Cogito Ergo Sum ke Afala Ta’qilun – Jalan Malio Bara

Cogito Ergo Sum ke Afala Ta’qilun – Jalan Malio Bara

(Tadabbur Daur part 5)

Sempat terbesit dalam benak pikiran saya soal Tadabbur Daur. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, seolah tak memberi jeda sekali pun:

Akan saya apakan ratusan tulisan tersebut? Bagaimana cara saya melakukan pendekatan pada masing-masing judulnya? Apakah ia saya jadikan cermin pengalaman pribadi? Atau saya gunakan sebagai pijakan kerangka pikiran untuk merumuskan arah kehidupan mendatang?

Misalnya, ketika suatu judul tertentu memberi isyarat tentang pendidikan, mungkinkah ia saya olah menjadi kerangka berpikir bagi pendidikan masa mendatang—dalam lingkup keluarga, relasi suami-istri, hingga anak-anak yang belum lahir?

Pertanyaan-pertanyaan lain sebenarnya jauh lebih banyak. Namun, tidak semuanya sempat saya tangkap dan catat. Berbicara tentang “pertanyaan”, saya pun teringat dhawuh Mbah Nun; “Urip kuwi piye carane awakmu pinter gawe pertanyaan.” Hidup itu soal bagaimana kita cakap dalam merumuskan pertanyaan. Kurang lebih demikian yang sanggup saya ingat.

Menariknya, ingatan itu seakan menemukan konteksnya pada Rabu, 8 April 2026. Saat itu, saya menjumpai sebuah unggahan di Instagram dari akun @indradwiprasetyo. Ia membahas sesuatu yang nampak sederhana, tapi justru sangat fundamental: soal “bertanya”.

Di tengah maraknya penggunaan AI hari ini, ia mengingatkan bahwa kecanggihan itu tetap bergantung pada apa yang kita tanyakan. AI bekerja dari prompting. Maka, persoalannya bukan sekadar pada jawaban, melainkan pada kualitas pertanyaan itu sendiri.

Ia menulis, kurang lebih: hari-hari ini kita berlomba menemukan jawaban cepat lewat AI. Padahal, peradaban justru dibangun dari kemampuan bertanya—dari Descartes dengan Cogito ergo sum, hingga Al-Qur’an yang berkali-kali menggugat kesadaran manusia: afala ta’qilun, afala tatafakkarun. Tidakkah kamu berpikir?

“Semua dibangun dari konstruksi ‘questioning’ sebagai basis epistemologi,” tulisnya.

Saya tersentak. Seakan diingatkan kembali oleh tulisan saya sendiri: Epistemologi Keresahan dalam Gerakan Sebelum Terlambat. Syukur tak terkira wajib saya haturkan. Beginilah nikmat bermaiyah: diskusi yang kerap melebar, menjangkau lapisan-lapisan ilmu, pengetahuan, hingga pengalaman yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Termasuk juga soal tulisan itu sendiri—aktivitas menulis sebagai olah keresahan diri—yang tengah saya tekuni beberapa bulan terakhir. Saya menyebutnya sebagai aktivitas menjadikan resah sebagai ‘ilmu.

Maka, unggahan @indradwiprasetyo dapat saya jadikan sebagai Jalan Syukur dalam bentuk paling sederhana: menulis. Tak butuh kemewahan—cukup beli kopi hitam, ditemani air mineral, dan sisa rokok kemarin yang belum habis. Bermula dari situ, pertanyaan-pertanyaan yang semula liar tanpa arah, perlahan menemukan jalurnya.

Barangkali ada benarnya, questioning context, menurutnya, adalah kekuatan yang hari ini justru kerap diabaikan, diremehkan, bahkan dipandang sebelah mata. Ketika banyak orang sibuk mencari jawaban—melalui AI—mungkin kita perlu belajar menyusun pertanyaan yang lebih jernih: apakah pengetahuan kita masih relevan? Seberapa dalam laku spiritual kita? Dan sudahkah pengalaman hidup benar-benar kita pahami, bukan sekadar kita jalani?

Namun, saya juga menyadari sisi gelap lainnya: terlalu banyak bertanya bisa melelahkan pikiran. Bahkan mungkin bisa menjadi salah satu pintu depresi. Maka, menulis bagi saya adalah cara untuk menata ulang energi itu—agar tidak meledak begitu saja, tetapi mengalir ke arah yang lebih terang bendrang.

Meski, kalau jujur, kadang ada sisi “caper” juga: berharap ada yang datang bertanya kepada saya. Hehe.

Padahal, jika ditarik ke belakang, semuanya memang berawal dari pertanyaan. Termasuk lahirnya istilah: Kelana – Malio Bara. Yang saya sematkan di belakang nama saya dalam beberapa edisi tulisan. Sebenarnya itu juga bermula dari keresahan yang saya pertanyakan sekaligus pertanyaan yang saya resahkan.

Ceritanya bermula dari sini:

22 Februari 2026, saya membuat status WhatsApp. Tampak foto motor Megapro lawas, dengan helm merah nangkring di atas tangkinya. Motor itu berdiri di depan sebuah pohon, dengan plakat bertuliskan:

IBRAHIM DATUK TAN MALAKA

TUAN RUMAH tak kan berunding dengan MALING yang menjarah rumahnya.

Saya lalu memberi caption: “Jare guru Ainu, perlu ganti jeneng: tualang.”

Dari sana, percakapan saya dengan Pak Sunarno Mahanani Kediri bergulir. Ia menyarankan nama lain: Kelana. Lalu dari DUlur Ainu muncul sambungan: Mbara. Hingga akhirnya mengerucut menjadi: Malio Bara.

“Jangan. Di sini (Kediri—red) sudah ada yang menggunakan nama itu,” komentar Pak Sunarno Mahanani Kediri.

Saya menjawab, “Dari bincang santai kemarin, kelakar nama ‘tualang’ muncul dari dia.”

Saya tambahkan lagi, “Heuheuheu… Ada rekomendasi dari njenengan?”

“Hahahaha… Ya nek sing sepadan ya Kelana; Mbara,” balas beliau.

Percakapan di WhatsApp itu saya screenshot, lalu saya kirim ke DUlur Ainu.

“Wah cocok iku awokwokwok,” jawabnya cepat.

Mbara luwih cocok. Malio bara,” lanjutnya.

***

Perjalanan ke Ke(Diri) memang tak pernah ingkar janji. Itu yang saya rasakan—dalam perasaan, pikiran, dan pengalaman—setiap kali pergi ke sana.

Melalui konteks “pertanyaan” tersebut, saya mencoba mencari irisan—semacam benang merah—antara: pertanyaan, Tadabbur Daur, Kelana – Malio Bara, dan Ke(Diri). Dari situ, kemudian menurut yang saya rasakan, selaras dengan Temukan Firman di Jalanan.

“Saya pernah mendengar Pakde Brakodin menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Mbah Sot. Bahwa pada sejarah manusia, alam, dan kehidupan lebih tua usianya dibanding ilmu, meskipun alam dan kehidupan itu baru tampak wajahnya sesudah manusia menemukan ilmu di ruang kesadarannya. Kita tidak melakukan perjalanan menuju Allah dari terminal Al-Quran. Terminal keberangkatan kita adalah alam dan kehidupan, kemudian Al-Quran pergi menemani kita dalam perjalanan menuju Maha Pencipta dan Pemilik Alam dan kehidupan…” (Daur 1 – 267).

Cerme, Kamis 9 April 2026

 

Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)

JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.