
“HBD Ayah,” ucap buah hatiku yang bernama Natasya Oktavia Efendi.
Ia biasa kuakrabi dengan panggilan Asa. Arti Asa menurut KBBI adalah “harapan”. Mungkin itu caraku berdoa ketika memanggil nama Asa, semoga menjadi harapan kami sekeluarga.
“Enggeh Nak, makasih banyak ya!” jawabku.
Meskipun tanpa lilin, kue tar atau lainnya pun aku sudah bersyukur bahwa Asa sudah mengingatkan kapan pertama kali aku melihat dunia ini. Menurut Sang Ibu, “awakmu iku lair dina sabtu tanggal 15 bulan oktober.”
Aku lahir di kota Lamongan dengan permohonan Sang Mbah Lanang kepada Sang Ibu. bahwa setiap anaknya harus lahir di kota Lamongan. Menurut hitungan Jawa (weton), kelahiran Mbah Lanang dan meninggalnya beliau sama dengan kelahiranku. Sebenarnya masih banyak cerita yang belum tertulis prihal Mbah Lanang namun mungkin kapan-kapan bisa lanjut lagi.
Selain buah hatiku (Asa), dan beberapa orang dekat juga mengucapkan melalui pesan WA semacam “Yaumul Milad, semoga selalu dalam Rahmat Allah SWT”. Tak lupa Sang Garwa (Sigarane Nyawa) juga memberikan ucapan melalui pesan WA “Sugeng Ambal Warsa Bapaknya Anak-anak, Mugi Pinaringan Umur Panjang Lan Barokah, Mugi Sehat Selalu, Maturnuwun Sudah Menjadi Bapak yang Sabar Dan Gemati, Saya Dan Anak-anak Tidak Bisa Membalas Jasa Njenengan, Semoga Allah yang Membalas Kebaikan Njenengan”
Terima kasih untuk semua doa-doanya ya, orang-orang baik, salam sayangku untuk semua.
Apakah bertambah usia adalah kebahagiaan atau kesedihan?
Jika milad adalah sebuah kebahagiaan lantas kenapa ada kerisauan dalam hati. Usia semakin bertambah tapi aku masih saja seperti ini. Di bidang ekonomi, sosial dan agama, masih saja kalang kabut. Masih belum bisa bermanfaat untuk yang lainnya. Lantas seperti itu kah yang disebut kebahagiaan?
Jika milad adalah sebuah kesedihan lantas kenapa setiap milad selalu dirayakan dengan pesta besar ataupun pesta kecil-kecilan. Dengan gembira mereka menyanyikan tembang sesuai porsi masing-masing, ada yang lagu anak-anak sampai hip hop terkini. Apakah hal tersebut layak disebut dengan kesedihan?
Berbicara perihal milad saja aku sudah kalang kabut, sehingga mengganggu nikmat kopi hitam di depanku. Cuek sajalah. Ndak usah kepikiran yang aneh-aneh, yang penting hari ini sudah ngopi dan ngudud ae wes nikmat.
Hidup ini memang tidak sesimpel seperti kisah sinetron atau film kebanggaan kita saat kecil ; “Satria Baja Hitam”.
Satria Baja Hitam saja sudah bisa menempatkan situasi kondisi. Ketika mendapat lawan yang kuat dia berubah menjadi RX Robo. Ketika mendapat lawan yang lincah dia berubah menjadi RX Bio. Ketika mau menghancurkan musuh berubah menjadi hitam lagi dan mengeluarkan pedang matahari. Kita harus selalu menempatkan situasi, kondisi, ruang dan waktu.
Ketika mendapatkan sebuah keruwetan dalam hidup dan butuh arahan maka ada alternatif yaitu : Menurut almarhum Kyai Muzzammil “Semua itu ndak tentu.” Maka jangan gampang atau mudah memutuskan suatu hal-hal engkau anggap penting dalam hidupmu, semisal mengalami kebimbangan maka lakukanlah dengan istikharah.
Wabil khusus Almarhum Kyai Muzzammil…….. Al Fatihah.
Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota