FINO ALLA FINE: PERJALANAN LAHIR BATIN YANG TAK PERNAH USAI

FINO ALLA FINE: PERJALANAN LAHIR BATIN YANG TAK PERNAH USAI

(PART 6 EDISI 9 TAHUN DAMAR KEDHATON)

Menjembatani Lahir Menuju Tafakkur

Saya masih bertanya-tanya, bolehkah saya menyebut ikut FGD Ekosistem Sastra dalam rangkaian acara Sapa Sastra 2025 kemarin itu sebagai anugerah? Mungkin boleh. Atau bahkan memang sebuah kesadaran yang wajib saya munculkan. Sebab, rasanya terlalu “kebetulan” untuk disebut sebagai kebetulan. Seolah ada “tangan-tangan” tak kasat mata yang menuntun langkah saya bisa menuju ke lingkar kecil malam itu.

Saya tidak tahu persis, bagaimana penyelenggara—Yayasan Gang Sebelah—menyusun daftar nama-nama peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok kecil. Namun, ketika nama saya disebut dan dimasukkan ke kelompok kecil Studi Warga, saya bergumam lirih di hati, “Loh, kok pas banget. Ini yang saya butuhkan.”

Mungkin, andai saya ditempatkan di kelompok lain—Eksibisi atau Alihwahana—kedalaman ilmu, pengetahuan, dan batin yang saya dapat tidak akan sekuat itu. Ia mengakar di dalam kesadaran pikiran dan hati. Masing-masing kelompok kecil itu punya garis orbitnya sendiri, sehingga saya tidak bisa sepenuhnya bilang: kelompok Studi Warga adalah yang paling mbois. Sebab, semua punya jalan, fungsi, tugas, dan peranan masing-masing; kendaraannya berbeda, tetapi tetap dengan satu tujuan yang sama.

Bekal dari Mbah Nun

Sebelum malam itu, saya berulangkali mencoba men-tadabburi dua tulisan Mbah Nun: “Siap Bertanding Keluar”[1] dan “Jam’iyah Pengusaha Sorga”[2]. Dua tulisan itu saya anggap sebagai bekal spiritual sekaligus praktikal—peta nilai yang menuntun arah hidup saya belakangan ini. Bahwa penduduk Maiyah bukan sekadar “penikmat makna” kesegaran batin spiritual, tapi juga pe-laku kehidupan yang “siap bertanding keluar.” Tampil dengan mental kesatria di gelanggang dunia, tanpa kehilangan keseimbangan ruhani.

Dalam tulisan itu, Mbah Nun menjelaskan, JPS bukanlah sekumpulan pengusaha duniawi, melainkan sekumpulan manusia yang mengelola hidup sebagai ladang ibadah. Mereka menanam nilai, bukan hanya menanam modal yang bersifat duniawi. Dengan kata lain, saya sebut sebagai aktivitas “mengakherati” dunia. Mereka berdagang dengan Allah swt, bukan dengan dunia.

Bahwa, setiap diri, setiap keluarga, per-bagian atau semua JPS berusaha, berniaga, berdagang di dunia dengan tujuan dilimpahi rahmat, yang menurut Allah berupa Sorga. Tentu, bukan Sorga itu sendiri tujuan kehidupan JPS, melainkan Sorga sebagai perwujudan dari rahmat Allah swt, sebagai bentuk tawaran perdagangan Allah dengan manusia.

Sangat perlu diteguhkan keyakinan dan perjuangan untuk memastikan bahwa penduduk Maiyah tidak mengalami kesulitan rizki dan penghidupan, terutama kalau itu disebabkan oleh kekeliruannya sendiri di dalam memilih usahanya dan memperjuangkan pekerjaannya.

Mbah Nun membekali kita dengan merekomendasikan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Al Quraisy ayat 3 dan 4, Surat Ash-Shaff ayat 10 dan 13, Surat Al-Baqarah ayat 218 dan 254, dan Surat Al-Anfal ayat 74. Ayat-ayat Al-Qur’an tersebut difungsikan sebagai pintu masuk ke dalam pembenahan urusan perdagangan. Allah menciptakan manusia dan menawarkan kongsi bisnis kepadanya.

Bekal inilah yang kemudian makin meneguhkan keyakinan saya, yang saya jadikan sebagai pijakan saat memutuskan untuk mencoba melakukan transferable skills di J Cellular. Saya tidak sedang mencari “usaha”, melainkan terus belajar di laboratorium kehidupan. Logo konter servis HP itu terinspirasi dari Juventus—klub sepak bola asal Italia yang punya semboyan “Fino Alla Fine”.

Frasa tersebut kerap dikumandangkan para Juventini—penggemar Juventus—ketika berlaga. Dalam bahasa Indonesia, Fino Alla Fine mengandung terjemah: jangan berhenti sampai akhir. Tentu dapat diartikan begini, terus berjuang di lapangan hingga pertandingan benar-benar berakhir. Barangkali, memang seperti itulah hidup seharusnya dijalani: berikhtiar dengan kesetiaan sampai maut menjemput.

Sebelum mengambil keputusan itu—transferable skills di J Cellular, saya sempat sowan secara lahir batin ke dua dulur Maiyah, terutama yang beririsan dengan Damar Kedhaton Gresik. Dari mereka, saya belajar bahwa “sosok guru” tidak selalu berbaju atau berprofesi sebagai guru—sebagaimana pandangan guru dalam kacamata modern. Mereka saya anggap sebagai “guru” karena telah membimbing, memberi pemahaman, membuka kesadaran, sekaligus menerima “kegagalan” dalam konsep ambisi dan ego saya pribadi—bocah ingusan yang gemar riwa-riwi dan mencari inspirasi dari secangkir kopi.

Laboratorium Kehidupan

Transferable skills di J Cellular, setelah saya maknai, ternyata bukan hanya soal HP, sparepart, atau servis pelanggan. Ia adalah miniatur kehidupan modern—riuh, cepat, pragmatis, sekaligus melatih kesabaran diri. Di tengah dinamika arus transaksi dan seputar obrolan teknis, saya menemukan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, ketelitian, kedisiplinan, dan keuletan. Dari Cak Gogon, saya belajar tentang keseimbangan antara berpikir rasional untuk logika, berpikir romantis untuk rasa, dan berpikir taktis-pragmatis untuk menyusun strategi; model kognitif tiga spektrum framework ala Ir. Intan Pusvitasari ST, M.Si. Atau bisa dijelaskan sebagai berikut:

  1. Rasional, untuk memproses data dan logika kehidupan
  2. Romantis, untuk memelihara kedalaman rasa dan empati
  3. Taktis-pragmatis, untuk menavigasi konteks dan realitas sosial

Tiga lapisan ini, saya tadabburi sebagai bentuk tafakkur sejati: berpikir sambil merasa, merasa sambil bertindak. Dari situlah saya belajar bagaimana agar bisa menjadi manusia yang jangkep. Tidak hanya berhenti pada wilayah pandai menalar, tetapi juga berikhtiar peka membaca pola dan tanda-tanda alias ngreksa wasita sinandhi; pintu pertama yang saya buka untuk masuk ke dalam rumah Damar Kedhaton.

Perjalanan Tafakkur

Maka, ketika saya diundang—mewakili undangan Gresik Book Party—ke FGD Ekosistem Sastra Gresik dalam rangkaian acara Sapa Sastra 2025, saya membaca sekaligus merasa seperti sedang diperjalankan kembali ke “ruang belajar yang lain.” Kali ini bukan di J Cellular, melainkan di lingkaran sastra. Bedanya, laboratorium ini bukan di wilayah dunia bisnis, melainkan di dunia makna. Seperti tulisan saya “Catatan Dua Hari Jejak Reflektif Sapa Sastra 2025 di Gresik.[3]

“Apa saya memang perlu ikut forum semacam ini?” pikir saya. Keraguan itu bukan pada acaranya, melainkan pada diri sendiri—apakah saya masih pantas menulis dan berproses kreatif dalam ruang sastra?

