Belajar Jarak, Menunggu Jeda

Belajar Jarak, Menunggu Jeda

(Part 7 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Foto: Adin (Dok. Progress)

Maka, kesepian adalah sahabat yang kerap mengepungku dengan kejam. Tidak cukup berhenti pada perkara siapa pasangan masa depan, fondasi mana yang menjadi penstabil keuangan, tetapi juga perbaikan diri yang sudah seberapa dalam? Kelimpungan. Aku diterjang segala ketidakpastian. Ditambah dengan impian yang bagi orang-orang lebih baik dilepaskan.

Sayangnya, setahuku. Ada hal-hal yang tidak akan bisa hilang, bahkan ketika kita telah berupaya keras merelakan. Seminimalnya, aku tidak ingin menyerah pada diriku sendiri. Sepanjang jalan yang telah dan akan terlewati, itu ibarat anak tangga yang tidak akan bisa aku lompati. Adakah hal yang lebih bisa memeluk dari menyelami setiap musim yang tunduk?

(Dikutip dari buku “Di Antara Jeda dan Jatuh”, Hlm. 81-82, Maple Media, 2025).

Tidak ada dasar pertimbangan logis dari kutipan di atas. Juga alasan yang relevan kenapa saya mengutip tulisan itu dalam tulisan part 7 ini. Saya hanya merasa terwakili, dan merasa cocok bila kutipan itu berfungsi sebagai pembuka. Agak tepat jika ini mewakili perasaan saya karena beberapa tulisan cukup lama tidak di-review oleh Cak Fauzi. Terasa halus dan lembut, kalau meminjam kutipan di atas—positioning sikap saya pada Cak Fauzi

Sebetulnya, dalam benak pikiran saya memendam keresahan: kenapa beberapa tulisan saya tidak segera dibaca oleh beliau? Menumpuk. Saking banyaknya tumpukan tulisan sampai saya dibuat frustasi. Padahal, momentumnya—menurut perasaan dan pikiran saya—sedang mengalami tegangan tinggi. Bisa-bisanya tulisan saya “dibiarkan” begitu saja. Mungkin sudah sekitar 2-3 mingguan. Kenapa?

Barangkali buku “Di Antara Jeda dan Jatuh” adalah jawabannya. Dini hari kemarin, Sabtu, 10 Januari 2026, buku itu tuntas saya baca dalam sekali duduk: pukul 01.00 – 02.43 WIB. Sebetulnya, tidak ada konteks yang beririsan sama sekali. Antara keresahan saya—dalam diam—mempertanyakan “kenapa” dengan isi buku tersebut.

Lantas, kenapa saya kok berani berasumsi bahwa buku itu adalah jawabannya? Tidak lain dan bukan tidak karena saya memperoleh makna setuntas baca buku itu. Jika saja aku tidak khawatir membuang energi hanya untuk disalahpahami kembali, aku akan menjelaskan panjang lebar. Aku akan menuntut dipahami dan dimengerti. Namun, jika diamku adalah cara untuk membuat semua orang bungkam, itu yang kupilih. (Dikutip dari hlm. 43).

Tulisan yang saya kutip di atas sebelumnya, sebagai pondasi “jawaban”. Saya mencoba belajar meregulasi keresahan: memperlebar sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang, jangkar pandang, lingkar pandang, dan bulatan pandang. Bahwa, sudah banyak peran yang Cak Fauzi lakukan—kepala rumah tangga, suami dari istrinya, ayah dari anak-anaknya, pelayan masyarakat dari pekerjaannya, mahasiswa dari tugas kuliahnya S2, dan seterusnya.

Jujur saja, tulisan ini sempat tidak saya lanjutkan sejak tanggal 11 Januari 2026. Lima hari telah berlalu. Saya kemudian membuka tulisan ini kembali. Tak ada alasan dan pertimbangan apa pun selain memang hanya membiarkan saja.

Jum’at, 16 Januari 2026. File bahan tulisan part 7 saya buka. Saya baca ulang dari kalimat pertama. Saya baca ulang perlahan-lahan sembari meresapi makna di balik kata yang tersirat. Aktivitas itu sengaja saya lakukan sebagai bentuk “menunggu makna” apa yang akan datang menyapa.

Saya anggap ini adalah aktivitas jeda. Titik. Tidak lebih. Berangkat dari kata “jeda”, saya kemudian membuka mesin pencarian dengan mengetik kalimat “jeda menurut caknun.com”. Terasa kurang logis, tapi apa boleh buat, naluri kadung bilang begitu. Sebetulnya, fokus kata kunci utama saya: jeda dan caknun.com.

Muncullah beranda tampilan sesuai kalimat yang saya tulis di mesin pencarian google. Ada beberapa sebetulnya, tapi saya langsung fokus di urutan pertama pada tulisan: Puasa Mengajarkan Pengelolaan Jarak.

“Hidup ini kan mengelola jarak. Demikian pula puasa,” tutur Mbah Nun di Menjelang Senja edisi kelima (29/04/2021). Jarak ini bisa diartikan harfiah maupun simbolis. Seperti halnya jeda dari subuh ke maghrib, jarak yang diambil orang berpuasa antara lain jangan mendekati makanan dan minuman.

Dimensi mendasar dari konsep puasa itu bisa diperluas, diperlebar, diperdalam, dipersempit, sekaligus diperuncing. Misalnya pola pikir kita terhadap sesuatu, baik yang di dalam diri maupun luar diri. Misalnya terhadap amarah, nafsu, sampai anasir psikis lainnya.

