Urip Sesemutan dalam Resiliensi Paseduluran: Beban Jadi Penyangga

Adapun tulisan ini saya niatkan sebagai pengantar, sekaligus upaya menjaga momentum Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik yang berlangsung pada 13 Desember 2025 lalu, agar tidak hilang sepenuhnya. Fokusnya adalah memotret situasi dan kondisi yang berlangsung pada hari pelaksanaan, yang akan saya uraikan berikut:

Moderator melaksanakan latihan terakhir beberapa jam menjelang pelaksanaan Milad. (Foto: Fauzi/Damar Kedhaton)

Sejak pagi, saya—menyebutnya sebagai pengalaman diperjalankan—menempuh latihan terakhir sebagai moderator bersama Wak Kaji Bombom di rumahnya Cak Fauzi. Sifatnya bukan latihan berat, mungkin agak tepat bila disebut “senam” pemanasan ringan.

Kurang lebih 2 jam kami habiskan di sana; di sebuah ruang tamu tanpa kursi duduk, hanya beralaskan tikar karpet dengan pemandangan bebuku yang mejeng rapi di rak. Fokus latihan kami cukup sederhana; melatih kecermatan telinga dalam memotret hal-hal teknis “remeh temeh”.

Seperti bagaimana cara memegang mic agar suara terdengar jelas, mencari siasat strategi ketika batuk di tengah acara, hingga penyusunan kata agar empan papan—mengalir lembut, dan bergetar dalam resonansi gelombang khas sinau bareng ala Maiyah.

Di puncak detik-detik sebelum saya dan Wak Kaji Bombom berpamitan, ada satu hal yang diam-diam terasa begitu lembut dalam jangkauan persentuhan batin. Saya memang mengingat beberapa kata yang disampaikan oleh Cak Fauzi, semacam pegangan dan sangu.

Seperti “jimat”, tapi tidak dapat disebut sebagai jimat dalam pengertian umum. “Jimat” itu seperti peneguhan untuk menata-kelola diri; meneguhkan hati, mengendurkan pikiran, dan merilekskan energi agar tidak menjadikan sebagai beban ketika di panggung.

Sebagian orang ada yang memaknai jimat itu sebagai alat yang “serba canggih” untuk membantu kita mencapai apa yang diiinginkan, atau dituju lewat jalan pintas. Tapi, dalam konteks ini saya tidak akan mengajak sampeyan berdebat kusir soal definisi, pengertian, pemaknaan terhadap kata “jimat” itu sendiri.

Kalau dilihat dari spiritualitas budaya bangsa Jawa, terkadang Al-Fatihah itu disebut jimat. Dan, begitu kata jimat disebut, asosiasi spontan hampir setiap Muslim adalah menganggapnya “syirik”, karena dipahami sebagai alat untuk meminta sesuatu tidak kepada Allah.