Demi Masa: Mlaku ke Dalam Tulisan (2)
(Jeda di Antara Kaffah Berguru kepada Mbah Nun)

Tulisan ini tidaklah lahir dari proses perumusan dan pemetaan yang rapi. Ia muncul begitu saja, dari naluri yang entah sejak kapan—dan coba saya rasakan—pelan-pelan menuntun langkah kaki. Ia bermula dari kegelisahan kecil yang tersisa dari tulisan sebelumnya. Ada perbedaan antara jalan dan jalan-jalan. Perbedaan yang sekilas sepele, namun terasa mengandung berlapis-lapis makna tersirat.
Jalan bukan sekadar bergerak atau berpindah tempat. Bagi saya ia adalah arah, kesediaan menempuh konsekuensi, dan keberanian menjalani proses. Sementara jalan-jalan kerap berhenti pada mobilitas: pergi, singgah, lalu pulang tanpa melibatkan proses dinamika perubahan batin. Dari kegelisahan itulah tulisan ini mulai melangkah kembali: Menjadikan Resah Sebagai ‘Ilmu.
Entah kenapa, naluri saya bilang untuk membuka caknun.com dan menelusuri kata kunci “jalan”. Dari sana saya bertemu tulisan Mbah Nun berjudul Jalan Pembelajaran. Saya membacanya perlahan, tanpa niat merangkum atau mengutip berlebihan. Saya hanya mencoba berjalan bersama tulisan itu, dan membiarkan makna bekerja di dalam diri.
Dari situ, rasa penasaran saya bergeser pada satu kata: tajalli. Seperti biasa, rujukan saya tetap caknun.com. Ada beberapa tulisan yang muncul di beranda Google pencarian saya: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli; Allah Bertajalli Padamu; Allah Maha Bekerja dan Bertajalli dalam Diri Kita; Majdzub; hingga Tawalli. Semakin dibaca, semakin terasa bahwa saya tidak sedang mengumpulkan pengetahuan, melainkan sedang dikumpulkan oleh pengalaman. Jujur saja, saya membaca hanya ala kadarnya: tidak sampai pada tahap memaknai, apalagi memahami.
Anehnya, di fase ini justru muncul keinginan untuk berhenti sejenak. Saya tidak langsung menulis lanjutan seri Kaffah Berguru kepada Mbah Nun. Bahkan saya sengaja menamai satu tulisan dengan subjudul “Jeda di Antara Kaffah Berguru kepada Mbah Nun”, dengan judul utama Mlaku ke Dalam Tulisan. Pada momentum ini, seolah ada “arahan” kepada saya bahwa berguru tidak selalu berarti terus-menerus berbicara, menulis, atau memproduksi pemahaman. Ada saat di mana berdiam sejenak—Belajar Jarak, Menunggu Jeda—menjadi metode belajar paling mahal di era banjir informasi.
Jeda itu bertepatan dengan perjalanan saya ke Semarang. Di sana, semua yang terbaca dan terendapkan justru mengkristal dalam bentuk puisi. Memang, ada banyak pengalaman batin-lahir yang beresonansi ke dalam diri saya. Pengalaman yang direspons oleh pikiran dan mendorong saya untuk menulis. Tetapi, ada semacam “bisikan” lain yang terdengar telinga saya. Karena itu, saya terus melanjutkan “jeda”. Maka, tulisan ini lebih tepat semacam upaya memasuki semesta Menepi ke Kehidupan Puisi.
—————————
Detak Detik di Semarang
Di Semarang waktu berjalan cepat
seperti orang dikejar setoran.
tubuhku ikut tergesa-gesa
berpacu kecepatan dengan waktu
Sudah otomatis tubuh payah dan lelah.
kusadari pula, suatu saat tubuh ini akan selesai dipakai
dan tanah akan menutupnya perlahan;
Tersisa kenangan yang dilupakan
momen di mana aku akan berhenti menulis
bukan karena tak mau, tapi karena kata-kata lebih dulu lelah.
kata-kata yang tidak dipahami, tidak dimengerti, dan diabaikan seperti angin lalu.
Di depan Stasiun Semarang Poncol, ada selokan
ikan-ikan kecil berenang tanpa tahu sejarahnya, mungkin.
airnya jernih
tak bertanya apa-apa.
Angin datang,
daun dan lumut
bergerak sebentar,
lalu diam lagi.
Tak ada yang memanggil,
tak ada yang menunggunya; dedaunan, lelumut, juga ikan-ikan.
Seorang tukang tambal ban
berteriak memanggil nasibnya.
Pagi dan sore di jalan,
siang entah ke mana; nyambi jasa servis elektronik panggilan, katanya.
Tukang ojek
duduk lama
bersama ponsel
dan harapan yang tak berbunyi; apalagi offline.
Truk-truk di Kawasan Industri Candi
terus lalu-lalang.
Tak tahu ke mana,
tak perlu tahu. Atau diburu target juragan
Orang-orang bekerja
agar bisa pulang.