Pengelolaan jarak ini penting bagi manusia agar tak gampang kagetan dan gumunan. Jika diperluas lagi makna “jarak” terhadap seluruh dimensi, lapisan, skala, serta aspek-aspek dalam kehidupan ini, hemat Mbah Nun, ada jarak ruang, jarak waktu, dan jarak budaya.

Maka, seturut dengan “Puasa Mengajarkan Pengelolaan Jarak”, yang ditulis oleh Mas Rony K. Pratama, barangkali ini yang saya maksud sebagai “menunggu makna” apa yang akan datang menyapa.

Tentu, dan wajib bagi saya untuk berterima kasih kepada beliau: sedekah waktu, energi, sekaligus tenaga untuk mencatat-intisarikan bekal yang disampaikan Mbah Nun di Menjelang Senja edisi kelima.

Melalui tulisan tersebut, pendalaman makna saya makin menguat terhadap respon Cak Fauzi kepada tulisan saya: kenapa kok lama tidak segera di-review? Maka, adanya “jarak”, bahkan memberi “jarak” ternyata diperlukan. Apalagi di tengah derasnya banjir informasi hari ini.

Saya yang terlahir-lahir-dilahirkan di zaman masa kini, menyadari betul bahwa banjir informasi itu nyata adanya. Ia tak bisa dielak, apalagi dihindari dan dijauhi. Memang, sebetulnya saya cukup kesal dalam konteks tulisan saya yang perlu di-review. Tapi, di sisi lain saya mendapati sebuah makna sekaligus ilmu.

Seperti dalam tulisan Mas Rony, hendaknya kita perlu sadar: memahami kapan harus dekat atau jauh selama menjalin komunikasi. Hal ini berlaku pula dalam kehidupan bebrayan seseorang. Bahwa, bukan soal fast respon atau slow respon , tetapi bagaimana wilayah interaksi sosial semestinya dikelola penuh sadar.

Sore itu, Mbah Nun juga menginventarisir sejumlah istilah yang kerap dipersejajarkan meski memiliki perbedaan muatan makna. Sebagai contoh, bedanya pelit dan hemat; keras kepala dan istiqomah; serta legowo dan penakut. “Jarak antara satu kata dengan yang lainnya itu sangat tipis,” terang Mbah Nun.

Dari dua referensi tulisan yang saya kutip dalam tulisan part 7 kali ini: buku “Di Antara Jeda dan Jatuh”, dan “Puasa Mengajarkan Pengelolaan Jarak”, mengantarkan saya untuk masuk dalam lapisan kesadaran betapa pentingnya pemahaman konteks. Entah itu konteks diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sosial.

Jika seseorang sudah terlanjur terjebak pada ketakseimbangan memahami sesuatu, obat hati atau thibbil qulub akan memberikan penerang. Menurut Mbah Nun, yang disebut obat hati adalah obat dari ketidakseimbangan, obat dari kebanteren (terlalu cepat), obat dari kalonen (terlalu pelan).

Di titik ini, saya tidak sedang ingin menyimpulkan apa pun. Saya justru mulai curiga pada dorongan untuk segera menyimpulkan. Barangkali, di situlah letak masalahnya. Terlalu cepat ingin selesai, terlalu buru-buru ingin dipahami.

Padahal, Al-Qur’an sendiri mengingatkan: “Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’, sementara mereka belum diuji?” (QS. Al-Ankabut [29]: 2). Bisa jadi, jeda yang saya alami ini memang bagian dari ujian itu.

Saya juga teringat bahwa wahyu tidak turun sekaligus. “Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan berangsur-angsur…” (QS. Al-Isra’ [17]: 106). Ayat itu terasa sangat sederhana, tapi menohok.

Kalau firman Tuhan saja diberi jeda, kenapa saya menuntut semua hal segera datang tepat waktu: respon, perhatian, juga pengertian? Dalam konteks wahyu, saya sedang belajar berupaya memosisikan diri sebagai hamba. Hamba yang belajar mentadabburi ayat-ayat Al-Quran—kandungan muatannya tak pernah usang ditelan zaman. Kemudian saya jadikan cermin dalam merespon situasi dan kondisi sehari-hari.

Pelan-pelan saya juga mulai belajar berdamai dengan jarak. Apalagi ketika membaca ayat, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf [50]: 16). Ayat ini bagi saya membongkar kesadaran batin sekaligus lahir: jangan-jangan jarak yang saya keluhkan itu bukan karena ditinggalkan, melainkan karena saya sendiri terlalu sibuk pada keramaian, terlalu banyak keributan di dalam kepala, sampai-sampai tak peka pada “kedekatan” dalam kerangka konteks situasi dan kondisi.

Maka, barangkali benar apa yang sering disampaikan Mbah Nun: hidup ini soal mengelola jarak. Kapan mendekat, kapan menjauh. Kapan bicara, kapan diam. Belajar ngegas dan ngerem. Bahwa, jeda dan jarak bukanlah musuh. Ia hanya sering disalahpahami. Dan jarak tidak selalu berarti menjauh, kadang justru itulah cara paling aman untuk tetap terhubung, sekaligus saling terhubung.

Tulisan ini saya biarkan berakhir seperti ini saja. Tidak rapi. Tidak tuntas. Karena memang saya belum selesai belajar. Belum kaffah berguru kepada Mbah Nun. Kalau hari ini saya masih harus menunggu, mungkin itu bukan hukuman. Bisa jadi, itu adalah cara Tuhan dan kehidupan yang mengajari saya untuk tidak terburu-buru dalam menuntut apa pun—selain tetap setia berjalan. Dan terus belajar memperteguh makna. Serta memahami konteks: jarak, jeda, waktu, dan ruang.

Cerme, 11-16 Januari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.