Zikir Perjalanan 9 Tahun, Lewat Tulisan Aku BerTuhan
PART 9 (EDISI 9 TAHUN DAMAR KEDHATON GRESIK)

ORANG MAIYAH
“Berkumpul dan bekerjasama untuk menggali ilmu, mentradisikan pelatihan dan lelaku hidup, untuk mengurangi kecacatan diri mereka, serta menghindarkan diri dari melahirkan dan mendidik anak-anak cucu cacat (nilai).”
– Emha Ainun Nadjib –
Angka 9 bagi saya bukan hanya simbol belaka. Bukan hanya hitungan angka. Ia adalah napas panjang yang sudah tertahan lama—yang membuat hati saya bergetar hebat oleh sesuatu yang saya sebut sebagai Wasita Sinandhi. Ia mengisyaratkan bahwa setiap perjalanan panjang (entah waktu, usia, pekerjaan, komunitas, lingkungan sosial, ekonomi, dan seluruh aspek kehidupan) yang sudah penuh-memenuhi diri, perlu kembali direnggangkan; perlu “dikeluarkan” agar dapat “diisi” lagi.
Dalam ruang sunyi-senyapnya angka 9, ada getaran yang mengalir; ada aliran yang bergetar, mengingatkan saya bahwa “kepenuhan” bukanlah puncak akhir. Melalui tadabbur saya, sembilan adalah isyarat bahwa ada sesuatu yang memang “sudah saatnya”, tinakdir, “ditakdirkan oleh-Nya”, untuk dilepas, agar sesuatu yang baru menemukan jalannya.
Sembilan, dalam pemaknaan filosofis saya, adalah langkah “terakhir” sebelum pintu “baru” dibuka kembali dari sisi-sisi, ruang-ruang, dan cakrawala semesta yang tak pernah tersentuh keterbatasan akal manusia. Seperti seorang bayi yang menunggu sembilan bulan dalam rahim ibunya. Itu menjadi pesan bahwa semua kelahiran didahului oleh kegelapan; oleh rapat-sempitnya ruang, oleh sunyi yang membentuk tubuh bayi. Sembilan adalah simbol kandungan waktu.
Setelah angka 9 tibalah angka 0. Angka 0, yang sering disalahpahami sebagai kekosongan tanpa nilai guna, bagi saya justru ruang di mana segala bentuk ditanggalkan agar mampu mengenali dirinya sendiri. Ke(diri), berulang-kali. Angka 0 tidak bersifat diam atau pasif; ia adalah bentuk lain dari kesunyian yang terus bekerja di dunia nyata. Ia menyerap suara, menidurkan ambisi, merontokkan sisa-sisa yang—di luar kesadaran diri—masih menempel di pinggir kesadaran.
Di dalam “nol”, tidak ada “siapa”, tidak ada “apa”, tidak ada “untuk apa”. Hanya suwung: sebuah kesadaran ruang yang mempersilakan segala sesuatu hadir tanpa paksaan. Nol dapat dimaknai sebagai pelatihan diri untuk melepas; kemampuan memikul ketidakpastian tanpa menuntut jaminan. Layaknya kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa. Bagi saya, “nol” adalah ruang di mana diri berhenti menjadi “diri”, agar dapat mulai memahami kehadiran yang lebih luas dari sekadar definisi.
Jika perjalanan diteruskan ke angka 10, angka itu bukan sekadar kelanjutan bilangan. Ia adalah percakapan antara 1 dan 0. Seperti kesadaran yang berdiri tegak—wani tandang—berhadapan dengan kehampaan atau suwung total. Sepuluh adalah perjumpaan dua kutub yang saling menyeimbangkan: kehadiran kesadaran dengan pengosongan-kepasrahan—nerima ing pandum. Keseimbangan itu melingkar dan beriringan menuju titik terang. Sepuluh adalah nyawiji, manunggal (lagi): pertemuan antara kesadaran yang telah ditempa sepanjang perjalanan 9, dengan kelahiran kesadaran baru yang siap menampung dinamika keluasan kehidupan yang mendatang.
Karena itu, bagi saya, Milad ke-9 Damar Kedhaton bukan sekadar momentum seremonial dengan simbol potong tumpeng. Angka 9 menjadi penanda waktu untuk niteni bagaimana daya energi yang terhimpun dari kita—Jannatul Maiyah Damar Kedhaton—melalui pembacaan Ngreksa Wasita Sinandhi terus bekerja di balik ruang sunyi bahu kita masing-masing. Bagaimana rasa tidak enak, rasa kesulitan, beserta dinamika semesta batin dulur Damar Kedhaton—yang awalnya tampak mustahil dihadapi—perlahan menyimpan makna yang wajib saya refleksikan. Menjadi “alat” bagi saya untuk merawat keyakinan dan menumbuhkan ketahanan diri.
