Melawan Arus sebagai Takdir dan PR Bikin Buku
Menjelang penutupan Milad ke-9 Damar Kedhaton—sebelum Mahalul Qiyam dan Shohibu Baiti—Lek Hammad menegaskan bahwa nasib kita memang ditakdirkan melawan arus. Maka yang dibutuhkan bukanlah kekuatan semu, melainkan keteguhan lahir dan batin.
Sebagai bentuk ikhtiar kolektif, Lek Hammad memberi PR kepada Damar Kedhaton Gresik: menyusun sebuah buku berjudul “Setia Pada Proses”. Isinya adalah pengalaman subjektif dulur-dulur Damar Kedhaton.
Misalnya, kisah jarak tempuh dari rumah menuju Majelis Ilmu Maiyah Telulikuran Damar Kedhaton: bagaimana rasanya, apa saja yang dialami, dan pintu mana yang akhirnya membawa setiap orang sampai ke lingkar Maiyah.
Sebab, diakui atau tidak, setiap individu memiliki persentuhan yang berbeda dengan Maiyah. Memang banyak pintu yang bisa dimasuki. Dan setiap pintu menyimpan cerita resiliensinya masing-masing.
Ridho sebagai Orientasi
Lek Hammad kemudian mengingatkan satu hal yang sering terbalik dalam laku spiritual kita. Bukan soal bagaimana kita mencari ridho Allah, melainkan bagaimana kita selalu ridho terhadap ketentuan Allah yang diberikan kepada kita.
Untuk segala kesulitan, ujian, dan kegelisahan hidup, Lek Hammad menganjurkan untuk memperbanyak wirid:
“Ya Hadi… Ya Mubin…”
Sebuah ikhtiar agar langkah diberi petunjuk dan tabir-tabir kegelapan disingkapkan.

Kembali ke Akar
Menutup refleksinya, Lek Hammad mengajak kita untuk selalu kembali ke awal. Ketika merasa sudah berada di puncak, justru saat itulah kita harus mencari dari mana kita berasal. Mencari kembali kesederhanaan, niat mula-mula, dan ketulusan awal yang pernah menuntun langkah kita.
Di situlah sesungguhnya resiliensi paseduluran bekerja. Ia bukan tentang bertahan di tengah ramai, tetapi tentang tetap setia di tengah sepi. Bukan tentang keberhasilan yang dipamerkan, melainkan tentang proses yang diridhoi.
Milad ke-9 Damar Kedhaton, melalui pesan Lek Hammad, mengajarkan kita bahwa kekosongan adalah ruang sunyi, tempat di mana kesadaran dilahirkan kembali.
Cerme, 17 Desember 2025
Febrian Kisworo Aji
Redaksi Damar Kedhaton