Bismillah, Tapi Nekad
(Tadabbur Daur part 3)

Sebagai generasi digital, saya melihat adanya kecenderungan yang dilakukan kebanyakan orang, selalu narsis di dunia maya. Apa-apa perlu diunggah. Namun, saya tidak punya keberanian untuk mengatakan hal tersebut sepenuhnya salah. Sebab, di dalam diri saya sendiri pun tersimpan ego dan nafsu untuk memamerkan pencapaian—yang bagi sudut pandang saya, menjadi ukuran kesuksesan.
Konten yang trending topic selalu membanjiri media sosial, apa pun namanya. Ironisnya, justru konten-konten yang minim mutu sering kali paling cepat nyanthol di rating tertinggi.
Awalnya, saya mengira ini hanya soal kebiasaan bermedia sosial—sekadar melihat, menikmati, lalu selesai. Namun, tanpa saya sadari, cara pandang yang dibentuk oleh trending topic itu merembes ke dalam cara saya menilai diri sendiri. Apa yang layak disebut sukses, apa yang pantas dibanggakan, bahkan ke mana arah hidup harus dituju. Semuanya terasa seperti ikut ditentukan oleh apa yang sedang ramai diperbincangkan di sana.
“Yakni membawa apapun yang ada dalam diri mereka, sampaipun Agama, ke penyesuaian terhadap tren. Mereka hidup dari tren ke tren. Merasa tidak punya harga diri kalau tidak mengikuti tren. Mereka tidak hidup kalau tidak terlibat dalam tren. Mereka beralamat di masa silam kalau tidak mengabdi kepada tren. Mereka ikut ke manapun angin berhembus. Seluruh isi pikiran, selera perasaan, kehidupan beragama mereka, diadaptasikan kepada tren yang sedang berlangsung. Nilai agama, Kitab Suci, Nabi, Malaikat, dan Tuhan, diangkut untuk dipaksa menyembah tren…” (Daur 1 – 258).
Jujur saja, ketika menulis ini, saya diliputi rasa takut. Sebab, sebagian besar ego dan nafsu saya juga haus akan tren tersebut. Semakin saya maknai dan renungi, sesembahan baru bernama “Tuhan trending topic” diam-diam pernah saya “imani”—meskipun hanya terbesit berupa rasa keinginan yang tak terbatas di dalam diri.
Hingga tiba pada hari di mana saya harus “hengkang” dari lingkungan—yang saya anggap adalah kebutuhan saya, cita-cita saya, karier saya, impian saya, target tujuan hidup saya—kurang lebih sembilan bulan lalu. Saya menyebutnya perjuangan ideologi yang teramat sunyi.
Saya seperti “dipaksa” melepaskan diri dari penjara pikiran: ego, nafsu, harapan, ambisi. Rentang tiga tahun, dari 2022 hingga 2025, hampir menyeret saya jatuh ke jurang depresi. Nalar terkuras, kesabaran terkikis. Saya merasa seperti berdiri di tengah rimba hutan yang rimbun akan pepohonan dan semak belukar: gelap, lebat, dan dipenuhi ancaman hewan buas yang siap menerkam kapan saja.
Bermula dari situ, saya mulai menyadari bahwa saya tidak benar-benar memiliki pegangan yang kokoh. Banyak yang ingin saya kejar, tetapi masih sedikit yang benar-benar bisa saya pahami. Dalam kekosongan itu, perlahan saya mulai merasakan kembali apa yang dulu pernah saya dengar, saya ingat, saya catat, namun belum sepenuhnya saya hayati—sepanjang perjalanan berMaiyah yang dimulai dari titik nol duduk di bangku kursi SMA.
Namun alhamdulilah—dan ini wajib saya syukuri—ternyata saya tidak benar-benar sendirian. Saya ditemani Maiyah. Benih kesadaran yang telah ditanam Mbah Nun sejak puluhan tahun silam, buahnya selalu bisa saya petik-nikmati, kapan pun saya kehendaki.