Semuanya itu lahir, terlahir, dan terbentuk dari perjalanan panjang yang kadang terasa menyakitkan; dari rapat-gelapnya batin ketika diuji; dari patahan-patahan jiwa yang tak tampak di permukaan. Energi itu tumbuh alami, pelan, sangat halus; dari perjodohan-pertemuan-kebetulan yang melingkar di antara ruang “diperjalankan” dan “dipertemukan”. Seumpama pertemuan yang tampak sepele oleh pandangan mata: hadir rutinan, melakoni tradisi yang diistiqamahi, berjumpa JM luar Gresik, dan seluruh lingkaran pengalaman—dengan syarat bahwa sangu nilai-nilai Maiyah terus diperjuangkan dalam olah cipta, rasa, dan karsa. Ia tidak dapat didefinisikan; bahkan mustahil diberi pelabelan.
Sampai detik ini, yang menjaga perjalanan itu tetap bernyawa dan bermakna adalah paseduluran Al-Mutahabbina Fillah. Tak perlu dideklarasikan atau dikampanyekan lewat open recruitment. Ia mengalir begitu saja—seperti sungai-sungai kecil yang tak terlihat di balik rimbun semak belukar di bukit Damar–Giri–Kedhaton.
Jalinan energi paseduluran itu diam-diam menjelma ruang pembelajaran sepanjang hayat: berdoa di dalam kerja, bekerja di dalam doa, mendoakan kerja, mengerjakan doa. Ia adalah iklim bahasa paling sunyi dari kejujuran ekspresi cinta. Yang membuat langkah-langkah kecil makin terasa dan bermakna karena selalu ada bahu yang merendah untuk saling menopang dan memikul beban kesadaran bersama.
Di situlah makna itu tinggal: di ladang kebaikan sejati yang tidak pernah mencari panggung dunia; pada ladang niat yang tidak menuntut untuk segera ditafsirkan; pada perjalanan yang terus bergerak meski tidak selalu diberi lampu. Bahan bakarnya diupayakan secara mandiri, dengan segenap kesungguhan hati—layaknya lampu damar.
Itu sebabnya bagi saya, usia ke-9 bukan akhir dan bukan awal. Ia justru ruang yang meluas: ruang jernih yang mempertemukan diri dengan jalan panjang yang telah dilewati sebelumnya. Ruang untuk menengok ulang apa yang sudah tumbuh, dan “menyiapkan” tempat bagi yang akan “lahir” nantinya.
Dan seperti angin, apa yang bekerja di dalam tubuh tulisan ini sulit dipahami. Tak ada gagasan yang jelas; meloncat sana-sini. Awalnya saya menulis: “saya ingin…”. Namun saya urungkan. Jika memakai kata itu, saya takut tergelincir pada ego dan ambisi yang tidak perlu. Maka saya tulis ulang: “saya berharap—bersemoga, mugi-mugi…” agar tulisan ini benar-benar bergerak seperti angin.
Tulisan ini juga seperti jumlah kedipan mata; ritme tarikan dan embusan napas melalui dua lubang hidung; kilogram demi kilogram makanan dan minuman yang masuk lalu diolah pencernaan; ragam bau yang tercium; spektrum rasa yang singgah di lidah. Semua itu ada, terus bekerja, namun jarang kita sadari secara penuh. Seperti gelap waktu, embusan angin, gerak ombak, laju awan—tak ada yang bisa merenggutnya. Ia muncul diam-diam seperti gelombang energi yang bekerja tanpa suara di dalam tubuh.
Bahwa angka 9 sendiri mengandung Wasita Sinandhi: puncak sebelum “kelahiran” kembali. Setelah sembilan, hitungan kembali ke nol. Di akhir tulisan penutup ini, ada bahan yang tiba-tiba saya tambahkan. Bahan itu saya dapatkan pukul 03.36 WIB dari sebuah tulisan berjudul…, mohon maaf, saya lupa.
Maka, menjabarkan maksud kenapa berulang kali saya tulis dan masukkan dalam tulisan esai serial saya menyambut 9 Tahun Damar Kedhaton Lewat Tulisan Aku BerTuhan, merupakan ikhtiar pemaksaan kepada diri sendiri untuk terus-menerus mengerjakan doa; mendoakan kerja; menulis dalam doa; mendoakan tulisan; berdoa dalam tulisan; menuliskan doa; bekerja di dalam doa; mengerjakan doa dalam setiap kata; mengerjakan kata dalam setiap doa; mengerjakan kata sebagai doa. Sebab di antara jeda, sunyi, senyap, dan kalimat yang menggantung sebagai ayat kauniyah di semesta jagad raya—maka lewat tulisan aku berTuhan.
Rabu, 26 November 2025 (18.00 WIB)
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme