Urip Sesemutan dalam Resiliensi Paseduluran: Beban Jadi Penyangga

Panitia Milad JMDK melakukan penataan dan persiapan lokasi pelaksanaan acara sejak sore hari. (Foto: Fuad/Damar Kedhaton)

Sekitar pukul 16.00 WIB saya baru tiba di lokasi tempat pelaksanaan Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik. Dulur-dulur DK sudah menyemut menyiapkan berbagai keperluan. Mulai dari tim acara, perlengkapan, konsumsi, hingga tim akomodasi.

Seluruh aktivitas sejak sebelum acara, saat pelaksanaan, hingga mendekati tuntasnya acara, atmosfernya seperti suasana urip sesemutan. Bukan dalam arti inderawi semata, melainkan seirama dalam gelombang bagaimana setiap panitia dan JMDK yang hadir saling bersinergi, berkolaborasi, dan bekerja sama demi suksesnya—dunia dan akhirat—Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik dengan tema “Resiliensi Paseduluran”.

Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan Indal Qiyam, dilanjut Shohibu Baiti. Setelahnya makan bareng sega talaman, lalu bersih-bersih lokasi. Barang-barang yang dipindahkan dikembalikan lagi ke tempat semula.

Dua ruang kelas difungsikan sebagai ruang transit dan konsumsi; di pojokan disetting sebagai pawon dadakan. Ada dulur-dulur yang bertahan di lokasi acara hingga tuntas beres-beres sebelum terbitnya matahari pagi, yang bekerja di balik layar tanpa mendapat sorotan kamera utama.

Sudut ruangan yang secara khusus difungsikan sebagai dapur dadakan. (Foto: Rizky/Damar Kedhaton)

Hingga adzan Subuh terdengar, pekerjaan tim perlengkapan dan konsumsi rampung. Kursi dan bangku kelas dirapikan kembali, peralatan pawon dikemasi, barang-barang masuk ke mobil Kaji Bombom. Kami berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Dalam proses menuliskan pengalaman ini, saya teringat tulisan Mbah Nun dalam Daur 1 (13). Beliau menggarisbawahi tentang pola “meloncat-loncat”. Berikut saya sertakan kutipan yang disampaikan Mbah Nun dalam tulisannya, “Pada dua belas tulisan sebelum ini aku banyak menuturkan sesuatu yang sengaja baru besok atau lusa aku tuntaskan. Semacam ‘pekerjaan rumah’ yang mungkin membuat pikiranmu ruwet dan kusut.”

Kalimat tersebut rasa-rasanya beresonansi dengan apa yang saya alami. Dari peristiwa yang sudah terjadi, lalu menjadi pengalaman, dan perlahan-lahan mengantarkan saya pada titik untuk memperteguh makna melalui pintu Gelap Jadi Cahaya, Beban Jadi Penyangga.

Dari situ pula—pengalaman saya pribadi sebagai moderator dan dulur-dulur lainnya—saya melihat buncahan kesemarakan dalam mensyukuri keragaman, meniti jembatan budaya, dan saling dunga-dinunga, sebagai satu tarikan-embusan napas yang utuh sejak pagi hingga Subuh.

Gresik, 20-22 Desember 2025

Sejumlah anggota JMDK dari tim perlengkapan dan konsumsi tetap bertahan di lokasi hingga menjelang Subuh. (Foto: Kisworo/Damar Kedhaton)

Febrian Kisworo Aji

Redaksi Damar Kedhaton