Namun, ketika saya sadari bahwa pelaksanaanya jatuh tepat di hari Sabtu—hari libur—seketika membuat saya tertegun, terharu, dan bercampur rasa takjub. Rupanya, Sang Maha Berkehendak—saya maknai—telah menyiapkan jalan dengan cara-Nya yang paling indah. Sebab, tiga bulan sebelumnya, jadwal libur saya selalu Kamis. Baru akhir September lalu—seingat saya—salah satu teknisi dipindah ke J Cellular cabang Lidah. Jadwal libur saya bergeser ke hari Sabtu.

Sebuah momen kecil, mungkin tampak remeh, yang kemudian saya sadari setelah tulisan part ini mentas dari endapan beberapa pekan; bukan kebetulan, tetapi bagian dari rencana besar-Nya yang tak saya pahami sepenuhnya. Maka malam itu, 18 Oktober 2025, saya hadir membawa segenap tubuh, pikiran, dan hati yang kosong. Membuka ruang pikiran dan hati untuk menerima apa pun yang dikehendaki-Nya. Bagi saya, ini bukan sekadar kebetulan. Tetapi bentuk skenario-Nya “mengatur jadwal” agar saya bisa membaca ayat-ayat-Nya di luar Al-Qur’an. Ayat-ayat yang hadir dalam pertemuan antar manusia.

Acara FGD Ekosistem Sastra Gresik berlangsung dari sore hingga malam. Di peghujung rangkaian kegiatan, setelah menonton film karya teman-teman Gresik Movie, dada saya tiba-tiba terasa hangat yang menyejukkan. Ada sesuatu yang menggeliat kuat di dalamnya—janji yang pernah saya sampaikan kepada seorang teman pegiat literasi, Aji namanya, dalam forum Gresik Book Party pada 14 September 2025 di Kedai Kopi Melestari, Bringkang, Menganti.

Janji itu bukan perkara duniawi, melainkan tentang kejujuran dan niat baik. Tentang bagaimana menjaga ruang sunyi di tengah gaduhnya media sosial dan hiruk-pikuk identitas sebuah organisasi pelajar di Gresik. Saya sadar, malam itu Tuhan tidak sedang mengatur dan memperjalankan hanya untuk menonton film karya Gresik Movie semata, tetapi juga menepuk bahu secara perlahan-lahan sambil berkata, “Kamu masih punya janji yang harus ditepati.”

Maka, sepulang acara, dari Gresik Kota saya langsung bergegas menuju ke Balongpanggang, ke Ponpes Nurul Mubin Kubro; tempat di mana tema Cinta yang Sungguh-sungguh[4] dikendurikan dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-82 November 2023.

Tuntas “menepati janji”, saya menulis pesan panjang lewat WhatsApp untuk Aji. Pesan itu mirip doa: antara perasaan lega, haru, dan nikmat syukur. Saya menulis pesan itu, bukan untuk menjelaskan gaduhnya media sosial dan hiruk-pikuk identitas sebuah organisasi pelajar di Gresik. Pesan panjang itu dibuat dan dikirim untuk menenangkan sesuatu yang bergemuruh di dalam dada saya—tentang makna, kesunyian, dan perjalanan batin yang tidak lepas dari Poros Bangkalan – Jombang – Jogja[5].

Ziarah Batin dan Jalan Sunyi

Saya mencoba mengingat kalimat yang disampaikan Bu Dewi Musdalifah, pembina Yayasan Gang Sebelah, saat menutup rangkaian acara FGD Ekosistem Sastra Gresik. Tapi, saya akui pula tidak bisa mengingat persis susunan kata yang dituturkan, tetapi maknanya begitu melekat kuat di benak hati.

“Kesepian itu bukan karena tidak punya teman, barangkali kesepian itu muncul karena kita kehilangan arah dan makna di tengah bisingnya algoritma zaman dan teknologi yang serba cepat.”

Begitu kalimat itu saya dengar, rasa-rasanya seperti menampar kesadaran pada diri saya, sekaligus mewakili kondisi batin yang tengah saya alami. Sebab, saya pernah merasa berada pada titik tersebut. Terbuai oleh riuh-ramai di luar, tetapi diam-diam merasa ada kekosongan di dalam diri.

Bahwa, kita terlalu sering ingin terdengar atau didengar. Kita terlalu sibuk menulis, tetapi jarang membaca ke(diri). Padahal, ketenangan hanya bisa lahir dari sunyi. Dan, sunyi tidak pernah mengajarkan kita untuk mendua. Maka sejak malam itu, saya berjanji kepada diri sendiri, berusaha untuk terus belajar, perlahan-lahan untuk menyeimbangkan diri. Kalau gagal? Setidaknya saya sudah berjanji pada diri sendiri sekaligus belajar berjuang bagaimana menepati janji itu.

Fino Alla Fine

Dari J Cellular ke forum FGD Ekosistem Sastra Gresik, dari riuh-ramai dunia ke ruang tafakkur diri; saya belajar dan memaknai bahwa semua perjumpaan di dunia ini—dengan apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana—adalah bentuk lain dari ziarah batin, sekaligus menziarahi Poros Bangkalan – Jombang – Jogja. Ziarah kepada Mbah Syaikhona Kholil Bangkalan, Mbah Imam Zahid (pewaris cincin), Mbah Hasyim Asy’ari (pewaris kitab), Mbah Ahmad Dahlan (pewaris kitab), dan Mbah Romly Tamim (pewaris pisang). Barangkali tulisan ini juga lahir “kembali”, menemukan jawaban dan takdirnya sendiri.

Seperti doa saya berupa tulisan “Njoso, Majalah, Padhangmbulan”[6] pada 12-13 Oktober 2024 lalu, “Semoga, akan lahir tulisan-tulisan selanjutnya. Yang mencoba menjawab rangkaian teka-teki pertanyaan sekaligus pernyataan dari dalam benak pikiran saya.” Senapas dengan memperjuangkan nilai-nilai Poros Bangkalan – Jombang – Jogja, yang menanam akar-akar ilmu dan pengabdian hingga saya bisa berdiri pada detik ini juga.

Maka, saya mewajibkan diri mengirim Al-Fatihah untuk semua yang pernah saya temui. Kepada almarhum ayah saya, ibu saya. Kepada guru SD saya, Pak Dawam, yang pernah menugaskan membuat catatan di buku harian. Kepada Mbak Wiwit dan DUlur Ainu di ke(diri). Kepada Cak Fauzi di Damar Kedhaton, Mbak Wenda di Rumba Nusantara, Aji di Gresik Book Party, Cak Gogon di J Cellular, Ivan Priyambudi alias Bengbeng, Cak Madrim di tulisannya Hujan dan Shareloc, dulur-dulur Damar Kedhaton Gresik, dulur-dulur­ pe-laku Maiyah, dan siapa pun mereka yang tak bisa saya sebut satu per satu—yang setia menyalakan damar sunyi diri saya di dalam ruang rahasia Tuhan.

Saya tidak sedang menulis untuk dikenang, tetapi sedang belajar menanam tanpa henti. Sebab, urusan panen biarlah milik generasi anak cucu nanti; tugas saya hanya menanam, karena Lewat Tulisan Aku BerTuhan[7].

Maka, jika kelak ada nama-nama yang abadi dalam tulisan saya, bersyukurlah kepada Tuhan, bukan kepada saya! Sebab saya pun belajar bersyukur kepada-Nya, yang memperjalankan setiap kaki saya melangkah dengan siapa, kepada apa, bertemu di mana, pada momen bagaimana, kapan pertemuan terjadi; mempertemukan setiap jiwa, dan menanamkan nilai-nilai agar tidak hilang ditelan zaman yang kian awur-awuran. Fino Alla Fine!

Semoga Tuhan terharu. Dan, semoga setiap tulisan yang ditakdirkan lahir dari tangan ini adalah bentuk ziarah—kepada mereka yang lebih dulu menanam, dan kepada diri saya sendiri yang masih terus belajar memahami apa itu anugerah, fadilah, dan kesempatan hidup.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme

———————————————————————————–

[1] Artikel di caknun.com, diakses 11 November 2025

[2] Artikel di caknun.com, diakses 11 November 2025

[3] Artikel di klikmedianetwork.com, diakses 11 November 2025.

[4] Artikel di mymaiyah.id, diakses 11 November 2025

[5] Artikel di caknun.com, diakses 11 November 2025

[6] Artikel di damarkedhaton.com, diakses 11 November 2025

[7] Puisi di metafor.id, diakses 11 November 2025