Sebelum Ilmu Menjadi Manfaat
(Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik Edisi ke-107, November 2025)

Jumat, (14/11/2025) dini hari terasa dingin di ruang tamu rumah Kamituwa Wak Syuaib, disambut angin yang masuk perlahan dari pintu yang sengaja dibiarkan terbuka. Suasana Desa Iker-Iker Geger, Kecamatan Cerme, Gresik terasa meneduhkan, seolah memberi ruang bagi keheningan yang menjadi latar utama sebelum diskusi dimulai. Lampu ublik kecil di tengah ruang tamu memancarkan cahaya kuning temaram yang cukup untuk menghangatkan lingkaran perjumpaan dulur-dulur Damar Kedhaton.
Setelah rangkaian pembacaan Al-Qur’an, Wirid, Sholawat, dan Tawashshulan dituntaskan, sesi elaborasi tema dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-107, dibuka tepat pukul 01.11 WIB. Diskusi dengan tema “Ilmun La Yanfa’” atau ilmu yang tidak bermanfaat diawali oleh kegelisahan atas banjir informasi di media sosial, serta keinginan mencari kembali batas antara ilmu yang menuntun diri dan ilmu yang menjerumuskan pada kerusakan.
Diskusi makin menarik ketika muncul sebuah pertanyaan yang langsung membongkar kerangka besar berpikir: apakah manusia benar-benar memahami skenario hidup yang telah dituliskan untuknya? Pertanyaan ini menjadi pintu untuk mengelaborasi dua tulisan Simbah—Ilmun La Yanfa’ dan Ruang Salamin Aminin—yang tidak hanya kaya gagasan, tetapi juga menguji keluasan dan kedalaman cara berpikir.
Pembahasan kemudian menyentuh metafora cahaya dalam album Menyorong Rembulan. Manusia diibaratkan sebagai bulan yang memantulkan sinar matahari. Pertanyaannya, sejauh mana cahaya itu benar-benar dipantulkan kembali sebagai manfaat, dan sejauh mana justru berhenti pada diri sendiri. Dalam konteks ini, matahari diumpamakan sebagai pancaran ilmu-ilmu Maiyah, sedangkan individu-individu pejalan Maiyah adalah bulan yang berfungsi memantulkan cahaya tersebut.
Pada titik ini, muncul dalam benak pikiran bahwa sering kali para pejalan Maiyah pergi jauh—riwa-riwi budhal Maiyahan—meninggalkan kenyamanan rumah dan keluarga, namun pulang tanpa membawa apa-apa. Bukan karena kurangnya cahaya yang diterima, tetapi karena kurangnya kesiapan untuk menampung dan memantulkannya ke sekitar. Kesadaran ini menjadi renungan reflektif bersama terhadap pengalaman panjang selama berMaiyah.
Refleksi kemudian bergerak pada analogi mata air yang selalu jernih di hulu namun dapat terlihat keruh di hilir. Ilmu pun demikian: ia lahir dalam keadaan suci, tetapi mudah berubah ketika pikiran dan niat manusia tidak dijaga dengan baik. Dari mata air itu, pembahasan meluas ke sejarah Gunung Uhud dan air Zamzam.
Seluruh rangkaian elaborasi pemikiran kemudian ditautkan pada simbol pepohonan yang sering digunakan oleh Mbah Nun. Ilmu bekerja sebagaimana pohon: menyerap, menampung, lalu mengeluarkan buahnya. Tiga rakaat proses ini mengingatkan bahwa melimpahnya ilmu bukan berarti otomatis menjadi manfaat; yang sering keliru justru kesiapan dan adab dalam menerimanya. Kita sering tidak sadar bahwa ilmu dari Mbah Nun meluber-luber, memancar deras, tetapi kita hanya berdiri di pinggirnya tanpa menundukkan diri untuk menadah. Bukan ilmunya yang kurang manfaat, tetapi adab kita yang belum memadai.
Analogi sungai kemudian menguatkan gambaran tersebut: sungai bisa bernilai berkah atau berubah menjadi tempat penuh noda, itu semua tergantung pada niat orang yang mengelolanya. Air hujan selalu barokah, tetapi apakah benih akan tumbuh atau mati di atas petak tanah bergantung pada siapa yang mengelolanya. Ilmu pun demikian, yang membuat manfaat bukan pada muatan yang berupa tulisan, tetapi bagaimana cara manusia mengelolanya.
Mengemuka pula sebuah pengalaman sederhana tentang pengalaman merawat pisang yang seluruhnya membusuk setelah ditebang, kecuali satu yang justru masih dapat tumbuh kembali dan berbuah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa manfaat kerap hadir di depan mata, namun tidak selalu disadari.
Kegelisahan tentang dunia pendidikan masa kini juga turut dibahas. Obrolan dini hari itu menyoroti bagaimana proses belajar-mengajar kerap bergeser menjadi urusan sertifikat dan pengakuan formal, sementara pemahaman yang sejati justru terabaikan. Dari pandangan yang muncul dalam diskusi, ada dorongan agar ilmu tidak diperlakukan seperti barang dagangan.
Mengajar dipahami sebagai proses mengalirkan pengetahuan dalam kerja kebersamaan, seperti pohon yang hanya bisa berbuah karena ditopang tanah, air, cahaya, dan perawatan. Dengan cara itulah ilmu diharapkan tidak berhenti pada capaian angka dan atau ijazah, tetapi benar-benar menjadi manfaat yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di bagian akhir, diskusi merentang pada pertanyaan apakah semua ilmu pasti bermanfaat. Terdapat penegasan bahwa tidak semua pengetahuan relevan dengan kebutuhan hidup, dan bahwa kebermanfaatan justru lebih dekat dengan niat, adab, serta bagaimana cara manusia mengelolanya dengan cinta, dan empati.
Redaksi Damar Kedhaton
Febrian Kisworo