Mukjizat dan Batas World View Manusia

Mukjizat dan Batas World View Manusia

(Part 2 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat)
Foto : Istimewa

“Sejak kapan Mukjizat harus selalu tampak luar biasa agar kita mau mengakuinya?” Demikian keresahan yang muncul saat saya nderes ulang catatan pribadi Bangbang Wetan edisi Maret 2024.

Keresahan itu kemudian saya olah kembali. Bermula dari pertanyaan Apa boleh rasa ingin tahu itu dimaknai sebagai Mukjizat era kini?

Dalam hal ini, saya meyakini betul bahwa rasa ingin tahu merupakan bentuk lain paling sempit dari pemaknaan terhadap kata “Mukjizat” itu sendiri.

Saat saya mencoba merumuskan dan membaca pola keresahan itu, ingatan lama mengajak mampir pada momen pelaksanaan Majelis ‘Ilmu Maiyah Bangbang Wetan di Gedung Pandan Sari, Jalan Raya Kandangan No. 19, Benowo, Surabaya, Selasa, 26 Maret 2024, dengan tema “Memeluk Mukjizat.”

Jamaah memenuhi seluruh sudut ruangan, bahkan emperan luar tidak luput dari perhatian. Tampak pula beberapa dulur Damar Kedhaton Gresik hadir di sana.

Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh hadir dalam kesempatan Sinau Bareng malam itu. Kehadirannya menggugah kesadaran sekaligus merombak cara pandang kita selama ini terhadap kata “Mukjizat.”

Selama ini, mukjizat sering dipahami sebagai fenomena yang melampaui batas akal manusia, peristiwa yang tidak bisa dijelaskan logika atau ilmu pengetahuan.

Padahal, mukjizat—dalam perspektif lebih luas—tidak selalu berwujud hal-hal spektakuler atau di luar logika. Ambil contoh handphone yang kini setia kita genggam sehari-hari.

Alat itu menembus batas geografis, memungkinkan komunikasi dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Fungsinya hampir mustahil diabaikan: kerja, komunikasi, koordinasi, dan berbagai aktivitas lain.

Bahkan, banyak orang rela berutang demi memilikinya; untuk anak sekolah, untuk bekerja, dan kebutuhan lainnya.

Bayangkan sejenak: handphone mulai dirilis dan berkembang begitu pesat. Nyaris tidak ada yang tidak memilikinya.

Mari kita tarik mundur ke abad-abad sebelumnya: 100 tahun, 1.000 tahun, 10.000 tahun, atau bahkan 100.000 tahun lalu. Jika orang-orang dari abad 17, 18, atau 19 menyaksikan fenomena ini, bukankah mereka akan melihatnya sebagai hal ajaib? Sebuah mukjizat modern.

Dalam kesempatan itu, Mas Sabrang menekankan bahwa mukjizat bukan untuk merendahkan atau meniadakan pemahaman kita (akal-red), melainkan sesuatu yang perlu dieksplorasi mekanismenya—yang beliau sebut mekanik.

“Apa definisi mukjizat? Menurut Anda, misal nih, jika ada orang telepon jarak jauh dari Jakarta ke Surabaya, itu gimana? Coba, itu anda terapkan di 1000 tahun yang lalu. Contoh lain ada korek api yang biasa kita gunakan,” jelas Mas Sabrang.

Beliau mengajak jamaah memahami mukjizat secara jangkep: definisi, makna, maksud, dan tujuan lebih jauh. Tujuannya, mengeksplorasi kata “Mukjizat” dalam skala yang lebih luas.

Dengan cara pandang ini, setiap peristiwa yang tampak ajaib bisa menjadi pintu untuk mengamati dunia lebih luas, berikhtiar memetakan rasa ingin tahu dengan tenang, bukan sekadar terpesona.

Menurutnya, bukan tentang meremehkan mukjizat, tetapi memahami bagaimana yang awalnya mengagetkan bisa menjadi biasa melalui proses normalisasi.

“Manusia itu punya mekanisme dasar di kepala, lalu di badan secara biologis yang namanya normalisasi,” paparnya. Artinya, sesuatu yang baru awalnya terasa mengejutkan, tapi lama-lama menjadi biasa saja.

“Saya tidak pengen merendahkan mukjizat, tapi saya pengen membahas mekaniknya. Agar kita bisa membahas lebih detail, dan diukur secara tepat,” papar Mas Sabrang.

Menurutnya, mukjizat terletak pada batas world view kita. Semakin terbatas pengetahuan, semakin banyak hal yang dianggap mukjizat.

Sebaliknya, semakin luas pengetahuan, semakin sedikit keajaiban yang muncul karena lebih banyak fenomena bisa dipahami.

Dengan demikian, mukjizat bisa menjadi jembatan mendekatkan kita kepada Tuhan jika dimaknai untuk memperluas pemahaman. Di sini, mukjizat bukan sekadar kejadian supranatural, tetapi cara kita memproses dan memahami pengalaman baru.

Namun, cara kita melihat dan memaknainya tetap pilihan masing-masing. “Jika mukjizat ada di sekitar kita, bagaimana kita memilih melihatnya?” Pertanyaan itu menutup tulisan ini sebagai ruang refleksi.

Cerme, 18 Desember 2025

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.