Resiliensi Paseduluran di Tengah Zaman Penuh Jebakan

Akal Pikiran: Dua Sisi Mata Koin

Abah Hamim mewanti-wanti kita semua tentang bahaya akal pikiran. Misalnya, dalam konteks ketika kita menerima amanah berupa bantuan—baik barang maupun uang. Gagasan yang tampak cemerlang dan setinggi langit, jika tidak diimbangi kebeningan hati, bisa membuka ruang nafsu yang besar dan membelokkan niat awal. Pikiran lalu bekerja membenarkan kepentingan pribadi, bukan menjaga amanah orang banyak.

“Perlu kita ingat bersama, pikiran adalah alat yang berbahaya. Misalnya, dalam konteks ada bantuan atau kita menerima bantuan; gagasan kita tinggi, nafsunya gedhe, jelas akan diambil buat kepentingan pribadi,” papar Abah Hamim.

Abah Hamim menjelaskan, banyak kerusakan sosial bermula dari akal yang dilepaskan dari kendali hati nurani paling dalam. Akal pikiran bekerja seperti dua sisi mata koin: ia bisa menjadi alat penghancur, tetapi juga bisa menjadi penyangkal keburukan.

“Di mana-mana sudah ada banyak kerusakan, keculasan, kecurangan ya karena pikiran. Bahwa akal pikiran itu bekerja seperti dua sisi mata koin. Akal pikiran bisa menghancurkan kita. Akal pikiran juga bisa menyangkal keburukan,” tuturnya.

Ketika akal dibiarkan berdiri sendiri, ia bisa menjadi licik. Sebaliknya, ketika akal dituntun oleh rohani yang sehat dan kuat, ia akan menjadi cahaya yang menerangi langkah.

Karena itu, latihan rohani tidak bisa dipisahkan dari realitas keseharian. Ia justru harus dijadikan fondasi kesadaran utama dalam menghadapi realitas, sekaligus benteng pertahanan agar manusia tidak mudah tergoda oleh jebakan zaman.

Sesi elaborasi tema : Dulur Jamaah Maiyah dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur menyimak pemaparan dengan serius dalam suasana majelis ‘ilmu Maiyah yang dimoderatori Cak Majid (Foto: Gogon/Damar Kedhaton)

Ilmu sebagai Cahaya

Menutup refleksinya, Abah Hamim mengajak kita untuk terus mewarisi bekal yang telah ditanamkan Mbah Nun—baik melalui pemikiran, buku, maupun laku hidup. Warisan itu tidak cukup disimpan sebagai romantisasi belaka. Dalam versi saya, romantisasi di sini merujuk pada pemuasan eksistensi sebagai “Arek Maiyah” yang kemudian diunggah sebagai konten di berbagai akun media sosial.

Bagi Abah Hamim, warisan itu perlu diinternalisasi sebagai laku bersama, diolah melalui sinau bareng, serta perjumpaan dengan dunia nyata di berbagai bidang dan lingkungan sosial.

“Semoga, kita semua bisa mewarisi apa-apa yang telah dibekali Cak Nun kepada kita semua. Baik itu pemikirannya, buku-bukunya. Nah, karena itu, pada titik ini perlunya ada diskusi.”

Beliau menegaskan bahwa ilmu itu bukan sekadar pengetahuan informatif, melainkan mengandung muatan penerang atau cahaya.

“Ilmu itu adalah penyelamat paling hebat. Ilmu itu cahaya di atas cahaya. Orang yang selamat di akhirat kelak adalah orang yang bercahaya,” pesan Abah Hamim memungkasi.

Gresik, 16 Desember 2025

Febrian Kisworo Aji

Redaksi Damar Kedhaton Gresik