Catatan Kegelisahan Seorang Anak Cucu yang Belum Kaffah
(Part 3 Belum Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Sebetulnya, saya tidak tahu persis kenapa tiga bulan menjelang momen Milad ke-9 Damar Kedhaton, batin saya seperti diguyur hujan deras: curahan energi yang melimpah, sekaligus membingungkan.
Situasi dan kondisi itu membuat batin gelisah, dan pikiran resah. Kepala rasanya penuh, seakan ruang di dalamnya tak lagi memadai untuk menampung semua yang berdesakan. Dalam kondisi seperti itu, saya tidak menemukan cara yang lebih jujur dan efektif selain meluapkan semuanya ke dalam tulisan.
Barangkali, apa yang saya alami dan rasakan ini sebetulnya sudah tidak asing lagi. Bisa jadi, itu adalah kondisi manusia pada umumnya: gelisah. Sebuah keadaan batin yang jamak dirasakan, tetapi sering kita abaikan.
Namun, di tengah kegelisahan itu, saya perlu mewajibkan diri untuk bersyukur kepada Allah. Bersyukur atas kehadiran “teman”, “pendamping”, kanca ngopi dan melek’an—berhari-hari selepas tutup JC hingga menjelang Subuh. Teman yang saya maksud itu tiada lain ialah diri saya sendiri.
Rasa syukur itu mencapai puncaknya ketika tangan dan jemari ini seakan digerakkan hingga akhirnya mampu merampungkan sembilan tulisan esai menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik.
Kegelisahan itu menemukan resonansinya ketika saya menjumpai Surat Al-Ma’arij ayat 19 yang berbunyi Innal insana khuliqa halu’a—sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat suka mengeluh.
Perlu dicatat dan diingat, meski pernah nyantri di Njoso selama enam tahun (2011-2017), hal itu sama sekali tidak bisa dijadikan legitimasi bahwa saya menguasai Bahasa Arab, apalagi ilmu alatnya.
Justru, selama bertahun-tahun itu saya belum sepenuhnya menyadari bahwa Bahasa Arab adalah bahasa dengan keindahan dan kedalaman makna yang luar biasa. Banyak kandungan ilmu di dalamnya yang jika digali dan dikaji, seolah tak pernah habis. Dan, Al-Qur’an sendiri, diturunkan dalam bahasa itu.
Kesadaran ini betul-betul menemukan akarnya ketika saya menyadari bahwa saya belum kaffah berguru kepada Mbah Nun. Pemaknaan itu mengantarkan pada ingatan saya ke belakang—jauh sebelum saya tenggelam dalam gelombang frekuensi Maiyah—ke satu momen ketika saya, tanpa benar tahu apa-apa, pernah “mengkampanyekan” kepada publik. Sebuah letupan energi yang hanya bisa diterjemahkan dalam bahasa puisi; Maka lewat tulisan Aku berTuhan.
Belakangan ini, rasa takut semakin sering menyergap. Kecemasan datang tanpa aba-aba, seolah ribuan busur anak panah melesat dari kejauhan menuju arah saya. Kondisi inilah yang saya sebut sebagai keresahan: pikiran yang ingin meledak, batin yang belum menemukan sandaran.
Apa yang saya alami itu rupanya telah lama diingatkan Allah dalam lanjutan Surat Al-Ma’arij ayat 20 yang berbunyi Idza massahus syarru jazu’a—apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, ketika busur anak panah itu semakin dekat ke hadapan wajah saya, ayat berikutnya datang sebagai peringatan Wa idza massahul khairu manu’a—dan apabila ia mendapat kebaikan, ia menjadi kikir.
Keresahan yang saya alami ini, perlahan saya pahami sebagai upaya mengeksplorasi bagaimana menjadikan resah sebagai ‘ilmu. Sejalan dengan pesan leluhur Jawa-Nusantara: Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Maka, keresahan itu saya dudukkan perkaranya. Saya cari konteksnya, gejalanya, dan posisinya agar ia empan papan.
Momentum perjumpaan saya dengan Surat Al-Ma’arij ayat 19-21 menjadi titik penting. Tiga ayat itu seakan berbicara langsung dengan hati dan pikiran saya. Bahwa, kegelisahan memang niscaya dialami manusia. Tetapi saya tidak boleh berhenti pada kegelisahan itu sendiri—baik kegelisahan karena musibah, maupun kegelisahan pikiran seperti yang tengah saya alami.
Ayat ke-21 justru menjadi peringatan paling sunyi sekaligus menakutkan; bahwa ketika kelak saya menerima kebaikan, terbuka jurang lain bernama kekikiran. Sebuah jebakan yang mengintai jika saya lengah, tidak peka, dan tidak waspada.
Di luar keterhubungan makna berurutan dalam Surat Al-Ma’arij ayat 19-21, pada posisi hidup seperti ini ketika kepala saya terasa berat oleh banyaknya pikiran. Ada pengingat lain, ayat-ayat pertolongan Allah yang hadir sebagai kesegaran batin, “Bukankah bersama kesulitan ada kemudahan?” (QS. Al-Insyirah Ayat 6).
Jika diletakkan dalam konteks Simpul Maiyah, mungkin inilah salah satu wajah aktivitasnya sebagai Majelis Ilmu dengan senapan Tadabbur.
Cerme, 17 Desember 2025
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan