Ke(diri) 1
(Ruang Negosiasi Antara Laku, Harapan, dan Jalan Pulang)

Hidup saya kian (terasa) hampa. Segala langkah yang pernah menjadi usaha saya, perlahan mulai terasa tak bernyawa. Entah, hal apa yang membuat saya gelisah, sehingga menjadikan kepercayaan diri ini lambat laun melemah.
Atas nama usaha yang nyaris menemui jalan buntu, adakah telinga yang ikhlas dan tabah mendengar sesambatan saya ini tanpa ragu? Ah, saya 100 persen tidak yakin. Apalagi membaca cerita panjang lebar saya lewat tulisan. Meloncat-loncat. Tak jelas arah dan maksudnya.
Sebelum patah membuat saya ragu, saya mewajibkan diri untuk menyapa Ke(diri). Terima kasih telah memberi kesempatan bagi saya yang mulai kehilangan arti. Bertemu Ke(diri) pasca luka yang membuat saya nyeri dan sakit hati; melepas penat stres, depresi, tekanan, yang berbalut emosi.
Terima kasih Ke(diri). Yang telah menyalakan diri saya kembali. Banyak hal yang belum tuntas saya pelajari di Ke(diri). Semoga waktu berpihak baik—untuk mempertemukan kita lagi. Khalidina fiha abada.
Ke(diri) layaknya cahaya dan misteri. Merangkul hangat, memijat penat, mengingatkan saya akan waktu rehat dan istirahat. Menarik napas sejenak, menarik diri sementara dari dunia yang penuh akan disrupsi informasi, disinformasi, hoax, dan caci maki.
Berkumpul pada pertemuan “agung” Ke(diri) sebagai pengisi Lubang di Hati. Bagi saya, Ke(diri); yang selalu gagah, tabah, sekaligus hangat menemani. Mendengar segala kesah agar terobati. Tertawa renyah dalam diskusi atas kisah-kisah yang datang pergi dan silih berganti.
Kediri, (Taman Baca Mahanani); semoga lekas jumpa kembali!
***
MEMBACA
(By: Ivanka Sangsaka)
Ada yang lebih kejam
Dari sekadar keresahan duniawi
Ada yang lebih tragis dari
tangis para pengemis
Di dunia yang bengis
Bridge:
Yang lebih menakutkan
Ketika manusia tak lagi mau membaca
Namun ada yang lebih sulit dari sekadar membaca
Adalah membaca dirinya
Reff:
Kebenaran tak selamanya tertulis
Terurai seperti kerikil-kerikil di jalanan
Kebenaran pasti akan selalu ada
Jika kau mau membaca dengan ketulusan
***
Sejujurnya, saya lelah (merasa) “gagal”, sekaligus karena kehilangan makna. Namun saya memilih menerima semuanya bukan semata sebagai cambuk hukuman, melainkan sebagai tamparan yang membangunkan sekaligus undangan menuju kesadaran berlapis-lapis. Sebab saya wajib sadar: Sebelum Cahaya, Tuhan lebih dulu kekal dan setia menemani dalam kegelapan.
Ke(diri) bagi saya adalah tempat geografis sekaligus kondisi jiwa—ruang singgah bagi perjumpaan fisik yang nyata dan keteduhan batin. Di sana, keresahan saya rawat sebagai pintu menuju rasa penasaran; darinya saya terus berikhtiar mencari jawaban, sepanjang laku khalidina fiha abada.
Saya dibuat mengerti oleh keresahan yang tengah saya alami: saya tidak sekadar mencari makna hidup, melainkan sedang diproses oleh guru bernama kehidupan. Selama proses itu berlangsung, saya memilih untuk terus berjalan, dengan kesadaran bahwa setiap kegagalan adalah jalan pembelajaran, setiap kehampaan adalah jeda pemaknaan, dan setiap perjumpaan dengan Ke(diri) adalah cara Tuhan merawat kembali damar di dalam diri saya.
Saya terus menulis karena belum kaffah berguru kepada Mbah Nun. Karena itu, saya mencoba meresonansikan diri ke dalam salah satu tulisan beliau, Tadabbur Hari Ini (15). Pada paragraf akhirnya, saya menemukan pegangan batin sebagai berikut:
“Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan. Tapi saya tetap nyuklun. Allah sungguh-sungguh Maha Blackhole yang menyerap segala energi dan cahaya diri. Dan saya benar-benar tidak tahu apa dan bagaimana nasib saya esok hari.”— Emha Ainun Nadjib, 13 Mei 2023
Malam terakhir MAHANANI Art & Festival Day 2
Taman Baca Mahanani, Mojoroto, Kediri, Sabtu, 18 Mei 2024.
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.