Anomali Regenerasi, Depresi, dan Jalan Shiraatal Mustaqiim

Anomali Regenerasi, Depresi, dan Jalan Shiraatal Mustaqiim
(Tadabbur Daur part 6)

Apa sih yang bisa kita harapkan buat bangsa kita saat ini? Heuheu.

Pertanyaan itu kerap datang begitu saja, tanpa pernah saya rencanakan. Bukan karena saya pesimis, tapi karena sering kali saya sendiri belum benar-benar tahu: apa yang sebenarnya bisa saya ubah, dan dari posisi mana latar belakang saya berbicara.

Bicara mengubah, tentu ada objek dan subjeknya. Subjeknya siapa? Saya? Kita? Kita dalam komunitas? Organisasi? Pekerjaan atau profesi? Suporter bola? Ormas? Atau bahkan parpol? Lalu objeknya apa? Indonesia sebagai wilayah teritorial? Indonesia sebagai ruang kultural? Atau Indonesia dalam arti yang sudah dibingkai oleh pemilik otoritas kebijakan?

Dalam banyak hal, “kita” sering terdengar begitu besar: hebat, keren, paling religius, pandai, atau merasa paling ahli dalam bidangnya—juga disertai bukti empiris sertifikat keterampilan tertentu, misalnya. Padahal, bisa jadi ia hanya asumsi yang tidak pernah benar-benar kita jernihkan kompleksitas di baliknya.

Keresahan semacam ini membuat saya merasa harus mendalami kajian ilmu filsafat. Salah satunya pada wilayah filsafat sosial: ketika relasi individu dan kolektif tidak selalu sesederhana yang kita bayangkan. Bahkan Jean-Jacques Rousseau pun pernah membayangkan “kehendak umum”, tapi dalam praktiknya, siapa yang sungguh-sungguh bisa memastikan bahwa dirinya benar-benar mewakili “kehendak umum” itu?

Semakin dipikir, rasanya bukan soal besar-kecilnya perubahan, tapi sering kali saya merasa belum selesai mendudukkan diri sendiri secara jernih dan jangkep: saya ini sebenarnya berdiri di mana, dan punya jangkauan sampai sejauh apa.

Bermula dari keresahan tersebut, pertanyaan tadi seperti berbalik arah. Memantul kepada diri saya sendiri.

Boro-boro bicara mengubah yang luas-luas, mengubah diri sendiri saja—agar sedikit lebih baik dari hari kemarin—sering kali susahnya minta ampun. Sungguhan. Ada dinamika yang tidak pernah benar-benar stabil. Kadang mood terasa penuh, ringan, seperti ada tenaga untuk bergerak. Di waktu lain, badan terasa lelah, pikiran keruh, hanya karena kurang istirahat atau tidak peka membaca batas diri.

Apa yang saya, sampeyan, atau kita alami dalam sehari-hari itu barangkali tidak jauh dari yang pernah dibicarakan dalam psikologi eksistensial. Viktor Frankl pernah menyinggung bahwa manusia tidak selalu bebas dari kondisi, tetapi selalu punya ruang untuk menentukan sikap terhadap kondisi itu.

Hanya saja, ruang itu sering kali tidak mudah kita akses, apalagi ketika tubuh, pikiran, dan emosi sedang tidak selaras. Dan, saya pribadi meyakini hal demikian—ketika tidak selaras, lebih baik meneb dulu.

Dari hal-hal yang kelihatannya sepele itu, pelan-pelan saya merawat keresahan secara sadar: barangkali persoalannya bukan semata pada besar-kecilnya perubahan, tetapi pada kemampuan saya mengenali diri sendiri.

Kapan perlu berhenti, kapan perlu melangkah. Kapan memberi jeda pada tubuh, pikiran, dan jiwa, dan kapan mendayagunakan semuanya dengan sungguh-sungguh. Meminjam bahasanya Mbah Nun: urip iku kudu pinter ngegas lan ngerem.

Jika ditarik dalam skala yang lebih luas, keterkaitan individu dan kolektif dalam konteks bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, barangkali ada masa “keemasan” yang sengaja saya lewatkan: dunia kampus. Sebut saja satu di antara sekian banyak di dalamnya: dunia pergerakan atau Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek).

Secara pemikiran—fondasi filosofis dan ideologisnya—saya mendukung penuh. Sebab, saya menyadari dan meyakini bahwa di sanalah ruang untuk mengasah soft skills (kepemimpinan, komunikasi, negosiasi), memperluas jaringan hingga ke tingkat nasional (networking), membentuk pola pikir kritis-strategis, serta meningkatkan kedewasaan emosional dan ketahanan mental yang sangat berguna di masa mendatang.