Misalnya dalam mengambil pekerjaan, yang saya tempuh melalui ikhtiar panjang—dalam logika pikiran dan perasaan. Termasuk bagaimana saya mencoba menghidupkan perlawanan badar: sabar, gak grusa-grusu, dan berusaha berilmu dalam setiap tubuh melangkah.
Yang membuat saya tidak sat-set dalam mengambil setiap keputusan. Misalnya: antara kerja sekaligus lanjut pendidikan S2 atau lebih fokus bekerja saja, atau ikhtiar menjemput jodoh—semuanya saya jalani dengan pergulatan batin-pikiran yang tidak sederhana. Bahkan pernah saya nekat pergi sendiri ke luar provinsi untuk menemui seseorang yang tidak lebih dari 25 menit. Dalam rangka menyatakan perasaan, sekaligus meyakini betul bahwa seseorang itu dapat diajak bekerja sama. Dan pada akhirnya, hasilnya gagal total.
Saya akui dengan jujur, bahkan di dalam keputusan-keputusan krusial itu, saya belum sepenuhnya “bebas merdeka”. Sebab, pada titik-titik tertentu, ada sebagian dari diri saya yang ingin memenuhi ego, nafsu, dan ambisi diri, yang mungkin saja diam-diam dibentuk oleh trending topic—meskipun saya sendiri sering tidak menyadarinya.
Barangkali kegagalan itu memang buah dari apa yang pernah saya tanam sebelumnya—terlepas dari konteks jodoh yang tetap berada dalam kuasa tangan Tuhan. Jika coba saya telusuri lebih dalam lagi, akar kesalahan itu tidak jauh dari rasa ego, ambisi, dan nafsu—yang juga sedikit banyak terpapar oleh arus tren itu sendiri, walaupun bentuknya masih berupa keresahan batin.
Rasanya tidak selalu manis, ada pahit yang harus ditelan. Namun, justru di situ saya merasakan kesegaran: buah dari kesadaran yang ditanamkan gelombang “wingit” Maiyah.
Di tengah kepungan “Tuhan trending topic”, di mana citra diri kerap hanya berhenti pada permukaan tanpa kedalaman, saya diliputi rasa sepi. Kesepian yang mungkin juga diam-diam dirasakan oleh sebagian anak cucu JM lainnya.
Di tengah keadaan seperti itu, saya seperti sudah tidak punya lagi pegangan selain terus berjalan, meskipun tanpa kepastian arah yang benar-benar saya pahami. Terus berjalan sendiri adalah buah yang saya petik dari kesadaran Maiyah.
Lalu, tanpa direncana, saya dipertemukan dengan satu judul tulisan berbeda dalam rubrik Daur—yang bahkan tidak masuk dalam 44 daftar yang sebelumnya sudah saya siapkan: Tiga Tahun Membaca, Sembilan Tahun Menunggu Nasib: Antara Salah, Belum Benar, dan yang Benar.
Satu judul tulisan yang saya maksud: Rimba Gelap di Depanmu Loncat Masuk!
Saya bingung sekaligus gembira. Rencana semula, saya men-tadabburi tulisan dari daftar yang telah saya susun sebelumnya. Namun ternyata di tengah jalan tiba-tiba berubah arah begitu saja.
Dan anehnya, saya merasa berani “bersaksi” bahwa tulisan yang datang tiba-tiba ini seakan lebih dulu menubuh di dalam pikiran dan perasaan saya. Apa yang ditulis Mbah Nun terasa bukan lagi hanya kebetulan, melainkan sebuah kebenaran yang sedang menemukan jalannya sendiri.
“Engkau kebanyakan adalah pejalan kehidupan, dengan api membakar hangus di belakangmu, dan rimba gelap di depanmu. Aku menyaksikan juga bahwa engkau berani mengambil keputusan ‘loncat masuk!’, dengan mental yang engkau menyebutnya bukan hanya tekad tapi ‘nekad’. Engkau meloncat masuk dan memperkembangkan aji-aji dan kecanggihan silatmu untuk ‘bismillah’ menjalani apa yang engkau sedang dan akan jalani. (Daur 1 – 36).
Cerme, Senin, 6 April 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair, hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.