Gizi Rohani sebagai Orientasi
Dari Malang, Mbah Yasin menguatkan apa yang sebelumnya disampaikan Abah Hamim. Ia menyoroti fenomena zaman yang terlalu menitikberatkan pada jasad dan materi. Semua itu memang perlu, tetapi tidak layak dijadikan orientasi utama.
Orientasi hidup, tegas Mbah Yasin, adalah akhirat. Dan yang dapat menyelamatkan manusia kelak adalah gizi rohani. Dalam konteks itulah, Tawashshulan yang dilakukan oleh Damar Kedhaton dan simpul-simpul Maiyah lainnya berfungsi sebagai kompas arah—penunjuk jalan agar langkah tidak melenceng terlalu jauh.
Energi yang Meluas
Mas Jufri dari Paseduluran Maiyah Pasuruan menyampaikan doa agar Damar Kedhaton di usia ke-9 ini mampu menyifati namanya sendiri. Energi Damar tidak berhenti di wilayah “kedhaton”, tetapi mampu meluas dan melebar sebagai resonansi—dari kadipaten, gubernuran, hingga nusantara.

Ia menegaskan bahwa kehadiran dulur-dulur di lingkar ini bukan karena kepentingan duniawi, melainkan karena diikat oleh paseduluran al-mutahabbina fillah. Paseduluran tanpa ikatan darah, tetapi dipererat oleh value Maiyah.
Kesaksian Resiliensi
Cak Onyeng dari Surabaya menghadirkan kesaksian personal. Ia teringat momen pertama kali melingkar bersama Damar Kedhaton di Balai Desa Iker-Iker Geger, Kecamatan Cerme. Ingatan itu bertaut dengan puisi yang dipersembahkan Cak Adib, yang diiringi petikan gitar Cak Gogon.
Dari perjalanan pergaulannya bersama dulur-dulur Damar Kedhaton—termasuk Wak Syuaib—Cak Onyeng bersaksi bahwa resiliensi Damar Kedhaton sungguh nyata. Ia tidak dibangun dari materi, melainkan dari kesetiaan, kebersamaan, dan kemampuan untuk terus berjalan meski dalam keterbatasan.
Paseduluran sebagai Laku Bersama
Sudah tampak jelas bahwa resiliensi paseduluran tidak lahir dari satu tokoh atau satu simpul Maiyah semata. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif untuk saling merawat, saling menguatkan, dan saling mengingatkan.

Milad ke-9 Damar Kedhaton sekaligus menjadi penanda bahwa paseduluran Al-Mutahabbina Fillah Maiyah bukan sekadar jejaring sosial, melainkan ruang laku hidup. Ruang di mana setiap jamaah yang hadir dengan caranya masing-masing, namun tetap menyatu dalam satu niat: berjalan bersama menuju Allah. Di situlah resiliensi menemukan bentuknya sebagai napas bersama yang terus dijaga.
Cerme, 18 Desember 2025
Febrian Kisworo Aji
Redaksi Damar Kedhaton