Namun, saya secara sadar dan sengaja memilih untuk tidak menyelami dunia tersebut. Barangkali lebih tepat bila saya disebut mahasiswa kupu—kuliah pulang. Pada semester awal, saya sempat berdomisili di asrama kampus, tetapi tidak berlanjut di semester berikutnya—saya diam-diam keluar dan pilih ngekost.

Sebuah kamar kost berukuran sempit, yang menjadi titik momentum bagaimana saya berproses dan bertumbuh di Surabaya. Di Universitas Maiyah, dengan dosen utama Padhangmbulan, di Fakultas Bangbang Wetan, dengan mengambil Program Studi Damar Kedhaton, yang saya ambil fokus Mata Kuliah TULISAN (Tuangkan LISan jadi kenangAN).

Yang kemudian bisa melahirkan satu tim futsal bernama Al-Ubaidi. Komposisi pemainnya lintas prodi, fakultas, bahkan kiper cadangannya bukan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Kamar kost yang juga mengantarkan saya melakukan penghayatan begitu mendalam: Gimana Sih Rasanya Jadi Pengamen?

Kemudian, entah semester empat atau lima, saya mulai mengatur jadwal pulang-pergi dan tidak lagi domisili di sekitar kampus. Hingga akhirnya lulus sambil bekerja menjaga toko di Scudetto Sport Cerme, Gresik—kini bangunan tokonya sudah rata dengan tanah sejak beberapa tahun lalu. Saya pun lupa persis kapan waktunya.

Bekal saya sebetulnya sederhana, bahkan boleh disebut tidak logis: Dulu Saya Diwanti-wanti Jangan Ikut Organisasi, Tapi Malah Bertemu Keluarga Di Sini.

Sejumlah keresahan yang saya alami, semula saya kira hanya saya tanggung seorang diri. Ternyata, saya tidak sendirian. Saya merasa gembira, hati menjadi lapang, dan depresi yang saya alami perlahan mereda, berkat circle pertemanan “baru” saya: Seger, Mbah Markesot, Brakodin, Tarmihim, Junit, Toling, dan Jitul.

Mereka mengajak saya secara merdeka—tanpa pemaksaan, tanpa rekrutmen keanggotaan, tanpa perlu ada Kartu Tanda Anggota—yang membuat saya bebas keluar-masuk sewaktu-waktu, untuk memasuki ruang Ihdinaash… Lalu, saya menjadikannya sebagai jalan syukur—Itu Perintah atau Kesadaran?—sebab dari situlah saya tidak jadi tenggelam dalam samudera depresi yang sia-sia. Depresi yang saya resahkan justru menemukan Shiraatal mustaqiim.

“Memang Mbah Markesot lumayan serius traumanya terhadap 1998. Dan, anak-anak muda Junit Toling Jitul Seger beserta komunitas dan jaringannya beruntung pernah mendengar itu. Markesot berpikir bahwa ketika itu ia berjuang bersama kaum pembaharu yang cinta tanah air dan ingin menyelamatkan rakyat bangsa dan Negaranya dari cengkeraman kelaliman penguasa, dari korupsi, perampokan, penjambretan, pencopetan, dan penggangsiran.”

“Ternyata yang terjadi adalah Markesot membukakan jalan bagi perampok-perampok baru yang lebih rakus, maling-maling yang lebih serakah, penjambret pencopet pengutil yang lebih ngawur dan menjijikkan. Dan Junit Toling Jitul Seger beserta teman-teman segenerasinya ini dibesarkan oleh penipuan-penipuan besar semacam itu.”

“Dan syukur mereka tidak perlu menghabiskan waktu sampai tua seperti Markesot untuk memperoleh bahan-bahan kewaspadaan dan efektivitas perjuangan.”

Sepanjang rentang tiga tahun—2022 hingga 2025—saya merasa seperti diperjalankan memasuki “rimba gelap” tersebut. Dalam momen Pemilu, misalnya, rakyat memang selalu menjadi trending topic pembicaraan. Sayangnya, mereka kerap hanya dilihat sebagai angka, data, statistik—bukan dipandang sebagai manusia dengan ragam keotentikannya.

Tahqiq “Anomali Regenerasi” (Daur 1 – 258).

“…Mayoritas kaum muda adalah jiwa-jiwa remaja yang dihambat untuk menjadi dewasa. Mereka muqallidin, ubyang-ubyung, rubuh-rubuh gedhang, mudah kagum, sangat tidak punya kegelisahan untuk menjadi objek dan pembebek…”

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat ayat 21).

Cerme, Kamis, 16 April 2026

 

Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)

JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.