Soft Energi

Sumber : https://images.app.goo.gl/zjPFTXKraMuZuDUh6

Pada pukul 21.05 Wib, suasana rumah  begitu tenang. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang menjadi pengingat waktu yang terus berjalan. Di depan kamar tidur aku menikmati segelas kopi dengan rokok mengepul, sementara di ruang tidur yang berukuran 2 x 2m itu terlihat garwa dan anaknya terlelap. Mungkin juga sedang bermimpi.

Aku yang tiap harinya ngeluyur dari pagi pulang larut malam bahkan terkadang subuh baru sampai di rumah, kini plonga-plongo dalam rumah. Memang sih aku berencana tidak keluar rumah seharian karena versi orang-orang hari ini adalah miladku dan khusus hari ini aku fokus bersama keluarga saja. Paketan data sesekali kumatikan agar tidak ada yang menghubungi.

Di dalam rumah serasa risau pingin keluyuran. Akhirnya kuambil keputusan untuk ngeluyur namun sebelum berangkat kupastikan anak dan garwa tidak tahu kalau Ayahnya ngeluyur. Ambil kontak motor langsung tancap gas ke warung milik sahabatku saat masih sekolah sampai sekarang. Bahkan kami juga sering bertemu saat kamis malam di makam Nyai Condrodipo. Beberapa bulan ini beliau (Mas Angga) sudah jarang bertemu saat kamis malam. Mungkin karena kesibukan dan usaha warungnya mulai berkembang.

Matanya berkaca-kaca ketika bertemu denganku, menandakan ia juga kangen dengan suasana gojlokan, pisuhan, maido, curhat-curhatan yang biasanya kami lakukan.

Kami memang tidak sedarah tapi kami bersaudara. Mas Angga belum pernah ikut Acara Majelis Padhang Bulan, acara Bangbang Wetan, hanyalah sekali ikut Majelis Damar Kedhaton saat Milad di Desa Ngebret waktu itu, namun Mas Angga sangat menghormati serta takdzim kepada Mbah Nun “Muhammad Ainun Nadjib”

Setiap harinya Mas Angga selalu berkirim Fatihah untuk Mbah Nun, meskipun tidak sedekat atau aktif seperti Jamaah Maiyah pada umumnya. Mas Angga hanya melakukan jamaah YouTube, baginya menyimak melalui medsos sudah cukup untuk memantapkan di hatinya bahwa Muhammad Ainun Nadjib adalah mursidnya. Bahkan beliau juga mungkin mempunyai janji spiritual dengan Mbah Nun secara ruh.

Mas Angga juga selalu respon ketika Damar Kedhaton berlangsung di wilayah kota, “Drem aku bantu opo iki?” kata itu yang sering terucap di mulutnya ketika wilayah kota punya hajat, padahal beliau tidak pernah datang ketika acara berlangsung.

Menurutku hal inilah kekuatan Maiyah yang Soft. Mas Angga hanya sebagian kecil dari energi Maiyah yang Soft, tidak nampak atau terekspos namun selalu support.

Salam sejahtera dan sehat selalu untukmu manusia-manusia Soft Energy, aku percaya masih banyak lagi manusia- manusia Soft Energy yang tidak nampak, dan yakinlah bahwa Mbah Nun merasakan serta mengetahui akan keberadaan titik koordinat Njenengan.

Maaf jika tulisan ini atau tulisan sebelum-sebelumnya kurang memenuhi hasrat serta minat pembaca, kami hanya ingin belajar menulis dan berkarya dari apa yang sudah kami dapat di Sinau Bareng Majelis Damar Kedhaton

 

Gresik, 16 Oktober 2024

Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota