudah nyambung, sudah ada getaran frekuensi dalam hati. Mungkin karena benang halus paseduluran Al-Mutahahabbina Fillah, yang pernah saya temui di jagat semesta Maiyah sebelumnya; Padhang Mbulan, dan Bangbang Wetan.

Hari itu, 4 April 2018. Saya mendatangi musholla kecil di Dusun Purworejo, Desa Metatu, Benjeng. Tidak membawa apa-apa, kecuali rasa penasaran yang masih terasa ganjil pada Forum bertajuk Wirid Sholawat dan Rembug Tema (WSnRT). Saya masih ingat—saya sempat menuliskan catatan pendek soal itu di akun Facebook saya, yang saat ini sudah tidak aktif lagi.

Musyawarah adalah pembahasan atas suatu permasalahan untuk diselesaikan dengan persetujuan bersama. Musyawarah memiliki nilai-nilai positif. Beberapa nilai positif tersebut adalah setiap peserta berhak menyuarakan pendapat, sedikit potensi untuk saling bertengkar, bertukar pendapat, mempererat hubungan antar sesama. Menurut sudut pandang psikologis, bertatap muka secara langsung memberikan efek yang begitu besar bagi jiwa kepekaan sosial. Melihat perkembangan bangsa indonesia yang semakin dewasa semakin membutakan hati dan pikiran rakyat. Perkembangan arus teknologi semakin cepat begitu juga pengaksesan suatu informasi semakin cepat pula. Tidak ada rentan waktu sejenak untuk sedikit mengolah informasi yang diterima. Hal tersebut merupakan salah satu dari kesalahan netizen zaman now. Oleh karena itu, lewat sebuah simpul yang menamakan dirinya sebagai “Damar Kedhaton” menghujani jama’ahnya untuk senantiasa melakukan berbagai diskusi bersama, baik dalam lingkup kecil maupun yang lebih besar. Damar kedhaton terhitung masih berumur satu tahun. Beberapa kegiatan rutin yang dilakukan oleh Damar Kedhaton adalah wirid, sholawat, rembug tema, telulikuran, workshop kepenulisan, workshop melukis, dll. Wirid dan sholawat adalah suatu amalan sebagai pembukaan untuk melakukan acara apapun. Dalam hal ini bertujuan untuk menata kembali niat setiap jamaah bahwa apapun yang dilakukan semata-mata kepada Allah SWT sekaligus menjernihkan hati. Workshop kepenulisan adalah i’tikad dari beberapa jamaah yang memang berkeinginan untuk bersama belajar melakukan kegiatan tulis menulis secara baik, rapi, terstruktur dan tentunya bermanfaat. Semua ide, gagasan, pelaksanaan dan penginformasian kegiatan damar kedhaton bermula dari simpul kecil, melingkar bersama atau dapat juga disebut dengan musyawarah.

4 April 2018

Saya juga tidak ingat, siapa pertama kali yang saya ajak bicara saat momen itu. Tapi saya ingat betul suasananya: hangat, terbuka, bahkan kesakralan begitu kuat terasa saat wirid dan sholawat dilantunkan. Dan setelah itu, diskusi pun mengalir begitu saja.

Dari situ, saya mulai “kecanduan” untuk bagaimana caranya agar bisa hadir dalam setiap kegiatan Damar Kedhaton. Kadang lewat nongkrong di warung kopi juga, ngobrol ngalor-ngidul, dan dari situ saya makin merasa nyawiji dalam gelombang frekuensi.

Ada satu momen yang paling saya ingat, saat itu berlangsung di Balai Rukyatul hilal Bukit Condrodipo, Gresik. Namun, saya tidak ingat persis kapan, tanggal, hari, dan tahunnya. Momen itu ketika forum membuka semacam “lowongan” bagi yang mau jadi pengisi bahan bakar penggerak. Sebutannya saat ini adalah tim Pawon.

Tanpa pikir panjang, saya menyanggupi untuk masuk ke dalam tim penulisan. Memang, dalam forum saya tidak mengemukakan apa yang menjadi keinginan saya. Saat itu, selelas forum, saya menjapri WA ke Cak Fauzi.

Motivasinya mungkin karena saya memang suka mencatat. Bukan berarti karena sudah akrab dengan catat-mencatat. Justru waktu itu saya belum terlalu kenal dulur-dulur lainnya. Tapi semuanya terasa begitu mengalir. Tidak ada prosedur formalitas. Tidak ada sekat.

Dan begitulah. Dari langkah pertama saya yang sendirian itu, saya malah merasa seperti dijemput sesuatu hal yang bermakna; hanya bisa dirasakan. Seperti rumah tempat pulang yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan. Sebuah pohon rindang yang sejuk, tempat berteduh di tengah terik panasnya zaman.

Bersambung…

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton Gresik yang tinggal di Guranganyar, Cerme.