Pulang
agar bisa bekerja lagi; mendaur waktu sedemikian rupa.
Atau meniru Mas-mas asal Bojonegoro
pagi diburu waktu; belanja mie mentah,
daging ayam, tepung, sayuran
malamnya mendarmakan tubuh dan pikiran
Makna
dicari di sela-sela itu.
Kadang ketemu,
seringnya malah tidak.
Namun, semua makna pasti lenyap
direnggut sang waktu.
Lumut di dinding, di sepanjang pagar stasiun
tumbuh sendiri.
Tak minta diperhatikan.
Tak kecewa
saat dilupakan.
Jika besok
aku masih ada,
aku ingin seperti angin saja:
datang sebentar,
pergi
tanpa penjelasan.
Doa ibu
mengikutiku
diam-diam.
Waktu
tak perlu bersumpah.
Karena waktu dijadikan sumpah langsung oleh Tuhan
“Demi Masa”
Ia tetap berjalan.
(Stasiun Semarang Poncol, 26 Januari 2026)
——-
Puisi di atas lahir begitu saja. Bagi saya, ia adalah buah dari “jeda” itu sendiri. Ia tidak mungkin mampu menjelaskan makna tajalli, tetapi barangkali justru menjadi salah satu bentuknya yang paling sederhana: ketika Tuhan tidak hadir sebagai konsep besar, melainkan sebagai waktu yang berjalan, orang-orang kecil yang setia pada hidup, dan kesadaran bahwa segalanya berlangsung tanpa perlu kita kendalikan—lewat ego dan ambisi pribadi.
Saya mulai belajar memahami sekaligus berupaya memperteguh makna, bahwa mlaku tidak selalu berarti melangkah ke luar diri. Ada saatnya ia justru menuntun saya menyelami ke dalam diri: ke tubuh yang mulai lelah, ke kata-kata yang diam, ke pengalaman sehari-hari yang kerap saya abaikan. Mungkin demikian, meski saya tidak berani bilang pasti. Apa yang saya alami semoga saja seirama, segelombang, dengan Jalan Pembelajaran, seperti yang pernah ditulis Mbah Nun.
Tulisan ini saya posisikan sebagai penanda penting dalam satu fase perjalanan hidup saya: ketika jeda dan kebingungan saya terima—apa adanya—sebagai bagian “lain” dari proses berguru itu sendiri. Selebihnya, biarlah waktu yang terus berjalan, sebagaimana sumpah yang telah diikrarkan-Nya sejak awal; Demi Masa.
وَالْعَصْرِۙ ١اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ٣
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr Ayat 1-3)
Maka Lewat Tulisan, Aku BerTuhan
Terima kasih, Rovi’ul Huda. Karenamu, saya wajib bersyukur dan meyakini diri ini tidak masuk dalam kerugian. Tepat pada Ahad malam, 25 Januari 2026, di sebuah rumah kontrakan perjuanganmu—Bringin Putih, Ngaliyan, Semarang Barat—saya memetik banyak ilmu dan hikmah. Sinau bareng tadabbur QS. Al-Maryam, dan QS Al-‘Ashr.
كۤهٰيٰعۤصۤۚ ١اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا ٣ ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّاۚ ٢
“Kaf Ha Ya ‘Ain Shad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria. (Yaitu) ketika dia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.” (QS. Al-Maryam Ayat 1-3).
Terima kasih juga sudah menampung gelandangan seperti saya: memberi tempat bermalam, makanan pecel tanpa lauk (beli online-red), serta pengajaran, pembelajaran, sekaligus pemaknaan tentang kehidupan. Sosok mas-mas asli Cah Bojonegoro, yang dulu kuliah satu jurusan dengan saya, Manajemen Dakwah di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kini bermukim di Semarang bersama istrinya.
Bismillah, terus berjalan dan belajar.
“Sinau iku merga awakmu butuh sinau. Karena Anda dianjurkan dan diwajibkan oleh Allah untuk sinau. Iqra’. Setiap hari itu iqra’, iqra’, iqra’. Makanya, iqra’ itu kita wujudkan dengan pendidikan, dengan madrasah. Madrasah itu dari kata dirasah. Dirasah itu artinya meneliti, riset. Sebenarnya, anak Maiyah itu nomor satu harus riset. Riset itu tidak persis seperti metodologi akademis yang pernah ada. Pokok’e awakmu duwe kesadaran riset,” dhawuh Mbah Nun.
Sontak, saya juga teringat Moeg. Karena itu, saya segera mengirim pesan WhatsApp kepadanya pada Kamis (29/01/2026).
Saya: “Alhamdulillah, ternyata tulisan ini menemukan jalan dan takdir-Nya sendiri.”
Saya: “Surat Al-‘Ashr dan Al-Maryam iku ta’gawe bahan sinau tadabburan Al-Qur’an bareng kanca kuliahku biyen, sing arek-e saiki manggon nang Semarang.”
Cerme, 27 – 29 Januari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.